Membumikan Islam Kebangsaan

0
62
lahir dari kegelisahan mengenai representasi Islam di Nusantara. Berbagai serpihan Islam bersaing mendapatkan ruang representasi tersebut dengan berbagai coraknya dengan basis filosofis yang sama yaitu, rahmatan lill’alamin. Kemudian membelah menjadi dua sayap, yaitu sayap kanan dan kiri. Kanan cenderung ketat, eksklusif dengan corak serba tidak boleh. Sementara kiri adalah sayap oposisional yang berlawanan corak segalanya serba boleh. Maka kemudian muncullah Islam wasatiah yang berada diantara kedua sayap oposisional tersebut.
Menformulasikan wasatiah juga bukan persoalan mudah. Terdapat rumusan Islam harus murni (pure) tanpa bid’ah, namun kemudian apakah hanya sekedar menjaga tradisi dalam pemahaman agama tanpa bid’ah. Dari sini kemudian Islam terjebak pada konsepsi Islam menjaga tradisi dan membuat tradisi. Lalu seperti apa sebenarnya Islam Rahmat Lil’alamin?. Jawabannya tidak mungkin kanan dan kiri juga bukan menjaga tradisi dan membuat tradisi saja.
Salah satu ayat yang sering menjadi narasi konfirnasi adalah ayat yang berbunyi wama arsalnaka illa rahmatan lil’amin. Term “rahmah” memang sangat luas tidak ekslusif kanan-kiri apalagi hanya menunjuk pada kelompok tertentu. Makna keumuman tersebut seharusnya juga tidak hanya kalkulasi teknis, misalnya sholatnya seperti apa dan bagaimana. Rahmah itu juga harus diimbangi dengan pandangan mengenai kualitas yang melekat pada Islam, sehingga Islam betul-betul komprehensif. Satu-satunya unsur yang dapat mengakomudir dua sisi tersebut adalah peradaban. Artinya, rahmah itu bukan hanya persoalan lurus dan tegaknya sholat tetapi konstribusi apa yang harus diberikan oleh Islam untuk dunia dan manusia, dan itu terangkum dalam term peradaban.
Kembali pada representasi Islam di Nusantara berupa Islam Wasatiyah tidak melulu hanya berdiri tegak di tengah sekedar menengahi ekstrem kanan-kiri, tetapi juga mendorong Islam menjadi agama yang produktif. Produktifitas dalam bahasa al-Quran terdapat tiga indikator.
Pertama, lahum ajruhum inda robbihim, artinya  sejahtera dalam keadaan sejehtera yang hakiki di berbagai dimensi. Misalnya, salah satunya adalag  terpenuhinya kebutuhan ekonomi serta mencukupi kebutuhan secara kontinu, dari generasi ke generasi. Kedua, Wala khoufun ‘alahim tidak ada ketakutan dalam berbagai lini kehidupan. Dalam keharmonisan antar agama misalnya, Islam memberikan jaminan keamanan bagi pemeluk agama menjalankan agamanya. Ketiga, Walahum yahzanun tidak ada kesedihan juga di berbagai dimensinya yang luas. Hidup berbahagia tapi tidak terjebak pada hedonisme.
Demikian Islam Wasatiyah itu bukan hanya jargon moderasi menengahi dan peleraian diantara dua atau lebih dari kubu yang bertikai, tapi Wastiyah atau moderasi adalah komitmen berislam produktif untuk alam semesta. Mari kita rayakan Islam Wasatiyah ini bersama-sama dengan pemahaman yang komprehensif.
Sumber : Harakatuna
#muslimsejati

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here