Ibu Kota Baru, Kebahagiaan Baru

0
17

Sumber : HarakatunaIbu Kota baru dengan segala responnya telah menjadi narasi populer, baik di tingkat elit maupun di kalangan awam. Narasi optimisme dan pesimisme menjadi dua sayap yang mengepak bergantian, namun justru turut mendorong menuju titik kepastian. Sungguh suatu progresifitas yang patut diapresiasi, dimana kebebasan menyampaikan pendapat di negeri ini masih terlampau luas untuk suatu kemajuan yang lebih hakiki. Puncak kepastian hijrahnya ibu kota disampaikan secara konkret oleh Presiden Joko Widodo yang jatuh pada pilihan Kabupaten Penajam Paser Utara dan sebagian Kabupaten Kutai Kartanegara sebagai calon ibu kota baru. Kepastian tersebut sekaligus menggugurkan kepakan sayal oposisional antara optimisme dan pesimisme, di sisi lain justru memicu espektasi ataupun harapan baru. Artinya, kini wacana tersebut telah bergeser dari perdebatan antara setuju dan tidak setuju pada satu-satunya pilihan yaitu harapan baru. Dalam sejarah panjang bangsa-bangsa dunia perpindahan pusat pemerintahan bukan hal yang istimewa, sehingga tidak perlu mendapat kerisauan luar biasa. Australia dari Sydney hijrah ke Canberra, dalam sejarah Islam juga terjadi perpindaha pusat pemerintahan berkali-kali dengan progresifitas kemajuan semakin membaik. Tentu harapan yang sama juga harus dijawab tegas oleh pemerintah, setegas pengumuman Joko Widodo saat penetapan calon lokasi ibu kota baru. Di sisi lain keresahan pesimisme yang bergejolak juga tidak dapat sepenuhnya dieleminir, nota keresahan tersebut tetap menjadi catatan bagi pemerintah untuk dikonversi menjadi optimisme dan harapan. Hanya saja persoalan harapan inipun tidak sekedar persoalan kulit luarnya, harus berpijar dari unsur mendasar dan universal. Membaca Espektasi Ibu Kota Baru Espektasi yang berkembang masih sangat parsial, seperti keadilan ekonomi, akses pendidikan maupun pembangunan manusia. Sehingga harapan-harapan tersebut bermuara pada hitung-hitungan matematis, mempertanyakan kuantifikasi besaran modal perpindahan dan aspek fisik lainnya. Aspek yang belum mengemuka adalah unsur filosofis, karena banyak orang tidak memperhitungkan betapa pergerakan fisik itu tergantung pada dasar paradigma yang berposisi di alam ide. Sejarah bangsa-bangsa saat ini memperlihatkan capaian materealis namun tidak menjadikan masyarakatnya tentram dan damai. Lihat saja tetangga yang paling dekat ada Jepang dengan capaian pertumbuhan kualitas manusia dan teknologinya yang tinggi tidak mampu menempatkan posisi Jepang sebagai negara paling berbahagia. Belajar dari realitas tersebut, espektasi di balik rencana perpindahan ibu kota adalah “kebahagiaan” itu sendiri. Barangkali hitungan ini sangat abstrak, tidak terdapat ukuran kuantifikasi tetapi sangat inheren dalam kehidupan manusia. Berlimpah capaian material tidak menjamin hadirnya kebahagiaan, oleh karena itu konstruk kebahagiaan ini juga penting menyisipi espektasi pandangan perubahan kuantifikasi pasca perpindahan ibu kota nanti. Ragam Kebahagian Ibu Kota Baru Terdapat tiga tipe kebahagiaan yang dapat dipertimbangkan, hedonisme, epicureanisme dan eudaimonia. Dari ketiga tipe kebahagiaan tersebut, barangkali yang paling populer adalah hedonisme. Kebahagiaan tidak selamanya baik, walau semua orang mengimpikan. Hari ini di tengah kenyataan bangsa yang melimpah dengan potensi yang seakan terbuka lebar menuju pada kebahagiaan, namun pada kenyataannya justru memproduksi penderitaan yang tiada tara. Jangankan mereka yang tidak mendapatkan jatah materi, mereka saja yang berhasil menimbun kekayaan bentuk rupiah atau dolar juga mersakan derita yang serupa dengan bentuk yang berbeda. Di permukaan terlihat semburat senyum, namun tersakiti dalam sanubari. Deskripsi di atas suatu tipe kebahagiaan yang salah pilih, namun tetap masuk dalam ketegiri bahagia yang kemudian dikenal dengan sebutan hedonisme. Ciri paling pokok dari tipe hedonisme ini adalah menghindari penderitaan dengan berbagai cara, walau menyakiti orang lain, hingga kemudian penderitaan itu pada akhirnya juga akan kembali pada dirinya. Masyarakat yang enggan dengan hedonisme ini cenderung memilih kebahagiaan yang lain, yaitu epicureanisme. Tipe kabahagiaan ini terlalu apatis terhadap kenyataan. Rumah-rumah ibadah cenderung menjadi pilihan, dengan harapan dapat menentramkan unsur ruhaniah. Pilihan tipe ini tidak cukup tepat, justru cenderung akan semakin membuat negeri ini tertinggal. Membelah dua tipe kebahagiaan yang kurang menguntungkan, saran Aristoteles sepertinya layak diakomudir mengenai pengajuan tipe kebahagiaan yang ia sebut dengan Eudamonia. Tipe kebahagiaan ini relatif proporsional antara materi dan immateri. Prinsipnya, tipe kebahagiaan ini mendorong seseorang menjalani kehidupan penuh makna. Mengakomudir kebahagiaan material sekaligus tidak menyisihkan kebutuhan ruhani. Pertanyaannya, apakah segala kerisauan pesimisme ataupun espektasi harapan baru itu berdasar pertimbangan-pertimbangan fisolofi kebahagiaan, atau sekedar oposan. Anda sendiri yang tahu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here