Berislam itu Mudah dan Tidak Memberatkan

0
13

 

Apa yang terjadi pada Abdullah bin  Amr bin  Ash patutlah menjadi renungan dan pelajaran yang berharga bagi umat Islam. Karena enggan menerima keringanan dari Rasulullah, pada usia senjanya ia menyesal. Walaupun sikap penolakan tersebut tidak berarti pembangkangan kepada Allah dan Rasulullah, namun semata niatnya tidak lebih karena keinginan luar biasa untuk selalu beribadah kepada Allah.

Ceritanya, saat Abdullah bin Amr masih muda, Rasulullah pernah memberikan berbagai macam keringanan kepada umatnya dalam beribadah. Namun ia menolaknya. Suatu saat Nabi bertanya kepadanya, “Benarkah kamu selalu berpuasa di siang hari dan tidak pernah berbuka?” Abdullah menjawab, “Benar, wahai Rasulullah.” Nabi pun memberi saran, “Cukuplah berpuasa tiga hari dalam sebulan.” Merasa masih muda dan memiliki kebugaran jasmani, ia menanggapi saran Nabi, “Aku sanggup melakukan  lebih banyak dari itu.”

Kemudian Nabi memberikan saran yang lebih ringan lagi, “Kalau begitu, kamu cukup berpuasa dua hari dalam seminggu.” Lagi-lagi Abdullah menjawab, “Aku sanggup lebih banyak lagi.” Rasulullah kembali berkata, “Kalau begitu, lakukanlah  puasa yang lebih utama, yaitu puasa Nabi Daud, puasa  sehari lalu berbuka  sehari”.

Setelah diam sejenak, Nabi kembali bertanya, “Benarkah  kamu membaca  al-Quran sepanjang  malam sampai tidak tidur?” Abdullah menjawab, “Benar, wahai Rasulullah.” Rasulullah menimpali, “Perbuatanmu itu baik sekali. Tetapi aku khawatir kamu akan jenuh membaca al-Quran, terutama bila kamu telah tua nanti.” Kemudian Nabi memberi saran, “Sebaiknya kamu membaca al-Quran sampai khatam selama  satu bulan. Kalau kamu bisa lebih cepat,  khatam dalam sepuluh hari. Dan kalau bisa lebih cepat lagi, khatam dalam tiga hari.”

Abdullah diam terpekur dan berusaha memahami saran-saran tersebut. Rasulullah  lantas mencontohkan dirinya sendiri, “Aku  berpuasa  dan berbuka. Aku salat dan tidur. Aku menikahi perempuan. Ketahuilah, tubuhmu juga punya hak untuk istirahat. Maka siapa yang tidak suka sunnahku, tidak akan termasuk dalam golongan umatku.”

Baca juga : Cara Ulama Menasehati Pemimpin 

Abdullah baru menyadari saran-saran dari Rasulullah tersebut ketika usianya sudah mulai lanjut dan tulang- tulangnya mulai renta sampai ia kesulitan mempertahankan kesetiaannya pada amal-amalnya saat muda dahulu. Ia pun berkata “Andai saja dahulu aku terima kemudahan-kemudahan  dari Rasulullah.”

Islam Agama Mudah

Jika kita telusuri lebih jauh, sebenarnya apa yang disarankan oleh Rasulullah kepada Abdullah bin Amr bin Ash di atas sejalan dengan firman   Allah dalam al-Quran  yang mengisyaratkan bahwa alih-alih menghendaki kesukaran, Allah justru menghendaki kemudahan bagi para hambaNya. Allah tidak membebani seseorang melebihi batas kesanggupan orang tersebut termasuk dalam ibadah.

Allah berfirman:

“ (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). karena itu, Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan Barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (QS. Al-Baqarah: 185).

Pada ayat yang lain Allah juga berfirman:

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (mereka berdoa): “Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau hukum Kami jika Kami lupa atau Kami tersalah. Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau bebankan kepada Kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau pikulkan kepada Kami apa yang tak sanggup Kami memikulnya. beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong Kami, Maka tolonglah Kami terhadap kaum yang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 286).

Sebagai seorang Muslim, tentu kita semua sudah mafhum bahwa setiap hukum dan kewajiban yang telah ditetapkan oleh Allah  wajib dilaksanakan oleh umat Islam. Namun, sebagai manusia Islam sangat menyadari kelemahan batas dan kesukaran. Di samping itu tidak hanya hak Allah, tetapi ada hak manusia yang juga harus dilakukan sebagai seorang manusia.

Suatu kebaikan untuk menghabiskan waktu dengan selalu beribadah shalat, puasa dan membaca Qur’an. Tetapi, bukan suatu keburukan untuk menjeda dan memberikan istirahat tubuh dan rasa insani yang melekat dalam diri manusia. Tidur, lapar dan istirahat adalah kebutuhan manusiawi.

Allah tidak membebani umatnya di luar batas kemanusiaan. Karena itulah, dalam Islam ada konsep tentang rukhshah (keringanan) yang bisa diraih sekalipun dalam ibadah wajib. Kata kuncinya adalah : Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Artinya bukan berarti mengentengkan kewajiban, tetapi sesungguhnya menjalani kewajiban itu sangat mudah dan jangan mempersulit diri. Bahkan dalam kesulitan pun Allah memberikan kemudahan dengan adanya keringanan atau rukhshah,

Belajar dari kisah Abdullah bin Amr bin Ash di atas, Allah sama sekali tidak ingin membebani para hambaNya dengan tugas-tugas ibadah tersebut. Sebaliknya, Dia menginginkan keutamaan ibadah yang terkadung di dalamnya bisa kembali kepada hambaNya tanpa membuat sang hamba merasakan kepayahan.

Wallahu A’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here