Tips untuk Mahasiswa Baru Agar Tak Terpapar Paham Radikal

0
15

Diakui atau tidak, radikalisme sudah menyebar sedemikian rupa ke hampir seluruh lini kehidupan berbangsa dan bernegara. Sasaran kelompok radikalis zaman now dan zaman old pun turut berubah. Jika dulu radikalisme masih sekedar menyasar pada seorang atau kelompok yang memiliki pemikiran keislaman matang yang semangat beragamanya menggebu-gebu (fundamentalis-tekstualis), namun sekarang, justru mereka mencari “pangsa lain”, yaitu orang yang pemikirannya belum matang. Begitulah kelompok radikalis, selalu membingungkan!
Begitu pun pola gerakan kelompok radikal; selalu berubah, baik basis dan narasinya. Sekarang, gerakan kelompok radikal sudah menyasar ke lini strategis seperti kampus.
Radikalisasi yang sudah menyasar ke kampus-kampus tak hanya terkonfirmasi melalui berbagai survei, namun memang sudah diutarakan oleh berbagai pihak secara langsung. Berkali-kali Harakatuna mendapatkan laporan dari pihak kampus, seperti pengurus BEM dan organisasi mahasiswa, tentang meningkatnya dominasi kelompok radikal di kampus mereka.
Menyikapi laporan demi laporan itu, Harakatuna langsung pasang badan turut terlibat aktif dalam gerakan bersih-bersih paham radikal-teroris di kampus. Berbagai cara telah digelar, salah satunya adalah menggelar seminar tentang keislaman dan kebangsaan guna memberikan pemahaman dan penyadaran kepada mahasiswa.
Pemahaman keislaman yang utuh dan komprehensif menemukan urgensinya untuk diberikan kepadaa mahasiswa agar mereka memiliki pemahaman yang luas dan tidak searah saja. Selain itu juga sebagai salah satu cara untuk melakukan kontra narasi terhadap kelompok radikal yang kian hari kian tak terkendali.

Kampus Terpapar Radikalisme

Riset yang dilakukan  Badan Intelejen Negara (BIN) pada tahun 2017 silam menyebut bahwa 39 persen mahasiswa di Indonesia sudah terpapar paham radikal. Celakanya, ada tiga universitas yang mendapatkan perhatian khusus mengingat ketiga universitas ini sudah menjadi basis gerakan dan penyebaran paham radikal. BIN tidak menyebut secara spesifik tiga universitas tersebut. Namun, ini cukup menjadi alarm bagi kita semua.

Baca Juga:  Harakatuna dan Penulis Muda

Teranyar, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyatakan 7 perguruan tinggi negeri (PTN) telah disusupi paham radikal, bahkan, hampir semua PTN, dari Jakarta hingga Jawa Timur, terpapar paham radikal dengan tingkat keterpaparan bervariasi.
Kampus terpapar radikalisme bukan sesuatu yang tak perlu mendapatkan perhatian serius. Justru kampus sebagai tempat streaegis karena di sinilah generasi muda dan penerus belajar. Sebagai masa depan bangsa, maka PTN tak boleh terjangkiti virus radikalisme jika tak ingin masa kini dan masa depan Indonesia dalam bahaya.
Berangkat dari survei dan riset sebagaimana diungkap di atas, maka sudah seharusnya pemerintah bersama seluruh elemen masyarakat, khususnya para stakeholder kampus, melakukan terobosan guna membersihkan kampus dari segala pengaruh paham radikal.
Terlebih pada momentum saat ini di mana saat ini sebagian besar kampus sedang mengadakan gawe besar, yakni penerimaan mahasiswa baru. Mahasiswa baru jangan sampai dicaplok oleh kelompok radikal. Inilah yang harus diwaspadai dan pihak kampus harus bisa memastikan bahwa hal ini tak terjadi.

Mahasiswa Baru, Sasasan Empuk Kelompok Radikal

Mengapa mahasiswa baru menjadi sasaran empuk kelompok radikal? Sekalipun mahasiswa baru mayoritas adalah mereka adalah orang-orang pilihan dan memiliki tingkat kecerdasan di atas rata-rata, namun ketika mereka hijrah ke kota bukan berarti tidak mengalami kesulitan. Dengan penuh keluguan dan kepolosan, seringkali mereka sulit beradaptasi dan salah memilih teman/kelompok.
Dari sinilah perekrutan oleh kelompok radikal itu terjadi. Dengan memanfaatkan keluguan dan kepolosan mahasiswa baru, kelompok radikal mulai masuk dan mempengaruhi pikiran si mahasiswa baru. Secara bersamaan, seringkali organisasi mahasiwa yang dianggap moderat kurang sigap dalam menangkap momentum ini. Walhasil, banyak mahasiwa baru yang jatuh ke pelukan kelompok radikal.
Penelitian LPPM UNUSIA Jakarta membuka mata kita semua bahwa kelompok Islam Ekslusif-Radikalis telah memiliki gerakan yang begitu apik dalam mengkondisikan mahasiswa supaya menjadi bagian dari mereka. Selain mendominasi kegiatan kampus (penguasaan kampus), mereka juga bergerak diluar kampus melalui pengorganisasian kos/Pondokan, Rumah Ngaji, dan Bimbingan Belajar.
Senior-senior dari kelompok Tarbiyah misalnya, turut aktif dalam hal ini dengan cara membuat kos-kosan atau pondokan yang pada taraf tertentu memberi beasiswa dan bimbingan. Jika yang demikian terjadi, lantas mahasiswa baru mana yang tak tertarik?
Ruang-ruang kampus sudah hampir pasti dimasuki oleh kelompok radikal. Seringkali kelompok radikal lebih aktif dan progresif dalam mengurus dan membimbing mahasiswa dibanding kelompok moderat seperti HMI, PMII dan IMM. Inilah yang harus menjadi catatan bagi kelompok moderat agar lebih progresif lagi dalam membimbing dan mengkader mahasiswa baru.

Tips Agar Tak Terpapar Paham Radikal

Maba (Mahasiswa Baru) sangat rentang terpapar paham radikal karena usia dan kondisi mereka dalam  masa transisi, mencari atau berusaha menemukan visi dan memiliki ambisi tinggi. Sekali lagi, dalam masa ini, sangat rentang terhadap rayuan dan sejenisnya. Mahasiswa baru yang terpapar radikalisme selalu berawal dari golongan/kelompok yang berada dalam kampus. Biasanya, kelompok ini aktif menghelat forum keagamaan, seperti kajian dan pengajian.
Maka, ada beberapa tips untuk mahasiswa baru agar tak terpapar paham radikal. Pertama, bergabung ke kelompok yang sudah memiliki trackrecord jelas. Kampus adalah ruang terbuka, siapa dan kelompok apa saja bisa masuk ke kampus. Mau idelogi kiri, ada, apalagi ideologi kanan. Di sinilah mahasiswa baru harus benar-benar cermat memilih tempat untuk belajar dan mengembangkan diri. Pilihlah organisasi atau pondok—jika ingin tinggal dipondokan—yang diasuh oleh kyai yang memiliki sanad keilmuan jelas dan memiliki trackrecord yang jelas pula. Karena tempat kita belajar sangat mempengaruhi cara berpikir dan tindakan kita.
Kedua, pemangku kepentingan di lingkungan kampus perlus melakukan pengawasan terhadap mahasiswa. Mahasiswa baru perlu diawasi aktivitas keagamaan yang diikutinya. Tak hanya diawasi, lebih jauh lagi, pihak kampus bisa mengarahkan para mahasiswa baru terkait aktivitas keagamaan yang diikuti.
Fakta lapangan mengatakan bahwa kelompok radikal selalu memanfaatkan mimbar-mimbar keagamaan, terutama di dalam kampus, untuk menyebarkan paham atau ideologinya. Bahkan sampai melakukan cuci otak (brainwashing). Tentu fenemena ini menuntut adanya campur tangan dari pihak kampus itu sendiri.
Ketiga, jangan asal memilih teman. Pintu masuk mahasiswa baru terpapar radikalisme lebih banyak disebabkan karena salah memilih teman. Da sebuah ungkapan begini: Jika engkau ingin melihat agama seseorang, maka lihatlah agama temannya.” Ini artinya adalah, bahwa teman sangat mempengaruhi sikap dan tindakan seseorang. Jika teman yang Anda pilih adalah simpatisan kelompok radikal, maka besar kemungkinan Anda akan mengikuti jejak yang sama dengan teman Anda.
Oleh sebab itu, bertemanlah dengan orang yang memiliki pemahaman moderat, tidak dikit-dikit mengkafirkan kelompok yang tak sepemahaman. Dan ikutilah kajian keagamaan yang benar-benar mengkaji agama secara mendalam dan komprehensif.
harakatuna.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here