Inilah Kunci Kesuksesan Nabi sebagai Juru Damai

0
44

Pengamat sejarah yang juga Alumnus Al Azhar Mesir, Munirul Ikhwan menjelaskan bahwa Nabi Muhammad menjadi juru damai di Madinah. Meskipun Abdullah ibn Ubay ibn Salul adalah tokoh penting di Madinah, namun ia tak mampu menjadi pemimpin karena dirinya merupakan bagian dari konflik, sedangkan Nabi adalah orang baru yang netral dan memberikan kedamaian di Madinah.
Dalam kerangka pemikiran modern, terma teror dihasilkan dari pemahaman Al-Qur’an yang sempit. Islam hanya dipahami secara sepotong-sepotong sehingga menghasilkan pemahaman dan tindakan yang parsial pula. Kata “Islam” dan semua kata dari akar kata yang sama memuat makna “ketundukan”, “kedamaian” dan “keselamatan” karena Al-Qur’an adalah kitab utama agama Islam, maka ia sudah seharusnya merepresentasikan esensi dan tujuan agama Islam itu sendiri, yakni perdamaian.
“Komitmen Islam pada perdamaian membuat tatanan sosial dan keluarga untuk menciptakan perdamaian,” ungkap Munir yang pernah menjadi Rais Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama Jerman, Rabu (20/4).
Nabi Muhammad dalam periode Madinah membangun komunitas Muslim (umat) dan mampu menjadi figur sentral agama dan politik. Secara kronologis, pada awal beliau berhasil meletakkan pondasi kokoh dengan mempertemukan segala elemen yaitu piagam (mitsaq) Madinah. Dilanjutkan dengan menjaga stabilitas Madinah dari ancaman perpecahan dengan cara perjanjian Hudaibiyyah, penaklukan Khaibar dan beberapa perang yang diikuti Nabi.
Lebih lanjut dalam sejarah nabi (sirah nabawiyyah) kita bisa melihat betapa Nabi mengedepankan cara-cara damai untuk menguatkan kaum Madinah. Membuat jembatan perdamaian dengan pernikahan antara Anshor dan Muhajirin. Dan tak membedakan siapakah mereka. Kita juga bisa menyimak bahwa Nabi hadir dalam pemakaman Abdullah ibn Ubayy ibn Salul.
“Konflik sebagai sunah kehidupan tidak mungkin dihilangkan, kita mengarahkan konflik pada orientasi perdamaian,” tandas alumni Leiden University dan Freie Universitat Jerman ini.
Munir menambahkan bahwa Al-Qur’an hadir sebagai kitab damai sesuai dengan cara memahaminya sebagai dasar perdamaian. Bahkan kata din (agama) mengalami perkembangan yang secara tegas, perlahan dan pasti membentuk agama Islam yang kita kenal seperti sekarang. Kita bisa melihat ayat Makkiyah kemudian Madaniyyah menerangkan kata din dan derivasi menerangkan tentang agama. (M. Zulfa/Zunus)
Sumber : https://www.nu.or.id/post/read/67482/inilah-kunci-kesuksesan-nabi-sebagai-juru-damai

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here