Berada di Lingkungan Komunisme, Muslim Rumania Tak Hadapi Kendala Jalani Ibadah

0
149

Constanta – Rumania adalah negara Eropa Timur yang mayoritas penduduknya masih menganut komunisme. Namun umat Muslim di sana tidak menghadapi penindasan seperti yang biasa terjadi di negara-negara eks Blok Timur.

Mufti Rumania Murat Iusuf adalah imigran asal Mesir yang sejak 2005 telah menjadi warga Rumania. Ia mengatakan mantan presiden Rumania Nicolae Ceausescu memiliki hubungan baik dengan beberapa negara mayoritas Muslim, dari Iran hingga Lebanon dan Libya. Murat Iusuf mengaku pernah menemani sang presiden kala mengunjungi negara-negara Muslim.

Seorang imam di daerah Dobromir dekat perbatasan Bulgaria, Daniyar Cogahmet, mengatakan banyak masjid yang jarang didatangi saat itu di bawah pemerintahan komunis, terutama oleh kaum muda. Kendati begitu, ia mengatakan bahwa umat Muslim bebas untuk mempraktikkan agama mereka.

Baca Juga: Rasis dan Islamophobia, Gelar Miss Michigan Dicopot

Diakui Cogahmet, Rumania bukanlah yang menjadi tujuan para imigran seperti dari Turki. Bahkan Pada 2007, saat Rumania bergabung dengan Uni Eropa, semua orang ingin pergi ke Jerman sehingga banyak orang Turki di sana.

Constantin Voicu menjadi salah satu penduduk Constanta yang merasa bersyukur leluhurnya pindah ke Rumania. Pria berusia 83 tahun itu memiliki kebun sayur yang berkembang pesat di desa Lespezi di Constanta, yang dikenal dalam bahasa Turki sebagai Tekkekoy.

Voicu sebelumnya adalah petani miskin Kristen dari Transylvania, yang diberi 10 hektar lahan subur setelah adanya aneksasi wilayah tersebut. Aneksasi merupakan upaya untuk memukimkan kembali tanah itu dengan orang-orang Kristen yang setia lantaran ada dendam di masa lalu.

“Saya bukan sejarawan, hanya orang sederhana yang tahu banyak hal. Tetapi orang-orang tahu dan menyukai tetangga (Muslim) mereka dan mereka tidak percaya semua yang mereka lihat di TV,” ujar Voicu dikutip dari laman Republika.co.id.

Umat Muslim Rumania tampaknya terhindar dari retorika Islamofobia yang terlihat di negara-negara tetangganya pada puncak krisis pengungsi pada 2015 lalu. Di tahun itu memang tidak ada unjuk rasa terhadap para pengungsi dari negara-negara mayoritas Muslim. Akan tetapi, protes meletus atas rencana untuk membangun sebuah masjid besar yang didanai Turki di Bucharest. Rencana pembangunan masjid itu akhirnya ditangguhkan pada 2018.

“Kehadiran Muslim di Rumania tetap sebuah masalah kecil dalam agenda politik dan publik,” demikian simpul penulis dalam Laporan Islamofobia Eropa 2017.

Baca Juga: Perangi Islamophobia, Muslimah Ini Berfoto Dengan Demonstran Anti-Islam

Seorang ilmuwan politik di Sekolah Nasional Studi Politik dan Administrasi Publik di Bucharest, Cristian Pirvulescu, mengatakan banyak kemarahan masyarakat dalam beberapa tahun terakhir telah diarahkan pada korupsi daripada para migram miskin atau Muslim.

Pada 2017, Rumania hampir mendapatkan perdana menteri wanita Muslim pertamanya ketika Partai Sosial Demokrat mencalonkan Sevil Shhaideh, seorang politisi keturunan Tatar yang menjabat sebagai wakil perdana menteri saat itu. Penduduk Muslim pun sejak itu hidup berdampingan secara damai di Rumania.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here