Menyelam dalam Lapisan Jiwa

0
45

Setiap agama pasti membawa pesan perdamaian sebagai fitrah ajarannya.Karena hakikat agama hadir sebagai media aktualisasi diri melalui ritualitas keagamaan yang bersifat individu,maka pesan damai harus selalu digairahkan oleh setiap umat beragama.Sebab perdamaian adalah salah satu roh agama.
Pada pertengahan Agustus 1993 silam terjadi konflik bersenjata antara aparat keamanan dengan sekelompok warga Gunung Seureuh,Jawa Barat di bawah pimpinan Abdul Manan yang di sinyalir mengembangkan “sekte keagamaan” tertentu.
Peristiwa Gunung Seureuh itu muncul karena adanya dua pihak yang terlibat konflik yang satu merasa dirugikan bahkan diancamoleh yang lain.Kriteria apakah yang dipakai sehingga tiba-tiba muncul vonis bahwa mereka itu disebut “aliran sesat”? bukankah kata “sesat” begitu mudah muncul dari pihak yang tidak senang,terlepas dari siapa sesungguhnya yang sesat itu?
Sesuatu yang dianggap tidak bijak karena menggunakan kekerasan dengan kekuatan persenjataan kepada orang pedalaman.Kekhawatiran antara kebodohan dalam beragama dan keangkuhan oknum bersenjata yang merasa memiliki kekuasaan politik telah menutup hati nurani.
Iklim politik serta keberagaman yang semakin kompleks dapat mengakibatkan konflik bersenjata dengan sesama warga sendiri.Tindakan tersebut telah mencoreng hak asasi warga.
Jadi persoalan keyakinan adalah hak individu dan agama mengajarkan untuk menghargai keyakinan orang.Tentu saja kita harus berpegang teguh kepada landasan pancasila dan UUD ’45 dalam konteks berbangsa dan bernegara.
Agama kadang menjadi komoditi yang laris untuk melanggengkan tindak kekerasan.Korban tindak tanduk oknum yang mengatasnamakan agama telah banyak terjadi di berbagai pelosok dunia.Kasus ekstremisme di timur tengah menjadi contoh ketika agama di gunakan sebagai langkah pembenaran semu.
Indonesia sebagai negeri majemuk,harus menyadari tentang potensi perpecahan yang akan melanda negeri ini.Relasi dialogis antaragama harus terjalin erat dalam harmoni perbedaan keyakinan.Perbedaan suku,agama,ras telah menjadi pelangi yang mewarnai kehidupan.
Dalam beberapa waktu terakhir,terdapat sejumlah kasus yang dapat menjadi alarm keberagaman kita.penyerangan di gereja santa lidwina Yogyakarta,tindakan persekusi biksu Mulyanto di Tangerang.Sementara di Bandung Pengurus Persis HR Prawoto dianiaya hingga meninggal dan pengurus pondok pesantren al hidayah KH Umar Basri juga menjadi korban penganiayan.
Kejadian ini telah merobek benang kebangsaan yang telah di jahit dengan susah payah oleh para pendiri bangsa. Ekstremisme dan radikaslime memang cenderung merugikan kepentingan umum.
Politisasi agama menjadi iklan yang laris kepada masyarakat.Langkah absurd politisi busuk dengan mencaplok ayat dan hanya menguntungkan pihaknya telah mencoreng keindahan kalam ilahi.Pemilihan umum menjadi ajang untuk memainkan isu-isu sensitif ke permukaan seperti agama,suku dan ras.
Paradigma truth claim (klaim kebenaran) yang terus menerus menghinggapi pikiran setiap pemeluk agama mengakibatkan mereka saling menegaskan diri bahwa hanya agama merekalah yang paling benar ,sedangkan agama yang lain salah dan menyesatkan.
“aku telah kafir dari agama allah,bagiku kekufuran adalah wajib,dan itu buruk menurut umat muslim”.
pernyataan itu dilontarkan oleh ibn manshur al-hallaj karena maraknya tuduhan kafir yang ditujukan kepadanya oleh orang-orang sezamannya,meskipun sebagian yang lain menganggapnya sebagai seorang wali(kekasih allah).
Al Hallaj berkata kepada Ibrahim bin fatik ,”wahai anakku ,sebagian orang bersaksi bahwa aku adalah kafir.Sebagian lagi bersaksi bahwa aku adalah wali(kekasih allah).
Mereka yang bersaksi bahwa aku kafir adalah orang-orang yang lebih dicintai dan disukai oleh aku dan allah.Daripada mereka yang menggangap bahwa aku adalah wali.”
Ibrahim bin Fatik berkata “kenapa demikian,wahai tuan guru?”Al-Hallaj menjawab,” sebab orang-orang yang bersaksi bahwa aku adalah wali,itu karena mereka “baik sangka” mereka terhadapku.
Sementara orang-orang yang bersaksi bahwa aku kafir itu dikarenakan kecintaan dan fanatisme mereka terhadap agama mereka.Orang yang mencintai dan fanatik terhadap agamanya,maka aku dan allah lebih mencintai orang itu daripada orang yang berbaik sangka kepada seseorang”.
Jelaslah bahwa tuduhan ‘kafir’ sebagaimana disinggung oleh al hallaj di atas dikarenakan fanatisme agama.
Fanatisme yang awalnya adalah perasaan di alam sadar manusia ,setelah diperkuat oleh berbagai doktrin para ulama garis keras atau tokoh agamawan menggerakanya untuk menentang sekaligus berupaya melenyapkan seluruh doktrin,pemikiran dan agama yang berbeda.
Fanatisme adalah paham yang melakukan penolakan terhadap representasi.Bentuk paling eksplisit dari penolakan ini adalah ikonoklasme(kebencian dan perusakan terhadap ikon dan citra)..
Fanatisme yang lahir dari ketidakpercayaan diri untuk menghadapi perbedaan pikiran ,merendahkan kemulian bani adam.Kebebasan beragama tanpa kekerasan merupakan unsur konstitutif .Menjaga martabat manusia lebih penting dari semua hambatan suku,agama,ras yang mengotak-ngotakan kemanusian.
jika ini terus di biarakan bukan tidak mungkin agama akan menjadi busuk. Menurut charles khimbal ada lima hal yang bisa membuat agama busuk dan korup.
pertama bila agama mengklaim kebenaran agamanya sebagai kebenaran mutlak.Bila hal ini terjadi,oknum yang mengatasnamakan agama akan membuat apa saja untuk membenarkan dan melegitimasi klaim kebenarannya.
Kedua adalah ketaatan buta kepada pemimpin keagamaan mereka.Kimball memperingatkan supaya berhati-hati terhadap gerakan agama yang bertentangan dengan akal sehat.
Ketiga adalah pengikut agama mulai gandrung merindukan zaman ideal lalu bertekad merealisasikan zaman tersebut ke dalam zaman sekarang.
Keempat adalah apabila agama tersebut membenarkan dan membiarkan terjadinya “tujuan yang membenarkan cara”.
Kelima,meningkatnya sikap ekslusif di antara berbagai agama.Jika hal tersebut di biarkan dapat meniadakan agama-agama.
Kejadian seperti itu mengingatkan kita dengan apa yang terjadi saat ini.Melalui rangkaian kata-kata yang memikat,oknum agama mengobarkan tuduhan kepada pihak yang tak sejalan dengan pemikiran mereka.
Hal tersebut dapat mengguncang gejolak perasaan masyarakat yang merasa tertuduh.Tak hanya di situ jika ini dibiarkan gejala ekstremisme hingga kekerasan dapat menjalar dan menjangkiti pola pikir khalayak umum.
Semakin kuat hegemoni informasi yang mengandung ekstremisme,semakin kuat bangsa ini akan mengalami disintegrasi sosial.Kenyataan tersebut akan menguatkan kekerasan mengatasnamakan agama.
Dalam beberapa tahun terakhir ,represi masyarakat terhadap kebebasan sipil menjadi fenomena umum.ancaman baru muncul berupa kekerasan oleh kelompok-kelompok intoleran.Emosi seketika menghinggapi jalan pikiran mereka tanpa memikirkan jangka panjang atas tindakan yang dilakukan.
Ada sejumlah faktor yang dapat memunculkan benih sikap ekstrim di antaranya lemahnya pandangan terhadap hakikat agama,banyaknya kaum beragama yang tidak menguasai substansi ajaran agama,lebih-lebih mereka yang tidak paham akan roh perjuangan agama mereka.
Walhasil mereka mudah sekali di provokasi dan di peralat dengan mengatasnamakan agama.
Disini kita coba menyederhanakan fenomena ekstremis sebagai berikut :
warga baik (pelaku),merakit bom (program),untuk diledakan bersama tubuhnya(program),agar ratusan orang terbunuh (karya),sinyal perlawanan kepada USA(tujuan politis),masuk surga(spritual).
Pelaku biasanya tidak di kenal lingkungan.Muncul pertanyaan kenapa pelaku ekstremis melakukan tindakan kekerasan tatkala ia juga memiliki hati nurani? Bagaimana kondisi manusia ketika melakukan kekerasan terhadap agama?manusia adalah makhluk yang mudah tergoda.Kekerasan juga dapat menggoda manusia.
Dari berbagai aksi teror konkret atas nama agama di berbagai kasus kita bisa menangkap pola epistemolgis,antropologis politis yang universal.Kekerasan atas nama agama tidak sepenuhnya cara berpikir para pelaku teror,melainkan penataan struktural dalam masyarakat dewasa ini membuahkan aksi teror.Pelaku kekerasan sejatinya telah di persona oleh kegelapan.
Kita tidak ingin terjadinya globalisasi kekerasan sehingga menjamur teror yang mendunia.Sejatinya demokrasi juga memungkinkan adanya aksi teror.Ini juga memunculkan risiko-risiko tindakan intoleran dan kekerasan.
doktrin agama dapat menjadi tujuan eksistensial bagi para pelaku termotivasi untuk melakukan kekerasan dengan ganjaran sesuai agama yang ia anut.
Kekerasan atas nama agama adalah persoalan klasik.Target akhir bukan hanya mengancurkan kelompok minoritas atau agama namun penghancuran peradaban dunia yang hegimonial.
Tidak menutup kemungkinan agama menjadi kendaraan untuk melakukan pembenaran.Dunia ini di anggap sudah buruk dan perlu di hancurkan.Pertanyaan kenapa manusia rela mati untuk menjadi ‘pengantin’ bom bunuh diri? karena ini menyangkut persoalan metafisis.
Jadi kalau begitu, Upaya apa untuk mencegah dan melawan narasi radikalisme? Menurut hemat penulis, ekstremisme dan radikalisme bisa di redam melalui pemahaman agama yang mendalam.Harus adanya tokoh moderat atau sentral yang menjadi contoh sehingga dapat membawa keharmonisan.
Mendudukan orang yang berada di luar pemahaman dan keyakinan kita sebagai sesama makhluk Tuhan adalah pekerjaan rumah paling besar kita semua.Alasan menghargai kemausia adalah argumentasi paling paripurna untuk menumbuhkan sikap menghargai terhadap mereka yang berbeda pemahaman.
Agama tidak boleh mengalami pengerasan,ajaran serta warisan karena dapat mengakibatkan runtuhnya sikap toleransi.Indonesia banyak di puji dunia sebagai komunitas muslim yang paling menjanjikan menawarkan solusi perdamaian.
Cinta kasih dan toleran jangan kita artikan sebagai sikap lemah dalam beragama.orang yang memiliki kepercayaan diri akan kebenaran agamanya serta keluasan ilmunya bisa berbuat toleran dan harmoni kepada kelompok agama lain.
Mengorbankan diri sendiri untuk tindakan yang radikal adalah sesuatu yang tidak rasional.Sejatinya eksistensi kita menjalani hidup dengan baik bukan mengkhiri hidup dengan tindakan ekstremis.Kita harus melawan pikiran ekstrem dengan pikiran moderat karena dengan begitu dapat meminimalisir gerakan radikal.
Terdapat sekurang-kurangnya 4 soal yang perlu dipikirkan secara bersamaan dalam setiap penyelesian ekstremisme dan kekerasan atas nama tuhan.
pertama adanya tindakan untuk meredam dan membatasi ekstremisme ,sehingga tidak mengeras dalam intensitasnya.kedua adanya bantuan yang cepat untuk menolong orang-orang yang menderita karena tindakan radikal dan kekerasan.
ketiga adanya tindakan mengawasi dan membekukan para aktor yang dengan sengaja membuat situasi panas ,meniup-meniup ketidakpuasaan yang ada dan mendorong untuk terlibat kekerasan dengan kelompok sosial lainnya.
keempat adanya usaha pengembangan dan pemberdayaan masyarakat yang menjadi korban kekerasan.
Menutup tulisan ini saya ingin mengutip pernyataan dari sahabat ali karramallahu wajha seorang sahabat nabi saw : “ mereka yang bukan saudaramu dalam seiman,adalah saudaramu dalam kemanusian”
qureta.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here