Pancasila dan Ajaran Menjadi Pemuda Berperikemanusiaan

0
218

“Kemanusiaan yang Adil dan Beradab”. Demikianlah bunyi sila ketiga dalam teks Pancasila. Teks yang seringkali dilafalkan saat melaksanakan upacara bukanlah sembarang teks tanpa makna. Sebagai dasar negara, Pancasila memiliki makna yang agung bagi negara ini.

Pancasila menjadi pusat dari segala kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Peran sentral Pancasila diakui sebagai sumber hukum tertinggi dari segala hukum negara.

Keberadaan Pancasila sebagai dasar negara tidak terlepas dari diakuinya Pancasila sebagai pandangan hidup (filsafat hidup) yang berkembang dalam sosio-budaya Indonesia. Sehingga sila-sila yang tertuang di dalam teks Pancasila merupakan jati diri bangsa yang dilembagakan. Fakta tersebut menjadikan sila-sila yang terkandung pada Pancasila mencerminkan kepribadian dan pedoman kehidupan berbangsa serta bernegara.

Pancasila menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Penghargaan atas nilai-nilai kemanusiaan terpatri dalam sila ketiga Pancasila. Hal itu menandakan negara Indonesia sangat menjunjung tinggi perikemanusiaan. Kemanusiaan menjadi poin pokok yang harus diperjuangkan oleh negara ini.

Para pendahulu bangsa sadar akan pentingnya rasa kemanusiaan. Mereka sadar bahwa bangsa Indonesia mengalami peristiwa menyedihkan perihal kemanusiaan. Penjajahan negara yang dilakukan oleh Belanda dan Jepang telah menggoreskan luka kemanusiaan dan begitu merendahkan nilai kemanusiaan bangsa yang dijajah. Hingga akhirnya, secara institusional negara ini mencita-citakan tegaknya nilai kemanusiaan yang dirumuskan dalam Pancasila.

Isu kemanusiaan selalu merundung negara-negara di seluruh dunia. Termasuk di Indonesia, negara yang notabenenya menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Isu kemanusiaan yang mengusik negera ini dapat diklasifikasikan menjadi dua kelompok.

Pertama, isu kemanusiaan yang diakibatkan oleh bencana alam. Misalnya, tsunami Aceh, gempa bumi di Yogyakarta, tanah longsor Banjarnegara, dan baru-baru ini banjir bandang di Garut. Isu kemanusiaan yang kedua berupa pelanggaran nilai kemanusiaan yang dilakukan oleh manusia sendiri.

Beberapa di antaranya pertikaian antara Suku Madura dan Suku Dayak di Sampit, perseteruan umat Islam dan Kristen yang terjadi di Ambon, serta pembakaran pemukiman Sekte Syiah di Sampang. Tragedi yang menyentuh rasa kemanusiaan berupa bencana alam maupun konflik sektarian di masyarakat merupakan isu kemanusiaan yang semestinya mendapatkan perhatian khusus, terutama bagi pemuda.

Menumbuhkan Kepekaan

Pemuda adalah pemegang masa depan sebuah bangsa. Beban tanggungjawab yang berat pada saatnya akan diemban oleh pemuda. Pemuda harus bersiap untuk memikul beban di masa mendatang. Kemampuan pemuda dalam mengemban tugas menjadi pertaruhan dalam melaksanakan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Jika pemuda mampu memikul tugas dengan baik, maka akan berimbas pada kebaikan negara. Sementara bila pemuda tidak mampu memikul tugasnya, maka bisa saja membawa kehancuran bagi negaranya.

Beban seberat apapun bisa diangkat di tangan pemuda. Karena pemuda memiliki semangat berapi-api dan modal yang menunjang bagi dirinya. “Beri aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku sepuluh pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia.” Begitulah ungkapan Bung Karno menggambarkan betapa hebatnya pemuda jika mereka mau bergerak.

Bermodalkan semangat yang menyala-nyala, pemuda akan mampu berkontribusi dalam merawat kemanusiaan. Sudah semestinya pemuda berperan besar terhadap persoalan kemanusiaan yang kerap muncul di masyarakat. Pemuda tidak boleh abai terhadap isu-isu kemanusiaan.

Ketika terjadi bencana alam, pemuda harus segera turun tangan. Apabila ada diskriminasi terhadap minoritas, pemuda harus segera turun tangan melindungi. Bukan malah menjadi dalang perpecahan di masyarakat, melainkan hendaknya menjadi problem solving bagi persoalan masyarakat.

Saat ini telah tumbuh berbagai gerakan peduli kemanusiaan yang melibatkan pemuda. Salah satu contohnya, gerakan Aksi Cepat Tanggap (ACT) yang fokus pada penanganan terhadap keadaan darurat bencana. Relawan yang tergabung dalam ACT sigap bertindak ketika terjadi bencana banjir, longsor, dan sebagainya.

Sebagaimana visinya menjadi organisasi kemanusiaan global profesional berbasis kedermawanan dan kerelawanan masyarakat global untuk mewujudkan peradaban dunia yang lebih baik. Hingga 30 Desember 2015, Relawan ACT mencapai 141.746 orang dan donatur sebanyak 89.470 orang.

Selain itu, ada pula gerakan yang berbasis internet yaitu kitabisa.com. Gerakan yang satu ini bergerak dalam hal penggalangan dana untuk isu kemanusiaan. kitabisa.com merupakan website yang didirikan oleh seorang pemuda bernama Alfatih Timur.

Gerakan ini berdiri pada 6 Juli 2013 saat ia berusia 22 tahun. Fokus tujuan kitabisa.com adalah menggalang donasi melalui internet dan nantinya akan disalurkan kepada yang berhak. Website ini beroperasi secara tansparan dalam arti siapa saja dapat menggalang donasi untuk saudara yang membutuhkan.

Biasanya, donasi diberikan kepada pengobatan bagi penderita cacat, korban bencana alam, pembangunan rumah ibadah dan sebagainya. Ridwan Kamil, Walikota Bandung juga menggalang dana melalui kitabisa.com untuk membantu korban banjir di Kabupaten Garut. Hingga Senin (26/09) donasi yang terkumpul sejumlah Rp.570.230.979. Adapun anggota kitabisa.com kini mampu mengajak 137.364 orang untuk bergabung dan mencapai 2.322 campaign terdanai.

Akumulasi jumlah orang yang bergabung di ACT maupun kitabisa.com tidaklah besar jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 250 juta jiwa. Namun, jumlah tersebut menunjukkan bahwa masih ada warga Indonesia yang  peduli terhadap isu kemanusiaan.

Gerakan sosial saat ini kian marak dilakukan dengan sistematis dan rapi. Kedua gerakan tersebut juga melibatkan pemuda dalam kegiatannya. Hal itu memperlihatkan bahwa pemuda turut memiliki andil terhadap perubahan masyarakat ke arah yang lebih baik.

Kepekaan pemuda terhadap lingkungan sosial diperlukan untuk menumbuhkan semangat dalam melakukan aktivitas kemanusiaan. Sebab segala aktivitas kemanusiaan yang diwadahi oleh gerakan sosial kemanusiaan diawali oleh rasa kepekaan pribadi yang bersangkutan. Dengan adanya kepekaan terhadap rasa kemanusiaan, maka timbul  gerakan-gerakan yang peduli terhadap isu kemanusiaan.

Adapun kepekaan semacam ini tidaklah muncul secara spontan di benak manusia. Melainkan membutuhkan adanya suatu proses agar kepekaan itu tertanam di dalam sanubari. Untuk itu, diperlukan usaha untuk menumbuhkan kepekaan agar dapat tertanam di hati pribadi manusia.

Pertama, diberikan pengetahuan yang cukup. Sebagaimana ungkapan Socrates dalam Novel Dunia Sophie, orang yang mengetahui apa yang baik akan berbuat baik. Dengan demikian, setiap pribadi haruslah dibelakali ilmu pengetahuan yang cukup.

Tentunya pengetahuan yang menuntun pribadi manusia mengerti akan luhurnya nilai-nilai kemanusiaan. Setelah memiliki pengetahuan mengenai nilai kemanusiaan, pribadi tersebut akan bertindak sesuai dengan pengetahuan terkait kemanusiaan. Begitulah rumusan yang dikemukakan oleh Socrates, Filsuf terkemukan dari Athena.

Kedua, kunjungan lapangan. Adapun riset ke lapangan merupakan cara yang signifikan untuk menstimulus kepekaan. Seringkali pengetahuan tanpa didampingi praktik akan menjadi kabur.

Oleh karena itu, adanya kunjungan lapangan akan menjadikan pengetahuan tentang perikemanusiaan tidak menjadi kabur. Jika ada tragedi bencana alam hendaknya menggandeng kelompok-kelompok pemuda untuk terjun menjadi mitra gerakan yang bergerak di bidang kemanusiaan.

Dengan terjun ke lapangan akan memberikan gambaran rasanya jika menjadi korban. Hal inilah yang disebut sebagai empati. Bila empati sudah tertanam akan menjadikan pribadi tersebut lebih terdorong untuk menggelorakan aktivitas kemanusiaan.

Ketiga, memperkuat jaringan. Hendaknya ada ikatan yang mempersatukan gerak pemuda. Ikatan tersebut dapat diberikan dengan pemberian wadah untuk berinteraksi. Pada dasarnya sudah ada wadah untuk interaksi pemuda hingga tingkat bawah. Semacam organisasi Karangtaruna dan Komite Nasional Pemuda Indonesia yang notabene ada di setiap kecamatan.

Namun dalam realitasnya wadah semacam ini belum memberikan kontribusi optimal ke masyarakat. Juga tidak terlalu dikenal oleh sebagian besar komponen masyarakat. Untuk era saat ini seharusnya arus informasi lebih mudah diakses.

Alangkah baiknya jika media-media yang ada lebih dioptimalkan untuk mengikat dan memperjelas ikatan-ikatan yang masih samar. Jika elemen pemuda dapat menerima akses informasi secara merata, maka akan memberikan dampak yang lebih besar terhadap aktivitas kemanusiaan yang dilakukan.

Menjadi manusia seutuhnya memerlukan suatu proses. Adapun ketiga hal di atas merupakan tahap-tahap proses yang hendaknya dilaksanakan. Menumbuhkan kepekaan sosial akan mendorong pribadi manusia dalam mewujudkan gagasan kemanusiaan yang adil dan beradab.

Karena manusia yang berkualitas adalah manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Dalam konteks NKRI, manusia Indonesia adalah manusia Pancasila dengan menjadikan Pancasila sebagai alat untuk memanusiakan manusia. Jika kehidupan manusia hanya berorientasi pada kenikmatan perut dan kelamin, lantas apa bedanya dengan binatang? Wahai pemuda, mari berproses menjadi manusia pancasila!

qureta.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here