Kiamat Gerakan Islamis

0
11

 

Beberapa hari yang lalu, ayah angkat saya, dr. Najih Ibrahim yang merupakan mantan ketua Dewan Syuro Al Jama’ah Al Islamiyah Mesir, mengirimkan tulisan melalui pesan WhatsApp, tentang akhir dari gerakan-gerakan islamis, baik di Mesir dan Negara Timur Tengah lainnya. Bahkan menutup kemungkinan seluruh gerakan islamis seluruh negara di dunia. Berbagai alasan beliau sampaikan dan mungkin bisa diuraikan dalam berbagai poin-poin sebagai berikut :

Pertama, gerakan-gerakan islamis mengkerdilkan kepakaran keilmuan dengan dalih ketaatan kepada oknum pimpinan organisasi sebagai penjewantahan dari ketaatan kepada Allah SWT. Banyak kita temui berbagai sarjana bahkan master dan doktor yang lebih memilih bergabung ke gerakan-gerakan islamis, justru lebih mementingkan organisasinya dari pada kepakaran yang ditelah dipelajarinya.

Banyak sarjana baik insinyur, dokter, guru, pengacara, dan kalangan profesional simpati kepada gerakan-gerakan islamis karena dianggap sebagai alternatif dari lembaga-lembaga pemerintahan yang dianggap tidak islami karena melandaskan hukum kepada selain Islam. Padahal sebagian besar pegawai, pejabat dan karyawan di lembaga-lembaga negara beragama Islam sejak lahir. Tanpa sengaja, sebenarnya pandangan tersebut sebenarnya telah mengkafirkan setiap orang yang bekerja di pemerintahan baik sebagai ASN, polisi, tentara, jaksa dan diplomat.

Selanjutnya, nalar kritis yang biasanya melekat di kalangan kaum berpendidikan, seolah tidak mampu membaca kelemahan-kelemahan yang ada di dalam gerakan-gerakan islamis, bahkan organisasinya sendiri. Bagi mereka yang bersimpati kemudian menjadi kader, ketaatan kepada organisasi dianggap sebagai ketaatan kepada Islam dan Allah SWT. Dikhawatirkan oleh dr. Najih Ibrahim, di Hari Kiamat nanti, Allah SWT akan membantah ketaatan para simpatisan dan kader-kader gerakan-gerakan islamis, bahwa ketaatan kepada organisasi tidak sama dengan ketaatan kepada Allah SWT, karena hanya diniatkan demi kemajuan organisasi dan bahkan faksinya, bukan kepada Allah SWT dan Umat Islam secara keseluruhan.

Baca Juga : Bahaya Penafsiran Tekstual terhadap Al Quran

Kedua, gerakan-gerakan islamis hanya mengajarkan kebencian bagi yang berbeda ideologi dan pandangan. Setiap organisasi dari gerakan-gerakan islamis, selalu mengklaim bahwa organisasinya, bahkan faksinya merupakan pihak yang benar dan lainnya adalah salah, sehingga memandang rendah pihak-pihak yang berlainan ideologi, pemikiran, pandangan dan bahkan hanya kepentingan politik, karena hanya dilandasi oleh hafa nafsu dan kedengkian.

Sikap tersebut disebabkan karena simpatisan dan kader dari gerakan-gerakan islamis, telah menganggap diri mereka sebagai kelompok pilihan, atau Asy Sya’b Al Mukhtar (Bangsa Pilihan), diksi yang digunakan oleh mantan pengacara Al Ikhwan Al Muslimun, Tsarwat Al Kharbawi. Tidak sedikit dari tokoh-tokoh potensial dari Al Ikhwan Al Muslimun yang telah dikeluarkan hanya karena berbeda pandangan dan kepentingan dengan oknum-oknum yang sedang menguasai Al Ikhwan Al Muslimun. Contoh yang jelas adalah keluarnya Dr. Abdul Mun’im Abul Futuh yang menceritakan kisahnya dalam biografinya yang ditulis oleh almarhum Husam Tamam dan diterbitkan oleh Dar Syuruq Cairo.

Ketiga, gerakan-gerakan islamis hanya bertujuan merebut kekuasaan tanpa mampu berkuasa. Sejatinya, bukan kekuasaan pemerintahan-kenegaraan yang direbutkan, akan tetapi adalah kekuasaan organisasi gerakan-gerakan islamis, dianggap sebagai kekuasaan yang lebih besar dari pemerintahan. Seperti contoh pada pemerintahan almarhum Presiden Muhammad Mursi yang masih diharuskan berkonsultasi dengan para petinggi Maktab Irsyad Al Ikhwan Al Muslimun dalam mengambil setiap kebijakan-kebijakan penting.

Pakar militer senior, Prof. Salim Said dalam bukunya Ini Bukan Kudeta, menilai bahwa para petinggi Al Ikhwan Al Muslimun terlalu medioker dan arogan, sehingga tidak dapat menilai dengan teliti terkait kesetiaan Tentara Mesir yang lebih memilih berpihak kepada rakyat dari pada kepentingan gerakan-gerakan islamis, apalagi Al Ikhwan Al Muslimun. Hasilnya, Presiden Muhammad Mursi dengan mudah digulingkan, karena hanya mendengarkan pandangan dari pihak Al Ikhwan Al Muslimun saja, mengabaikan aspirasi elemen-elemen politik lainnya.

Keempat, kader-kader dari gerakan-gerakan islamis tidak sedikit yang kecewa dengan kekalahan dan perebutan posisi internal organisasi sehingga kemudian bergabung dengan organisasi-organisasi terorisme dan terlibat dalam aksi-aksi teror. Kasus Islam Ghandour, seorang kader Al Ikhwan Al Muslimun, diketahui pada tahun 2015 bergabung dengan ISIS dan telah tewas di Suriah. Rekan-rekan Islam Ghandur sesama kader Al Ikhwan Al Muslimun menyatakan bahwa mendiang Islam Ghandur berpandangan bahwa kekalahan Al Ikhwan Al Muslimun dalam konstelasi politik sehingga tumbang, sehingga perjuangan penegakan Khilafah Islam harus terus dilaksanakan dengan cara berpindah kepada gerakan-gerakan islamis lainnya yang dianggap lebih kuat dalam pandangannya, yaitu ISIS.

Bergabungnya mendiang Islam Ghandur ke ISIS, mematahkan informasi hoax yang menyebut bahwa ISIS adalah hasil konspirasi Musuh Islam untuk memperburuk citra Umat Islam. Padahal sebenarnya, ISIS memang berisi mereka yang merasa kecewa dan kalah dalam perhelatan politik sehingga bermetamorfosa, dari aktifitas politik menjadi aksi-aksi bersenjata yang tidak hanya meneror aparat negara akan tetapi juga merugikan masyarakat.

 

Kelima, munculnya dai-dai independen yang lebih disenangi oleh masyarakat karena murni menyampaikan ilmu-ilmu keagamaan yang ternyata sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Mereka tidak memiliki hubungan dan kaitan dengan gerakan-gerakan islamis, dan murni mempelajari ilmu-ilmu keagamaan seperti fikih, ushul fikih, hadits, tafsir, akhlak dan akidah, serta tidak menyinggung perkembangan perebutan kekuasaan yang membingungkan masyarakat, yang lebih disibukkan dengan permasalahan terkait kekeluargaan dan pekerjaan.

Seperti contoh, Al Azhar saat ini telah menghidupkan kembali kajian kitab-kitab turats di Masjid Al Azhar dan lembaga-lembaga kajian di sekitarnya. Kajian-kajian tersebut dihadiri oleh banyak hadirin dan terbuka lebar tidak hanya untuk mahasiswa/i Univ. Al Azhar yang tidak hanya beradal dari Mesir, akan tetapi dari berbagai penjuru dunia. Masyarakat awam juga berdatangan. Tidak hanya sendiri, bahkan mengajak keluarganya, agar ikut belajar langsung kepada para ulama yang sanad keilmuannya bersambung kepada para ulama terdahulu yang menuliskan kitab-kitab yang sedang dikaji.

Dari tulisan dr. Najih Ibrahim, dapat kita petik sebuah kesimpulan bahwa, masa gerakan-gerakan islamis sudah habis. Umat Islam sudah jenuh dengan segala bentuk kegiatan dan aktifitas yang hanya berorientasi pada kekuasaan yang penuh kata-kata hujatan, ancaman dan caci maki yang sangat tidak bermanfaat, bahkan merugikan Apalagi dengan aksi-aksi kekerasan dan teror.

Umat Islam saat ini sedang kehausan akibat disibukkan dengan informasi-informasi hoax dan propaganda yang penuh kepalsuan dan memancing kemarahan penuh dusta. Tidak heran jika banyak dai-dai yang saat ini lebih digemari untuk diikuti ceramah-ceramahnya, karena memiliki nuansa keilmuan yang dapat melegakan dan menghilangkan kehausan akal dan hati Umat Islam. Al Ustadz Baiduzzaman Said Nursi mengatakan bahwa Ilmu Agama adalah cahaya hati dan ilmu pengetahuan (sains) adalah cahaya akal, yang keduanya merupakan kebutuhan pokok Umat Islam dalam mengarungi dunia yang bagaikan gurun sahara yang melelahkan.

*Mush’ab Muqoddas Eka Purnomo, Lc, Pengamat Terorisme di Timur Tengah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here