Islam Agama yang Pemaaf dan Toleran

0
86

Anjuran Memaafkan dalam Islam

“Jika seseorang menghina dan mempermalukanmu dengan sesuatu yang ia ketahui ada padamu, janganlah engkau membalasnya dengan sesuatu yang engkau ketahui ada padanya. Akibat buruk biarlah ia menanggungnya” (HR. Abu Daud dan Turmudzi)

Bukanlah sikap terhormat bila membalas kejelekan dengan kejelekan yang sama. Karena akan membuat jarak semakin jauh. Hanya menyisakan sikap permusuhan yang taka berujung. Dalam Islam, perdamaian suatu keharusan dan sunnah untuk selalu memaafkan.

Rasulullah sebagai pembawa misi agama ini selalu menampilkan Islam sebagai agama yang hanif; memaafkan dan penuh toleransi. Maaf adalah cara yang paling mengesankan dengan menghapus keburukan dengan kebaikan. Tidak perlu membalas keburukan dengan keburukan yang baru. Allah memuji mereka yang pemaaf, yaitu orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan kesalahan orang lain.

Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Sebagaimana dalam firmanNya: Atinya: “yaitu orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”(Ali Imran; 134) “Dan pema’afan kamu itu lebih dekat kepada takwa. Dan janganlah kamu melupakan keutamaan di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha melihat segala apa yang kamu kerjakan.” (al Baqarah; 237)

Anjuran untuk memaafkan di sini hanya semata menjaga hubungan baik, dengan mereka yang seagama maupun agama lain dengan tetap memperhatikan unsurmaqasidus syari’ah. Selama masih dalam batas hubungan kemanusiaan, memaafkan lebih utama.

Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara Dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. (al Fusshilat; 34).

Toleransi dalam Islam

Toleransi bukanlah suatu sikap untuk menegaskan bahwa semua agama benar, tetapi hanya meyakini pluralitas sebagai sunnatullah. Keragaman adalah suatu keniscayaan yang memang diciptakan oleh penguasa tunggal. Karena itu, praktik amar ma’ruf nahi mungkar harus semata menjalankan perintah Allah dengan cara yang arif tanpa mengesampingkan realitas keberagaman.

Hal penting yang harus dilakukan oleh umat Islam adalah memperkuat keyakinan. Terutama dalam masalah tauhid. Tidak ada tawar menawar soal ini. Keyakinan ini harus tertanam kuat dalam setiap pribadi muslim. Sehingga tidak tergoyahkan oleh kondisi apapun. Rasulullah membina keyakinan umat Islam sewaktu di Makkah saat para sahabatnya baru mengenal Islam. Sehingga mereka menjadi sosok muslim yang kuat secara aqidah.

Dalam konteks hubungan antar umat beragama, toleransi atau tasamuh menghendaki seseorang untuk menghormati agama orang lain, terciptanya suasana yang tenang, sehingga umat beragama bisa menjalankan ibadahnya masing-masing dengan tenteram dan damai. Tidak ada upaya untuk memaksakan keyakinan pada orang lain.

Keragaman adalah cara Tuhan menguji umat manusia dalam berlomba meraih kebaikan, bukan untuk keburukan. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu (al Maidah; 48).

Allah sudah memperkenalkan ajaran terbaik kepada manusia. Islam yang rahmatan lil alamin. Yang tersisa hanya soal hidayah dan usaha berpikirnya manusia untuk menentukan dan memilih agama yang paling benar. Sebagai umat Islam yang baik, yang memeluk agama Islam secara kaffah, upaya menyampaikan ajarannya merupakan sebuah kewajiban. Tetapi kewajiban harus dengan etika dan akhlak yang baik. Dengan cara yang santun dan penuh kasih sayang. Tidak boleh mencaci, apalagi menghina.

”Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan Setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan. (al An’am; 108)

Islam menghendaki supaya umatnya menunjukkan kebaikan ajaran Islam.  Dengan perkataan yang baik dan tingkah laku yang mencerminkan akhlak Rasulullah. “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (al Fusshilat; 33)

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.(al Nahl; 125).

Toleransi bukan menggadaikan keimanan, tetapi upaya sadar untuk menjaga kerukunan antara sesama manusia. Keragaman bukan untuk diperselisihkan. Menolak perbedaan adalah menolak sunnatullah yang menciptakan manusia dalam bentuk yang beragam dan keyakinan yang plural.

Allah tidak berkehendak menjadikan satu kaum yang sama dalam keyakinan walaupun itu sangat bisa dilakukan olehNya. Tetapi Allah mempunyai scenario menguji keimanan umat. Apakah kita bisa hidup berdampingan dalam rangka memenuhi tanggungjawab sebagai khalifah untuk menjaga alam dari kerusakan. Atau justru karena keyakinan kita merusak amanat itu? Karena itulah toleran adalah praktik keimanan umat untuk memegang janji menjaga bumi dari kerusakan.

Wallahu A’lam

*Faizatul Ummah

https://islamkaffah.id/afkar/islam-agama-yang-pemaaf-dan-toleran

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here