Sosmed Jadi Media Penyebar Radikalisme Terorisme

0
19

Harakatuna.com. Yogyakarta – Center of Communication Studies and Training (COMTC) UIN Sunan Kalijaga bekerja sama dengan JAPELIDI (Jaringan Pegiat literasi Digital), menyelenggarakan Seminar Nasional dan Call For Paper, Kamis-Jumat (5-6/9/2019). Lewat kegiatan itu, UIN Suka mengajak segenap pihak melawan hoaks dan ujaran kebencian yang berujung pada radikalisme dan terorisme.

Ketua COMTC UIN Sunan Kalijaga, Bono Setyo mengatakan, penjelasan materi tentang kecerdasan bermedia, dilakukan bertujuan agar terhindar dari pengaruh buruk pegiat paham khilafah untuk diterapkan di Indonesia, terorisme-radikalisme.

“Hasil penelitian yang dilakukan Kalijaga Institute for Justice [KIJ] bekerja sama dengan Australian-Indonesian Partnership for Justice, mengungkap media sosial menjadi penyumbang utama gerakan radikalisme-terorisme,” ungkap dia, dalam kegiatan bertajuk Literasi Digital dalam Membangun Perdamaian dan Peradaban itu, di Gedung Prof. RHA. Soenarjo, SH, kampus UIN Suka, Jumat (6/9/2019).

Salah satu data penelitian itu menunjukkan, sebanyak 82% unggahan di platform media sosial Twitter merupakan pesan sentimen positif dengan paham khilafah, radikalisme, terorisme.

Temuan lain, rentang usia pelaku terorisme adalah usia 18-20 tahun. Hasil itu membuktikan bahwa usia remaja paling mudah terpengaruh pesan-pesan dari media digital, yang menyesatkan oleh-orang-orang yang tidak bertanggungjawab.

Oleh karena itu sangat dibutuhkan peran guru, orang tua dan masyarakat dalam melakukan pendekatan komunikasi dari hati ke hati. Melalui cinta kasih dan persuasif kepada anak muda. Agar anak-anak, khususnya usia remaja, dapat mengembangkan diri secara sehat dan tidak gampang terpengaruh pesan-pesan paham khilafah, radikalisme, terorisme melalui media digital.

Ketua Penyelenggara, Yanti Dwi Astuti menuturkan, informasi hoaks, hujatan dan ujaran kebencian dewasa ini semakin marak di Indonesia. “Upaya untuk mencerdaskan masyarakat dalam bermedia perlu terus dilakukan. Agar jangan sampai merusak sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara,” ujarnya.

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama UIN Suka, Waryono mengungkapkan, di tengah maraknya arus informasi melalui medsos seperti sekarang, sukar membedakan mana pesan yang benar dan mana yang hoaks.

Ia menyatakan, Islam sesungguhnya telah memberikan rambu-rambu dalam berkomunikasi. Tertulis dalam Alquran dan bisa menjadi pegangan bagaimana berkomunikasi langsung maupun lewat media.

“Lebih-lebih media sosial yang bisa dengan cepat dikonsumsi oleh masyarakat dunia. Jika dalam berkomunikasi tidak memahami rambu-rambu dalam Islam, pesan melalui medsos yang bersifat hoaks, menebar kebencian, menghasut, menfitnah dan seterusnya, akan berakibat sangat fatal terhadap kelangsungan hidup masyarakat,” ujarnya.

Dalam tradisi akademik, UIN Suka menanamkan kepada semua sivitas akademika, untuk mencari pemahaman yang sejelas-jelasnya dalam setiap hal. Tidak terbawa arus kalau tidak memiliki pemahaman yang memadahi dan tidak ikut-ikutan menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya.

“Semua akan bisa dilakukan jika telah memahami salah satu makna substantif dari puasa, yakni menahan diri. Hal ini agar kita bisa cerdas bermedia,” paparnya.

Staff Ahli Khusus Presiden bidang Keagamaan Internasional, Siti Ruhaini Dzuhayati mengatakan, rambu-rambu Alquran dalam berkomunikasi seperti paparan Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama UIN Suka tadi, bisa dijadikan panutan cara cerdas bermedia. Agar umat Islam di Indonesia menjadi bagian dari masyarakat yang terpercaya, unggul, berkualitas. Serta menjadi acuan umat beragama di dunia, dalam mewujudkan peradaban yang rukun dalam kemajuan.

Sumber : Harakatuna

#muslimsejati

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here