Penyalahgunaan Gelar Ulama

0
156

Belum pernah sebelumnya istilah ‘ulama’ sedemikian peliknya. Selama ini, istilah ‘ulama’ diterima dan dipakai begitu saja karena diasumsikan maknanya telah baku dan semua penggunanya bersepakat dengan makna itu. Namun kini, tiba-tiba istilah ‘ulama’ begitu membingungkan. Jika istilah ‘ulama’ adalah sebuah penanda (signifier), petandanya (signified) tiba-tiba tidak semudah yang dibayangkan.

Saat ini, tiba-tiba siapa saja bisa menjadi atau tidak menjadi ulama. Dalam situasi seperti ini, siapa ulama menjadi tak jelas. Seseorang yang selama ini diakui sebagai seorang ulama berdasarkan keterpenuhan syarat-syarat tradisionalnya—putra kiai, kedalaman ilmu agamanya, pengakuan sosial—bisatiba-tiba dibreidel status keulamaannya hanya karena, misalnya, tidak sekubu dalam politik. Sementara itu, orang yang selama ini sama sekali bukan siapa-siapa tiba-tiba didaulat menjadi ulama dan dielu-elukan karena berada dalam kelompok politik yang sama.

Istilah ‘ulama’ sesungguhnya bentuk plural dari ‘alim, yang artinya orang yang berilmu atau pakar. Sekalipun beberapa ahli menyebut bahwa kualifikasi seorang ulama tidak hanya kepakarannya dalam ilmu agama tapi juga ketaqwaannya kepada Tuhan, namun bentuk generik dari istilah ‘alim atau ‘ulama’ merujuk pada kepakaran dalam bidang ilmu.  Dalam penggunaan sehari-hari, istilah ‘ulama’ diperlakukan sebagai bentuk tunggal, dan diartikan sebagai tokoh agama Islam yang menguasai ilmu-ilmu keislaman. Sementara itu, istilah ‘alim’ sendiri lebih dibebani dengan konotasi kesalehan.

 

menyaksikan apa yang disebut dengan ‘matinya keulamaan’ dalam bidang agama. Matinya keulamaan merujuk pada situasi di mana kompetensi keulamaan tidak lagi bernilai apa-apa karena semua orang, hanya karena berani berbicara agama,mendaulat dirinya, atau didaulat,sebagai ulama. Tidak ada lagi batas orang alim dan awam, ustadz dan murid, kiai dan santri. Seakan, semua orang hanya karena memiliki hak berpendapat dan bersuara dalam masalah agama memiliki bobot kesahihan yang sama dengan ulama atau ahli agama. Atau, tiba-tiba seseorang disebut sebagai ulama sekalipun sama sekali tidak memiliki kualifikasi apapun kecuali penampilan fisik dan keberanian berbicara tentang agama di ruang publik.

Membicarakan keulamaan atau kompetensi seorang ulama sama sekali tidak berarti menolak kebebasan dalam berpendapat atau mengakses informasi dalam persoalan agama. Akan tetapi, kebebasan berpendapat dalam bidang agama sepenuhnya berbeda dengan kompetensi dalam bidang agama.

Memang benar bahwa seorang ulama atau pakar dalam bidang agama bisa saja keliru. Ini bukan sesuatu yang aneh dalam dunia ilmu pengetahuan. Tidak satu pun ilmuanyang mengklaim bahwa kebenaran ilmu bersifat mutlak. Begitu juga para ulama. Misalnya, Imam Syafi’i, seorang ahli hukum Islam dan pendiri fiqih mazhab Syafi’i pernah menyatakan, “Pendapatku benar, tapi bisa jadi salah; dan pendapat selainku itu salah, tapi bisa jadi benar”. Pandangan Imam Syafi’i ini adalah pengakuan bahwa kebenaran ilmu, termasuk ilmu agama, tetaplah bersifat nisbi. Karena itu, Imam Syafi’i tidak segan merevisi pendapat hukumnya sendiri setelah dia menginsafi adanya konteks yang berbeda.

 

Memang, semua orang berhak berpartisipasi dalam dialog di ruang publik. Tapi, diskusi ilmiah selalu memiliki batas-batas areanya. Hal ini bukan karena ada elitisme kelompok ilmuan, tapi lebih karena setiap bidang ilmu mempersyaratkan pengetahuan dan keahlian bagi siapapun agar bisa berbicara di dalamnya. Aturan main ini berlaku pada semua bidang ilmu, mulai persoalan mesin motor hingga masalah agama. Ini menyangkut tentang kompetensi. Sama seperti tidak setiap orang yang berbicara tentang sebuah kasus hukummesti memiliki kualifikasi untuk menjadi seorang pengacara atau jaksa atau hakim.

Ketika keulamaan dibununh, setiap orang akan merasa dirinya sebagai ulama. Jika situasi ini dianggap memperihatinkan, ada yang lebih membahayakan, yaitu saat publik menghina kompetensi keulamaan dan memegangi pendapat orang-orang yang sebetulnya sama sekali tidak memiliki kompetensi di bidang ilmu agama. Seperti keyakinan terhadap bumi datar dan penolakan atas vaksin yang menjadi penanda dari matinya kepakaran di bidang sains, matinya keulamaan membawa umat pada pembenaran terhadap pendapat-pendapat kegamaan receh yang keluar dari mulut orang-orang yang sama sekali bukan pakar di bidang ilmu agama. Di era matinya keulamaan, ceramah orang yang hanya tahu memaki orang bisa menjadi panutan dalam berakhlak dibanding nasehat seorang kiai yang menguasai hikmah tasawuf Islam.

Sumber : NU Online

#muslimsejati

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here