Hoaks dan Kisah Tentang Seorang Alim yang Fasik

0
11
BincangSyariah.Com –Salah satu dampak Revolusi Industri 4.0 ialah perubahan dunia dalam arus besar kecepatan teknologi digital. Hal yang paling nampak dalam kehidupan kita terjadinya banjir informasi setiap saat. Dulu, untuk mendapatkan informasi kita yang harus beranjak untuk mencari. Di era digital ini, justru informasi yang datang membanjiri.
Bahayanya ketika banjir informasi itu melanda tanpa diiringi sikap kritis dan selektif terhadap informasi tersebut. Terlebih dalam persoalan informasi dan ajaran keagamaan. Pemahaman terhadap ilmu agama yang kurang memadai menjadi pintu masuk penyebaran gagasan-gagasan yang cenderung memecah belah. Sehingga hoaks, narasi perpecahan akibat gagasan ekstremisme agama, dan ujaran kebencian mendapatkan angin sebar dalam penyemaiannya di negeri ini. Dunia media digital adalah dunia tanpa otoritas keilmuan.
Siapa yang paling banyak dilihat, dibaca, dan dibagikan akan menempati panggung tertinggi. Seorang yang hanya berbekal kemampuan publik speaking dengan ditambahi sedikit kemampuan melawak akan lebih banyak diikuti dan dipuja dibanding para pakar yang jelas keilmuannya. Sehingga kita para pengguna media sosial menjadi lupa, bahwa berilmu adalah dasar yang paling penting dibanding hanya sekedar popularitas. Bahkan, menurut Islam, orang berilmu lebih utama kedudukannya dibanding mereka yang rajin beribadah.
Kebanyakan dari mereka yang mudah menerima pesan bohong, fitnah dan terpapar virus ekstremisme agama ialah mereka yang memiliki semangat beragama dan beribadah yang tinggi. Motivasi beragama dan beribadah yang tinggi ini sayangnya tidak diimbangi dengan ilmu pengetahuan yang sepadan. Padahal dalam Islam, keutamaan orang berilmu jauh di atas orang yang rajin beribadah.
Sehingga sekalipun mereka rajin dalam beribadah namun sangat mudah menerima pesan bohong (hoaks), narasi perpecahan, fitnah dan lain sebagainya dari sumber di media sosial. Penulis menjadi teringat pada sebuah hikayat dalam kitab Maroqil Ubudiyah. Kitab ini ditulis oleh ulama Nusantara kenamaan asal Banten atau yang dikenal dengan Syekh Nawawi al-Bantani. Sebuah kitab Syarah dari kitab Bidayatul Hidayah karya Hujjatul Islam al-Imam al-Ghazali.

 

Di dalamnya, terdapat sebuah kisah yang menarik. Suatu ketika terdapat perselisihan di antara masyarakat tentang kemuliaan orang alim yang fasik dan orang bodoh yang ahli ibadah. Salah satu warga kemudian pergi menuju sebuah pendopo tempat orang yang ahli ibadah itu berada.
Kedatangannya tentu untuk menguji bagaimana respon sang ahli ibadah tadi. Ia kemudian berkata di balik persembunyiannya, “wahai hambaku, aku terima doamu, aku ampuni dosamu, maka tinggalkanlah ibadahmu dan beristirahatlah,”kata orang tersebut. Maka ahli ibadah itu menjawab, “Tuhanku, sesungguhnya aku berharap kepadamu tentang semua ini. Sungguh aku memujimu, bersyukur kepadamu dan beribadah kepadamu sejak dari zaman yang demikian ini”.
Maka jatuhlah ia pada kondisi salah dan kekafiran yang disebabkan kebodohonnya. Kemudian seseorang tadi datang menuju kepada si alim yang fasik dimana ia sedang dalam kondisi meminum khomr. Orang tadi kemudian berkata di balik persembunyiannya, “wahai hambaku, takutlah kepadaku. Aku adalah Tuhanmu yang menutupi dosamu sedangkan kamu tidak pernah malu kepadaku. Maka sungguh aku akan hendak menghancurkanmu sekarang”.
Kemudian dengan cekatan si alim tadi melepaskan pedangnya dari sarungnya dan beranjak dari tempatnya. Ia berkata, “wahai engkau yang terlaknat, kamu tidaklah mengetahui Tuhanmu, mak aku akan mengajarkanmu tentang Tuhanmu sekarang”. Maka seketika itu, seseorang tadi lari dan menjadi mengerti bagaimana kemulian ilmu dan ahli ilmu.
Dari kisah ini kita belajar, bahwa pada dasarnya hoaks, narasi perpecahan, ujaran kebencian, fitnah dan hal-hal yang marak di media sosial ini hanya bisa diatasi dengan ilmu. Kita dan para pengguna media sosial pada umumnya semestinya harus mengisi kapasitas keilmuannya masing-masing untuk memfilter hoaks, narasi perpecahan, ujaran kebencian, fitnah di dunia maya. Kalaupun tidak menguasai apa yang diterimanya, maka semestinya diserahkan kepada ahlinya, bukan malah langsung menerima dan membagikannya.
Wallahu a’lam bis showab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here