Menumpas Terorisme dengan Pancasila

0
52

Indonesia darurat terorisme. Istilah ini yang masih senantiasa belum tuntas bagi permasalahan negeri ini. Di samping kian riuhnya helatan pesta demokrasi, terorisme tetap menjadi ancaman. Terorisme seperti penyakit yang tidak mudah disembuhkan. Mungkin beberapa kali ditumpas, namun tidak sampai ke akar-akarnya.
Terorisme memberi ancaman bagi keberlangsungan sistem negara bangsa. Ia menjadi wajah buruk demokrasi. Pada saat demokrasi dituntut melindungi semua pihak, sesering itu pula demokrasi disalahgunakan. Terorisme berusaha melawan konstitusi melalui langkah makar.
Penumpasan terorisme belum sepenuhnya tuntas. Terorisme digerakkan secara kolektfit-terstruktur. Sebagaimana sebuah organisasi, ia juga melalui proses kaderisasi dan ideologisasi. Terorisme harus dipahami sebagai sikap makar yang melawan sistem demokrasi, dengan begitu melawan terorisme adalah tanggung jawab bersama. Karenanya, menumpas terorisme harus juga melalui kerjasama kolektif.
Baru saja di Tangerang (20/10/16) ada penyerangan kepada sekelompok polisi. Berdasarkan beberapa temuan, tampak yang bertanggungjawab atas tindakan tersebut adalah kelompok teroris radikal. Melihat stiker berlambang ISIS di tempel di sana, jelas teror tersebut berafiliasi dengan gerakan radikal di Timur Tengah. Hingga sekarang, kelompok-kelompok radikal seperti ini memang semakin berani muncul melakukan penyerangan di ruang-ruang publik.
Melawan terorisme harus menyasar hingga proses kaderisasi dan ideologisasinya. Sejauh ini kelompok radikal seperti tidak pernah berhenti melakukan rekruitmen keanggotaan. Bahkan terorisme juga sering kita dengar dalam bentuk ancaman fisik maupun wacana. Perlu diwaspadai bersama bahwa kelompok terorisme juga bergerak melalui ruang-ruang pendidikan dan juga tempat ibadah.
Munculnya Terorisme dan Gerakannya
Kelompok radikal selalu identik dengan paham keagamaan tertentu. Sering kita dengar kelompok radikal menggunakan simbol-simbol agama dalam aksinya. Tidak sedikit pula kelompok radikal ini muncul dalam ketaatan beragama yang serius. Namun, sayang sekali ketaatannya itu memunculkan sikap makar sehingga mendorong mereka bertindak sebagai teroris.
Khaled Abou el-Fadl menyebut terorisme sebagai puritanisme agama. Mereka hanya sekelompok kecil minoritas, tapi sikapnya sangat berani. Kelompok ini cenderung sempit pemikiran agamanya. Apalagi dalam menafsirkan, ia mengarah pada sektarianisme, hanya untuk kepentingan identitas. Bahkan penafsiranya cenderung dipaksakan kepada orang lain yang berbeda.
Pandangan mereka tentang jihad juga sering salah. Mereka menafsirkan jihad bermakna perang. Jadi wajar jika mereka muncul dengan simbol-simbol agama dan ayat-ayat suci hanya untuk perusakan, pembakaran dan pengeboman. Kelompok teroris ini sebenarnya gagal menafsirkan agama. Dengan dalih pemurnian ajaran agama namun paham keagamaannya justru menyesatkan.
Terorisme muncul dari penafsiran agama yang keliru. Jadi wajar jika simbol agama seringkali disalahgunakan.  Bahkan bahayanya proses ideologisasi atas pemahaman keagamaan mereka sekarang dikemas dalam berbagai media. Sudah sering kita dengar soal wacana radikalisme di buku-buku sekolah, adanya saling klaim benar-salah di tempat ibadah, dan banyak wacana keagamaan keliru yang turut beredar di media sosial.
Terorisme tidak hanya sekedar bom bunuh diri atau penyerangan. Wacana agama yang berbau ancaman juga harus dicurigai sebagai bakal lahirkan sikap-sikap radikal. Sasaran kelompok radikal sekarang telah masuk dalam berbagai ranah publik. Bahkan sengaja mereka mengemas wacana keagamannya untuk mempengaruhi publik.
Kelompok puritan (teroris) berusaha mengusai ruang publik sebagai basis kekuatan. Sering kita dengar ada penguatan masjid dan bahaya terorisme. Karena memang selama ini masjid sebagai basis pertemuan dan kegiatan keagamaan. Jadi wajar kelompok teroris berusaha merebut penguasaan masjid untuk membingkainya dalam wacana keagamaan mereka.
Sekolah-sekolah juga demikian. Ada sekolah yang melarang hormat kepada bendera merah putih dan menyanyikan lagu kebangsaan. Bahkan ada pula buku-buku yang memberi pengaruh kepada tindakan terorisme. Berarti memang jelas bahwa kelompok radikal berusaha membangun kolektifitas terstruktur dengan mempengaruhi publik.
Begitu pula dengan teknologi informasi, kelompok radikal juga menguasi internet dan media sosial. Tidak sedikit media internet digunakan sebagai sarana untuk mempengaruhi publik. Sering kita jumpai media sosial yang berbau kecaman serta ancaman. Bahkan banyak juga wacana-wacana keagamaan yang justru menyerang sistem Negara bangsa, menolak demokrasi, dan anti-Pancasila.
Mengidentifikasi kelompok radikal itu mudah, jika ada kelompok yang suka menyesatkan, mengkafirkan, dan mengancam orang lain itu jelas mereka. Apalagi mereka yang mengusung ide pendirian Negara Islam (khilafah islamiyah). Patut pula dicurigai mereka melarang adanya upacara bendera, menyanyikan lagu kebangsaan, dan menghafal pancasila sebagai kelompok radikal yang makar ingin merusak Negara.
Pancasila Melawan Terorisme
Jadi jelas kelompok radikal membuat sebuah gerakan dalam berbagai bidang. Mereka berusaha menguasai ruang-ruang publik dengan wacana-wacananya. Kelompok puritan ini mengemas wacana terorisme dalam wacana keagamaan. Mereka membingkai sikap makarnya kepada Negara dalam bentuk ketaatan beragama.
Pancasila adalah satu-satunya senjata terbaik yang dimiliki bangsa ini untuk melawan mereka. Pancasila adalah kunci ideal paripurna untuk menyikapi kelompok terorisme secara tegas. Melalui pancasila kelompok puritan ini harus ditumpas hingga ke akar-akarnya, termasuk proses kaderisasi dan ideologisasinya.
Pancasila harus kembali ditegaskan sebagai nilai terbaik untuk membangun kedaulatan dan menjaga keutuhan NKRI. Selama ini pancasila hanya sekedar slogan dan lambang Negara. Pancasila harus dihidupkan dalam setiap kehidupan sehari-hari. Pancasila harus menjadi nafas bangsa ini, termasuk dalam kehidupan beragama, berpolitik, bersosial, dan sebagainya.
Untuk melawan kelompok radikal pancasila harus diwacanakan secara massif. Pancasila harus menjadi bagian dari ruang-ruang publik. Ini yang salah satu yang dimaksud dengan membumikan pancasila oleh Gus Dur (Abdurrahman Wahid), dimana pancasila menjadi bagian dari pemikiran dan perilaku sehari-hari. Tujuan membumikan pancasila untuk merawat demokrasi sekaligus meneguhkan semangat kebangsaan.
Jika kelompok radikal berusaha menguasi setiap sudut ruang publik, maka pancasila juga harus demikian. Pancasila mestinya dikhutbahkan dalam wacana-wacana keagamaan. Buktinya jelas pancasila sama sekali tidak bertentangan dengan agama. Bahkan pancasila lahir atas kesapakatan agama-agama, bukan satu agama. Untuk itu, khutbah-khutbah keagamaan harus menunjukkan sikap tegas dalam ber-pancasila, menjadikan pancasila sebagai dasar pemikiran agama.
Majlis ta’lim, pengajian agama, khutbah keagamaan, masjid, gereja, harus berdimensi kebangsaan. Tujuannya untuk memperkuat nilai-nilai kebangsaan dan cinta tanah air. Bukankah jelas pancasila memberi ruang kepada setiap agama untuk bersikap toleran, dan perlu ditegaskan bahwa pancasila sama sekali tidak menolerir sikap intoleran, apalagi terorisme.
Begitu juga dengan sekolah-sekolah, pendidikan pancasila dan cinta tanah air harus dikuatkan. Sekolah adalah tempat belajarnya generasi bangsa, mereka harus mendapatkan pemahaman bagaimana pentingnya kebangsaan dan nasionalisme. Pancasila harus menjadi acuan dasar dalam kurikulum pendidikan, terutama pendidikan agama. Ketika bicara tanah air maka segala macam identitas harus ditanggalkan.
Termasuk juga media informasi, internet dan media sosial juga harus berdimensi kebangsaan. Selama ini banyak beredar di media beragam wacana terorisme yang saling tuduh dan menyesatkan. Pancasila harus diwacanakan secara tegas melalui berbagai media, termasuk media sosial. Jika perlu pancasila harus menguasai seluruh media, tujuannya untuk melawan wacana terorisme yang sudah merusak nasionalisme.
qureta.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here