Selamatkan Indonesia dari Ashabul Fitnah

0
60

Di tengah masyarakat yang mudah meledakkan amarah dan aksi kemarahan, Saya teringat kembali pada satu nasehat penting yang disampaikan Prof. Dr. Taufiq Al-Buthi, Professor di Universitas Damaskus, Suriah. Beliau adalah  putra dari almarhum Syaikh Ramadhan Al-Buthi, ulama Suriah yang meninggal karena dibunuh pada Malam Jum’at (21/3/2013) saat sedang mengajar/ceramah di masjid Al-Iman Damaskus. Pengalaman kematian ayahnya dan kondisi Suriah menjadi pesan berharga yang ia sampaikan kepada beberapa negara, termasuk Indonesia.

 

 

 

Taufiq Al-Buthi menceritakan penyebab kekerasan dan kehancuran Suriah dari negara yang aman dan sejahtera menjadi negara penuh konflik. Penyebab paling penting yang disampaikannya adalah kehadiran ashabul fitnah. Kelompok ini merupakan ancaman kehancuran sebuah negara sebagaimana terjadi di Suriah.

 

 

Baca juga : Kisah Tukang Fitnah yang Hina

 

 

Sungguh berbahaya fitnah sehingga Alquran menegaskan ‘ Sesungguhnya fitnah itu lebih berbahaya daripada pembunuhan” (Qs. Albaqarah Ayat 191) . Fitnah bahkan telah meluluhlantahkan jalinan persaudaraan dan kekerabatan antar warga negara di Suriah. Mereka adalah kelompok ekstrim yang menggunakan fitnah sebagai senjata memecah belah warga negara dan merongrong ideologi dan dasar negara.

 

 

 

Bagaimana ashabul fitnah bekerja. Pertama, ashabul fitnah dicirikan dengan pola pikir dan tindakan yang mudah mengkafirkan kelompok yang berseberangan baik dalam aspek pemikiran keagamaan dan ide politik. Kedua, kecenderungan untuk membelah masyarakat berdasarkan aliran (mazhab) dan identitas keagamaan. Ketiga, mulai membunuh karakter ulama dan tokoh agama moderat karena dianggap menjadi penghalang bagi distribusi aliran fitnah dan cita-cita politik keji mereka (Iqbal Ahnaf, 2016).

 

 

 

Di Indonesia ciri dan karakter kelompok ini bukan tidak ada sama sekali. Bibit-bibit itu muncul dari sekelompok kecil masyarakat yang mudah mengkafirkan mereka yang tidak sepaham dalam pandangan agama, bahkan pandangan politik. Term kafir diluaskan kembali tidak hanya kepada non-muslim, tetapi dengan mudah mengkafirkan saudaranya.

 

 

 

Kecenderungan kedua, ada sebagian kelompok yang mulai mengentalkan pembeda masyarakat berdasarkan madzhab dan keagamaan. Dulu, masyarakat sangat mudah menerima perbedaan aliran bahkan agama. Payung Pancasila menjadi cara pandang yang mendasari kehidupan bernegara. Namun, akhir-akhir ini sungguh miris, masyarakat mudah termakan isu karena perbedaan pemikiran dan agama.

 

 

Baca juga : Hoax dan Propaganda Sama dengan Fitnah

 

 

 

Kecenderungan ketiga dan sangat umum terjadi adalah pembunuhan karakter ulama yang memiliki pandangan moderat. Banyak ulama yang menampilkan ceramah yang sejuk dan menjaga perdamaian bangsa dibully, dicaci maki, bahkan dituduh dengan identitas tertentu semisal liberal, syiah bahkan komunis. Ulama-ulama ini dianggap penghalang bagi mengalirnya pemikiran fitnah.

 

 

 

Sungguh pelajaran berharga bagaimana negara di Timur Tengah terkoyak karena konflik bersaudara dalam satu negara karena ashabul fitnah harus menjadi pelajaran terbaik bagi bangsa ini. Irak dan Suriah adalah negara gagal sebagai korban dari para pemangsa bernama ashabul fitnah. Mereka muncul membuat keributan, anarkisme dan kekerasan brutal di tengah situasi politik dalam negeri yang mengalami anomali. Fitnah mudah menyebar dengan membenturkan dan merusak persaudaraan seagama, antara agama dan warga negara.

 

 

 

Umat Islam dan seluruh warga negara harus segera menyadari bahaya fitnah yang bisa menggerogoti persaudaraan bangsa ini. Masyarakat mudah tersulut hanya dengan gambar dan video yang menggugah pembelaan terhadap identitas agama, suku, dan etnis tertentu. Kabar bohong disebar begitu mudah sebagai bahan fitnah dan merusak persatuan.

 

 

 

Kebohongan adalah sumber bencana. Kebohongan adalah alat ashabul fitnah untuk merusak ketentraman dan kedamaian suatu negara. Ketika Rasulullah ditanya oleh seorang sahabat  Bagaimanakah semestinya secara umum sikap seorang mukmin? Rasulullah menjawab bahwa orang mukmin itu tidak akan berbohong”. Almawardi mengatakan bahwa dusta itu adalah akumulasi dari semua keburukan dan sumber segala kejelekan karena dampak dan hasilnya yang begitu jelek “

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here