Belajar Nasionalisme yang Konkret

0
53

Jika kita ingin tau bagaiamana sebenarnya nasionalisme dan sikap kebangsaan itu? Seyogyanya belajarlah kepada Kiai Zaini Mun’im(Pendiri Pondok Pesantren (PP) Nurul Jadid Paiton). Karena beliau adalah sosok Ulama Nasionalis sejati.

Nasionalisme, bagi Kiai yang lahir pada tahun 1906 ini, tidak hanya sekedar retorika tapi kontribusi nyata terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara. Sikap nasionalisme dan Kebangsaan Kiai Zaini Mu’im dhahiran wa bathinan. Hal ini tergambar dalam landasan filosofis santri PP. Nurul Jadid yang dikenal dengan al-wa’iyat al-khamsah (pancakesadaran) santri.

Panca Kesadaran atau al-wa’iyat al-khamsah, dimaksud adalah gagasan bernas Kiai Zaini tentang beberapa kesadaran yang harus dimiliki oleh seorang santri yaitu; kasadaran beragama (al-wa’yu al-dini), kesadaran berilmu (al-wa’yu al-‘ilmi), kesadaran berbangsa dan bernegara (al-wa’yu al-hukumi wa al-syu’bi),  kesadaran bermasyarakat (al-wa’yu al-ijtima’i), dan  kesadaran berorganisasi (al-wa’yu al-nidhami).

Dalam pancakesadaran santri ini, secara tidak langsung Kiai Zaini Mun’im menegaskan komitmennya terhadap kebangsaan dan kenegaraan. Sehingga Kiai yang lahir di Desa Galis Pamekasan Madura ini berkeinginan agar santrinya tidak hanya menjadi orang berilmu, beragama, tapi juga punya komitmen kebangsaan, kenegaraan dan peduli terhadap masyarakat.

Komitmen Menjaga Indonesia

Kesadaran berbangsa dan bernegara dimaksud tentu saja, secara filosofis dapat dimaknai bahwa kita hidup di Indonesia tidak hanya berdiri sendiri, tapi berkaitan dengan pihak-pihak lain (bangsa), sehingga haruslah menghargai, menghormati dan saling membantu (peduli sosial) tanpa harus melihat latar belakang agama, suku, RAS dan lain sebagainya.

Kemudian, dalam konteks bernegara, bahwa kita sebagai sebuah bangsa yang berada di Indonesia, terikat dengan tata aturan yang berlaku. Sehingga setiap persoalan kebangsaan harus diselesaikan sesuai aturan yang berlaku.

Sikap kebangsaan dan nasionalisme Kiai Zaini Mun’im kemudian juga dipertegas melalui maqalah beliau yang berbunyi “Orang yang Hidup di Indonesia, kemudian tidak melalukan perjuangan dia telah berbuat maksiat. Orang yang hanya memikirkan pendidikan dan ekonominya sendiri, maka orang itu telah berbuat maksiat. Kita semua harus memikirkan perjuangan orang banyak (rakyat)”(Masyhur Amin, Nasikh Ridwan; 1996).

Jika direnungi, makna tersirat dari maqalah di atas, tentu saja memiliki pesan yang sangat mendalam kaitannya dengan kehidupan berbangsa dan bernegara. Kiai Zaini secara tersirat berpesan agar orang yang hidup di Indonesia tidak hanya sekedar hidup dan bertempat tinggal, tapi harus memiliki peran sosial dan ikut serta memikirkan keberlangsungan hidup berbangsa dan bernegara. Misalnya mendidik masyarakat jika memiliki ilmu, dan membantu masyarakat yang tidak mampu jika memiliki kemampuan ekonomi.

Baca Juga: Wahabi, CCI, CCC, Komite Hijaz dan KH. Wahab Chasbullah

Nasionalisme Konkret

Dengan begitu, nasionalisme tidak cukup hanya dengan slogan dan retorika; “NKRI harga mati”, “saya nasionalis”, “saya Pancasilais” dan lain-lain. Akan tetapi bagi Kiai Zaini Mun’im, nasionalisme itu harus konkret yakni harus dibuktikan dengan cara ikut serta memikirkan dan membantu proses pembangunan bangsa dan negara Indonesia. Misalnya dengan cara mengadvokasi masyarakat melalui jalur pendidikan, sosial, ekonomi dan keagamaan.

Kemudian dalam pengertian lain, semangat nasionalisme haruslah senafas dengan sikap kebersamaan, gotong royong dan saling membantu serta peduli pada satu sama lain. Itu sebabnya, masing-masing warga negara tidak boleh hanya memikirkan kepentingannya masing-masing, akan tetapi harus memikirkan kepentingan orang banyak, yakni rakyat dan bangsa Indonesia secara umum.

Komitmen nasionalisme dan kebangsaan di atas, tidak bisa dilepaskan dari sosok Kiai Zaini Mun’im yang merupakan sosok ulama pejuang baik dalam melawan penjajahan dan memberdayakan umat. Bahkan, jauh sebelum Kiai Zaini Mun’im hijrah ke Desa Karanganyar Paiton, beliau telah banyak terlibat dalam proses perjuangan melawan dan mengusir penjajahan Belanda di Bumi Madura tepatnya Pamekasan.

Kiai Zaini dalam Pergulatan Penjajahan Indonesia

Dalam buku biografi beliau yang ditulis  Masyhur Amin, Nasikh Ridwan dijelaskan, sejak muda Kiai Zaini Mun’im sudah aktif dalam medan perjuangan. Beliau banyak memberikan perhatian yang sangat tinggi terhadap berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat, bangsa dan negara. Beliau terlibat aktif dalam perjuangan membela hak-hak masyarakat, membela keutuhan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Bahkan, pada masa penjajahan Jepang, beliau dipercaya sebagai pimpinan Barisan Pembela Tanah Air (PETA).

Kemudian, pada masa perang kemerdekaan, Kiai Zaini Mun’im bahkan dipercaya sebagai pimpinan Sabilillah ketika melakukan Serangan Umum 16 Agustus 1947 terhadap bala tentara Belanda yang menguasai Kota Pamekasan. Beliau termasuk tokoh pejuang yang menjadi target operasi Belanda, yang dikejar-kejar karena kegigihan beliau dan sikap pantang menyerah dalam melawan kekuatan penjajah.

Sedangkan di bidang keagamaan dan sosial kemasyarakatan, Kiai Zaini banyak memberdayakan masyarakat melalui media Jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU), baik ketika beliau masih berada di pulau Madura maupun setelah hijrah ke tanah Jawa. Melalui NU, beliau melakukan aktivitas amar ma’ruf nahi munkar, membela hak-hak masyarakat dan membangun kehidupan masyarakat semakin tercerahkan.

Baca Juga: Khilafah Islam dan Khilafah Silmi

Bahkan tatakala Kiai Zaini Mun’im telah mendirikan pesantren, kepeduliannya terhadap masyarakat tidak pernah surut. Di tengah-tengah kesibukanny dalam mengasuh pesantren, beliau masih memberikan waktu yang cukup untuk menangani secara langsung permasalahan-permasalahan yang dihadapi masyarakat, baik dalam bidang keagamaan, maupun sosial ekonomi, terutama yang menyangkut nasib petani.

Dengan demikian Kiai Zaini Mun’im merupakah tokoh pesantren yang nasionalis dan punya komitmen kebangsaan yang kuat. Beliau tidak hanya bicara soal nasionalisme dan kebangsaan, tapi aktivitas hidupnya adalah nasioanlisme dan kebangsaan itu sendiri.

Semangat nasionalisme dan kebangsaan yang demikian itulah yang perlu ditransformasikan pada generasi bangsa, ditengah krisis kebangsaan dan rasa nasionalisme yang menimpa elite dan generasi bangsa dewasa ini. Dan akhirnya, semoga kita para santrinya bisa meneladani kecintaannya pada bangsa dan negara. Wallahu A’lam.

Sumber :Harakatuna

#muslimsejati

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here