Radikalisme akibat salah Hijrah

0
63

Harakatuna.com. Aceh – Gerakan hijrah menjadi penyakit akut di tanah air. Isu hijrah yang gencar digulirkan meraup banyak pengikut di berbagai daerah, polosok hingga perkotaan republik ini. Banyak yang belum menyadari bahwa isu dan gerakan hijrah adalah langkah pertama menuju radikalisme.

Untuk membentengi gerakan ini, Direktur Eksekutif Yayasan Jalin Perdamaian, Yudi Zulfahri mengingatkan aktivis kampus untuk tidak salah hijrah. Pihaknya menegaskan, siapapun yang berniat hijrah dan menekuni jalan dakwah untuk memperhatikan guru ngaji yang benar. “Jika salah guru dapat terjerumus kepada ekstrimisme dan menjadi bagian radikalisme atas nama agama,” tutur Yudi Zulfahri.

Pihaknya menyampaikan keprihatinannya pada gerakan hijrah pada Selasa (10/9), saat memberi materi Stadium General bertajuk “Dinamika Radikalisme dan Pemurnian Idiologi Pancasila dalam Mencegah Terorisme di Aceh”, yang di laksanakan di Aula Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry, Banda Aceh.

Ingin Hijrah Malah Terjebak Radikalisme

“Mahasiswa yang ingin berhijrah di jalan dakwah pastikan jangan salah kamar. Cari guru ngaji yang benar sehingga tidak salah kaprah. Tadinya hendak berubah menjadi baik malah jadi aktivis radikal,” tegas Eksekutif Yayasan Jalin Perdamaian.

Pasalnya, kegiatan ini digagas oleh Prodi Manajemen Dakwah UIN Ar-Raniry. Dalam kesempatan itu juga pemahaman kebangsaan mahasiswa disegarkan juga oleh Dr. Mukhlisuddin Ilyas. Sebagai peneliti isu-isu radikalisme di Aceh, Mukhlisuddin mengaku sangat cemas dengan gerakan hijrah yang semakin tidak terkontrol.

Yudi memaparkan, akar masalah terorisme di Indonesia dalam skema Piramida Terorisme. Ia yang pernah terlibat di kamp teroris bukit Jalin, Jantho, Aceh Besar, mengajak mahasiswa untuk tidak mudah terjebak ajakan gerakan radikal berujung aksi terorisme.

Menurutnya, semua agama di dunia dan di negara manapun, memiliki kelompok radikal berbahaya. Gelombang radikalisme dunia sejak 1979 hingga saat ini, kata Yudi masih memakai agama sebagai basis gerakan.

“Di Amerika ada kristen dengan sayap kelompok radikalnya, Hindu di India, Budha di Myanmar, dan Islam di Indonesia juga ada kelompok radikalnya. Jadi teroris itu bisa muncul dari semua agama,” ujarnya.

Baca Juga: Densus Antiteror Ciduk Seorang Penghuni Kontrakan di Bekasi

Sementara itu, Mukhlisuddin Ilyas memaparkan secara rinci peta pergerakan terorisme di Aceh, dari tidak ada kepada muncul potensi radikalisme pasca perdamaian.

Stadium General Prodi Manajeman Dakwah itu diikuti seratus lebih peserta dari kalangan mahasiswa dan dosen. Acara itu dibuka oleh Dekan Fakultas Dakwah, Dr Fakhri, S.Sos, MA. Hadir jugapada acara itu, Kaprodi Manajemen Dakwah, Dr Jailani, M.Si. (F)

Sumber : harakatuna

#muslimsejati

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here