Cita-cita Indonesia menjadi negara baldatun toyyibbatun warobbun gaffur

0
130

Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafr adalah istilah yang diambil dari firman Allh Subhanahu wa Ta’ala ketika menyebut Negeri Saba’ yang pada waktu itu indah dan subur alamnya, dengan penduduk yang selalu bersyukur atas nikmat yang mereka terima.

Allh Azza wa Jalla berfirman:  “Sungguh bagi Kaum Saba’ ada tanda (kebesaran Rabb) di kediaman mereka, yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan:) “Makanlah dari rizki yang dianugerahkan Tuhan kalian dan bersyukurlah kepadaNya. Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafr”.(Saba 34:15).

Ciri-Ciri dan Pilar-Pilarnya

Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur merupakan keadaan negeri yang menjadi dambaan dan impian seluruh manusia dengan ciri-ciri:

Negeri yang selaras antara kebaikan alam dan kebaikan perilaku penduduknya.

Negeri yang penduduknya subur dan makmur, namun tidak lupa untuk bersyukur.

Negeri yang seimbang antara kebaikan jasmani dan rohani penduduknya.

Negeri yang aman dari musuh, baik dari dalam maupun dari luar.

Negeri yang maju, baik dalam hal ilmu agama maupun ilmu dunianya.

Negeri dengan penguasa yang adil dan shalih, dan penduduk yang hormat dan patuh.

Negeri yang di dalamnya terjalin hubungan yang harmonis antara pemimpin dan masyarakatnya, yaitu dengan terwujudnya saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.

Adapun pilar-pilar terbentuknya negeri Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafr adalah: Pertama, Ikhlashul Ubudiyyah Lillah, yang berarti memurnikan amalan ibadah hanya untuk Allh.  Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, melainkan agar mereka beribadah (hanya) kepada-Ku. [adz-Dzriyt 51:56].

Mereka tidaklah diperintah, melainkan untuk menyembah kepada Allh dengan memurnikan ketaatan beragama hanya kepada-Nya dan menjauhkan diri dari kesyirikan. (al-Bayyinah 98:5).  Kedua adalah Ittiba Rasul, yaang berarti mengikuti petunjuk Rasul, dan sebagai konsekuensi dari hal ini, ialah penetapan syariat Islam dalam sebuah negeri, baik oleh penduduknya maupun oleh penguasa dan pemerintahannya.

Pernyataan Presiden di atas memberikan pemahaman kepada kita bahwa Pancasila sebagai ideologi dan dasar  negara tidak memiliki contoh nyata negeri yang dicita-citakan, mungkin hanya ciri-cirinya saja, tetapi Allah swt (agama Islam) memberikan contoh nyata  yaitu negeri SABA baldatun toyyibatun wa rabbun ghafur.

Pancasila bukan sosok manusia yang memiliki nilai-nila atau suri tauladan yang perlu dicontoh untuk menjalani kehidupan di dunia.

Berbeda dengan agama, sosok manusia yang dijadikan panutan ada, misalnya Muhammad untuk Islam, Isa untuk kristiani dan agama-agama lainnya.  Muhammad dalam Islam membawa nilai-nilai sebagai panduan kehidupan dunia yang terinci dalam Alquran dan hadist sekaligus Muhammmad sebagai contoh suri teladan.

Jadi, semua nilai-nilai Pancasila itu ada dalam kitab suci masing-masing agama. Kalau ada nilai Pancasila yang tidak tercakup dalam ajaran agama, maka tidak mungkin penduduk Indonesia yang beragama mau mengamalkannya karena tidak ada dasar untuk menciptakan amal.

Oleh karena itu, maka pengamalan nilai-nilai Pancasila nantinya merupakan pengamalan perintah agama.  Ini sesuai dengan sila pertama dari Pancasila.  Kalau Pancasila menerima bahwa seluruh penduduk Indonesia harus beragama, maka semua tingkah laku penduduknya berdasarkan perintah agama bukan perintah Pancasila.

Karena agama adalah pengamalan hidup manusia di dunia untuk akhiratnya.  Kehidupan dunia sebagai ladang untuk menciptakan amal sebagai bekal akhirat.  Ibadah  menciptakan amal. Ilmu adalah pemimpin amal.  Tanpa ilmu, ibadah tidak ada amal.  Pancasila hanya sebatas tataran kehidupan berbangsa dan bernegara (nation state) ideologi dan dasar negara  bukan pada takaran kehidupan sehari-hari (civil society). Ketaatan warga negara Indonesia kepada Pancasila harus merupakan perintah agama, bukan perintah negara agar warganya bisa mengamalkan.

Sumber : Harakatuna

#muslimsejati

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here