Provokator Papua Terindikasi Paham Radikalisme

0
83

Harakatuna.com. Jakarta — Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri mendeteksi berkembangnya paham radikalisme ISIS di Papua. Bahkan organisasi itu diduga sudah mulai mengembangkan jaringannya dua tahun lalu di Tanah Papua.

“Cuma aktifnya lebih kurang satu tahun belakangan,” kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Jakarta, Jumat (6/9/2019).

Adanya keberadaaan kelompok teroris ISIS diketahui setelah Densus 88 menangkap pelaku yang berencana melakukan aksi teror di Polres Manokwari pada 2017 lalu. “Sebelum dia melakukan aksinya, sudah ditangkap,” katanya.

ISIS yang berkembang di Papua, menurut dia, umumnya merupakan kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD). Densus mensinyalir organisasi ISIS aktif merekrut calon-calon anggotanya di beberapa wilayah di Papua Barat dan Papua. Gerakan itu di antaranya terdapat di Manokwari, Fakfak, Merauke dan Wamena.

Dedi mengatakan, dari informasi intelijen, ISIS Papua melakukan teror dengan target anggota Polri. “(ISIS) masih melakukan rekrutmen, kemudian penguasaan wilayah dan akan terus melakukan amaliyah dengan sasaran anggota polisi,” katanya.

Teroris dan Separatis di Papua

Polri mengungkapkan kelompok teroris ISIS dan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Papua dan Papua Barat memiliki visi yang berbeda kendati misi kedua kelompok tersebut sama, yaitu menebar teror di Bumi Cendrawasih.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo mengungkapkan bahwa Kepolisian masih mendalami keterlibatan jaringan teroris Jamaah Ansarut Daullah (JAD) pada aksi yang berujung anarkis di Papua dan Papua Barat.

Sementara untuk kelompok separatis di wilayah itu, menurut Dedi, Polri sudah menemukan sejumlah bukti keterlibatannya saat aksi anarkis di Papua dan Papua Barat.

“Kami masih mendalami keterlibatan kelompok (teroris) itu. Nanti dari Densus juga akan melihat apakah ada fakta hukum terkait dugaan terlibatnya kelompok ini dan jaringannya di setiap aksi ricuh di Papua dan Papua Barat,” tuturnya, Jumat (6/9).

 

Dedi mengaku tidak mau berspekulasi mengenai kedekatan kelompok teroris terafiliasi ISIS dengan kelompok separatis di Papua Barat dan Papua. Namun, Dedi memastikan kedua kelompok itu memiliki tujuan yang berbeda di Bumi Cendrawasih.

“Kedua kelompok ini berbeda haluan. Jadi belum bisa dipastikan keterlibatannya, masih didalami,” katanya.

Sumber : Harakatuna

#muslimsejati

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here