Mengoptimalkan Fungsi Masjid Seutuhnya

0
168

Sumber : HarakatunaDewasa ini umat Islam berupaya dengan segenap tenaga, harta, dan fikirannya untuk terus-menerus mengupayakan pembagunan masjid di berbagai daerah.  Masjid-masjid berukuran besar maupun kecil sudah sering bermunculan. Upaya pembagunan dan renovasi masjid lama ternyata tidak diimbangi dengan meningkatnya kualitas spriritualitas umat Islam. Yang ada masjid megah “kering” kegiatan. Tentu ini menimbulkan persoalan mendasar terkait eksistensi masjid saat ini. Bagaimana tidak, masjid yang dibangun begitu banyak dan megah yang seharusnya dimanfaatkan untuk perihal keagaamaan dan sosial kemasyarakatan justru malah digunakan tempat istirahat, melepaskan penat setelah melakukan perjalanan jauh dan sejenisnya. Ketika Nabi Muhammad saw. berhijrah ke Madinah, langkah pertama yang beliau lakukan adalah membangun masjid kecil yang berlantaikan tanah, dan beratapan pelapah kurma. Dari sana beliau mulai sedikit demi sedikit berdakwah dan seiring bertambahnya pengikut, Nabi membangun masjid yang besar. Masjid pertama yang dibangun oleh Rasulullah adalah Masjid Quba’, kemudian disusul dengan Masjid Nabawi di Madinah. Masjid Nabawi sudah mengalami perubahan baik segi penggunaan maupun jamaah yang berdatangan. Sejarah mencatat tidak kurang dari sepuluh peranan yang telah diemban oleh Masjid Nabawi, yaitu: tempat ibadah (shalat, zikir), tempat konsultasi dan komunikasi (masalah ekonomi-sosial-buadaya), tempat pendidikan, tempat santunan sosial, tempat latihan militer dan persiapan ala-alatnya, tempat pengobatan para korban perang, tempat perdamaian dan pengadilan sengketa, aula dan tempat menerima tamu, tempat menawan tahanan, dan pusat penerangan atau pembelaan agama. Quraish Shihab dalam Wawasan al-Qur’anmenyebutkan faktor mengapa masjid zaman dulu berperan luas. Pertama, keadaan masyarakat dulu masih sangat berpegang teguh pada nilai, norma, dan jiwa agama. Dalam kondisi yang demikian ini, masyarakat merasa perlu mengasah nilai-nilai, norma dan jiwa agama. Dan yang demikian itu terdapat di masjid. Namun, beda zaman beda keadaan. Belakangan ini, banyak kalangan atau tokoh agama yang menggelorakan bahwa saat ini umat Islam utamanya pemuanya sudah enggan ke masjid. Mereka lebih tertarik dan sering menonton televisi dan sejenisnya dibandingkan dengan memperdalam ilmu agama di masjid. Kedua, kemampuan pembina-pembina masjid menghubungkan kondisi sosial dan kebutuhan masyarakat dengan uraian dan kegiatan masjid. Pada zaman dahulu, masjid dijadikan pusat kegiatan umat Islam baik dalam masalah agama, sosial, budaya, dan ekonomi. Berbagai lembaga dirumuskan oleh pembina masjid guna memenuhi kebutuhan masyarakat. Bisa dibayangkan betapa bermanfaatnya eksistensi masjid kala itu. Selain itu juga dapat mencerminkan syi’ar Islam. Ketiga, manifestasi pemerintahan terlaksana di dalam masjid, baik pada pribadi-pribadi pemimpin pemerintahan yang menjadi imam/khatib maupun di dalam ruangan-ruangan masjid yang dijadikan tempat-tempat kegiatan pemerintahan dan musyawarah. Keadaan itu berubah sehingga timbullah lembaga-lembaga baru yang mengambil alih sebagian peranan masjid di masa lalu, yaitu organiasasi-organisasi keagamaan swasta dan lembaga-lembaga pemerintah, sebagai pengarah kehidupan duniawi dan ukhrawi umat beragama. Dan lembaga-lembaga itu memiliki kemampuan material dan teknis melebihi masjid. Dalam Muktamar Risalatul Masjid di Makkah pada 1975, menyepakati bahwa suatu masjid baru dikatakan berperan secara baik apabila memiliki ruangan, dan peralatan yang memadai untuk: ruangan shalat yang memenuhi syarat-syarat kesehatan, ruang-ruang khusus wanita yang memungkinkan mereka keluar masuk tanpa bercampur dengan pria baik digunakan untuk shalat maupun untuk Pendidikan Kesejahteraan Keluarga (PKK), ruang pertemuan dan perpustakaan, ruang poliklinik, dan ruang untuk memandikan dan mengkafani mayat, dan ruang bermain, berolahraga serta berlatih bagi remaja. Masjid dalam Arus Globlalisasi Islam sebagai agama universal ditakdirkan sesuai dengan tuntutan zaman. Islam sempurna sebagai sumber dari segala sumber. Di dalam Islam terdapat sumber dasar kesempurnaan tersebut yang termaktub dalam al-Qur’an dan al-hadits. Kedua pusaka tersebut memuat berbagai segala sumber nilai yang dapat dijadikan patokan dalam kehidupan di dunia dan akhirat. Oleh sebab itu, untuk memahami Islam seutuhnya tidak bisa sepotong-potong. Dan masjid merupakan sarana untuk pemahaman serta pendalaman berbagai aspek keislaman tersebut. Jika ditelisik dan dikritisi lebih mendalam, maka akan kita dapati bahwa peranan masjid mulai tergeser dari kedudukan semula, yakni masjid sebagai tiang utama agama Islam, pencetak generasi umat unggulan, dan masjid juga turut menentukan semaraknya syi’ar Islam. Di masjidlah umat Islam sujud, meningkatkan kualitas ketakwaan, dan menyelesaikan berbagai persoalan umat. Inilah signifikansi masjid yang sesungguhnya. Tentu kondisi diatas menjadi sebuah keprihatinan tersendiri. Apalagi saat ini kita sedang dalam masa globlalisasi. Era yang ditandai dengan gencarnya pembangun menyeluruh dan pemanfaat ilmu pengetahuan dan tekonologi dengan arus informasi sebagai acuan utamanya. Salah satu tujuannya adalah mengangkat harkat dan martabat manusia sehingga dapat menciptakan kehidupan sejahtera dan ideal. Era globlalisasi mempunyai karakteristik tersendiri, yakni produktifitas dan efektivitas. Dengan demikian menjadikan persaingan begitu ketat. Barangsiapa mampu bersaing, maka ia akan menjadi pemenang. Akhirnya, salah satu hal atau sikap yang begitu kentara dalam era ini adalah tingginya individualisme. Pada satu sisi, era ini membawa dampak negatif bagi kehidupan manusia. Sebutlah lunturnya budaya lokal karena tergerus arus budaya luar yang begitu dominan dan dijadikan bahan anutan. Praktik hidup bebas, lunturnya budaya gotong-royong, melekatnya sikap pragmatisme, hedonis dan bergesernya orientasi nilai-nilai agama yang dianut adalah akibat dari arus globlalisasi. Pada sisi lain, ia menghembuskan virus-virus positif berupa kesanggupan melahirkan masyarakat kreatif, berwawasan luas, terpenuhinya kebutuhan dan lain sebagainya. Mestinya, setelah masjid berdiri, masjidlah yang “membangun umat”. Jadi, awalnya umat “membangun masjid”, selanjutnya masjid yang “membangun umat” adalah masjid, melalui intensifikasi berbagai kegiatan dalam masjid. Keduanya harus saling berhungan atau sinergi. Dan inilah yang belum terlihat di masyarakat kita saat ini. Sudah saatnya umat Islam bangkit dari keterpurukan. Ayo ! kita mulai perubahan dari generasi muda. Masjid adalah salah satu sarana melahirkan generasi muda yang haus dan gandrung akan kejayaan Islam di masa sekarang, akan datang dan selamanya. Optimalkan peran dan fungsi masjid seutuhnya niscaya Allah akan memberikan kemudahan bagi kita semua. Wallahu a’lam bi al-shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here