Mengenalkan Islam Tanpa Memaksa

0
11

Kota Makkah tidak saja dikenal sebagai pusat beragama tetapi tempat berkumpulnya para pengabdi dan pengurus sesembahan patung-patung, yang disakralkan oleh orang-orang sebelum kedatangan Nabi Muhammad. Datanglah Nabi dengan gagah menawarkan Islam penuh kepercayaan diri. Tapi ruang yang tidak memungkinkan, membuatnya berdakwah secara bersembunyi-sembunyi. Hasil dakwah secara rahasia ini mendapatkan kebahagiaan dengan masuknya Khadijah bin Khuwailid, yang kemudian dipersunting olehnya kelak hari. Disusul pula oleh Zaid bin Harits dan Abu Bakar al-Shiddiq. Ketiganya menjadi amunisi dan bekal terbaik untuk mendakwahkan Islam secara terang-terangan.

Pelebaran sayap pergerakan itu diawali oleh sebuah firman dari Allah, “berilah peringatan kepada keluarga terdekatmu” (Qs. al-Syu’ara [26]: 214). Mau tidak mau, perintah itu pun dijalankan oleh Nabi. Disela-sela memulai karir dakwahnya, Nabi mendapat perlindungan penuh dari pamannya, Abu Thalib. Dalam perjalanannya, Nabi tak semulus yang dibayangkan oleh sahabat-sahabat terdekatnya. Nabi justru mendapat ejekan, hinaan, menjadi bahan tertawa sampai ucapan gila. “Mereka pun berkata, hai orang-orang yang diturunkan al-Qur’an. Sesungguhnya kamu benar-benar orang yang gila” (Qs. al-Hijr [15]: 6).

Orang-orang yang mendengar ajakan itupun mencoba melakukan negoisasi dengan meminta untuk mengikuti dan meninggalkan sebagian masing-masing agama mereka. Ini yang dalam istilah Qur’an disebut dengan “menginginkan bersikap lunak”. Tapi Nabi pun mengerti maksud dan tujuan mereka. Nabi sama sekali tidak memaksa. Kebenaran adalah milik-Nya dan Nabi secara sadar hanya diperintahkan untuk menyebarluaskan ajaran Islam, membawanya dan menyampaikan penuh kelemahlembutan.

Baca juga : Berislam itu Mudah dan Tidak Memberatkan

Inilah yang disebut oleh Ibnu Qoyyim al-Jauziyah dalam sebuah pernyataannya, “Syariat Islam dibangun di atas landasan kebijaksanaan dan kemaslahatan umat manusia. Semuanya adil, semuanya rahmat, semuanya maslahat dan semuanya bijak. Maka setiap keputusan apapun yang telah menyimpang dari keadilan menjadi kezaliman, dari rahmat menjadi laknat, dari maslahat menjadi mafsadat dan dari kebijaksanaan menjadi kesia-siaan, maka ia bukanlah syariat Islam.”

Semua yang diberitakan oleh Nabi dilandasi oleh kebijaksanaan dan kematangan dalam beragama. Sama sekali tidak mendakwahkan Islam dengan tindakan-tindakan kontra-produktif. Ini menjadi penting, di mana akhir-akhir ini, sebagian umat Muslim hadir berdakwah dengan sepotong dalil namun merasa paling benar dan mengajak penuh ketegangan. Objek dakwahnya pun kebingungan dan keterpaksaan. Apa-apa yang disampaikan hanyalah hitam-putih, salah-benar, surga-neraka dan lain sebagainya.

Situasi itulah yang mendorong sesama umat Islam saling bersitegang. Di mana semulanya, Islam datang ke Nusantara dengan penuh kedamaiaan, kesejukan dan kesantunan, tiba-tiba menjadi sebuah angin badai yang menerkam orang yang berbeda (di luar Islam). Sikap saling mengkafirkan, meniadakan keberadaan dan seakan-akan hanya dialah sang pejuang Islam menjadi sesuatu yang biasa di abad 21 ini. Tentunya, model keberagamaan seperti ini bentuk sebuah kemunduran. Tepat kiranya, slogan “Islam terhalangi oleh Muslim itu sendiri”.

Mengapa terhalangi? Islam yang mengajarkan perbedaan, toleransi, saling menguatkan di antara sesama Muslim, mengajak bukan mengejek, merangkul memukul, membahagiakan bukan membahayakan seakan-akan punah oleh gelombang beragama yang kering akan spiritualitas. Ditambah oleh heroik beragama yang belajar keislaman dari sembarangan orang, wabil khusus kepada Mbah Google. Akhirnya, pelajaran agama kering akan ajaran-ajaran yang dilakoni oleh para sufi.

Ditambah lagi oleh model beragama yang lebih mendahulukan pelajaran Fikih ketimbang Tasawuf (hal-hal kejiwaan) membuat paradigma beragama kian “mengerikan”. Ini berlawanan dengan tradisi klasik yang mengawali pembelajarannya dengan membersihkan diri terlebih dahulu. Dan itu hanya dilalui oleh sekumpulan perjalanan spiritual. Yang dalam bahasa modern kemudian diteorisasikan menjadi “Ilmu Tasawuf”.

Hal-hal yang tampak sederhana di atas, masih ditambah lagi oleh gelombang hijrah yang selalu teriak slogan “kembail kepada Qur’an dan Sunnah” tanpa mengerti bahkan mempelajari secara detail perangkat-perangkatnya.

Kesemuaannya itu menjadi penghalang sebagaimana slogan di atas. Mau tidak mau, agar agama kembali hadir dengan wajah yang ramah, menarik dilihat dari pihak luar dan dikonsumsi oleh penganutnya dengan penuh kebanggaan, maka model-model beragama dan pembelajaran harus dirubah sejak saat ini. Dengan demikian, maka setiap orang beragama akan secara otomatis sadar akan perbedaan.

Akan hadir pula orang-orang yang mengajak orang lain tanpa memaksa. Kenapa? Karena ia tidak saja mengerti tapi menyakini bahwa Allah menciptakan bukan dalam wajah yang satu. Jalan menuju kebahagiaan dan kesejahteraan terbuka dari semua penjuru pintu. Pintu Islam, yang dinyakini kebenarannya oleh umat Islam harus disampaikan dengan cara-cara yang elegan.

Pelajaran berharga dari Nabi Hud, “aku tidak meminta imbalan kepadamu atas ajakan itu. Imbalanku hanyalah dari Tuhan seluruh alam” (Qs. al-Syu’ara [26]: 127). Bahkan Nabi Nuh yang berdakwah 950-an tahun mengucapkan hal serupa. Begitu pula Nabi Shaleh dan Nabi Syu’aib. Nabi-nabi terdahulu tidak ada yang mulus tapi tak ada satupun yang berani menjanjikan kaplingan surga seperti yang terdengar belakangan ini.

Sepenggal kalimat “Imbalanku hanyalah dari Tuhan seluruh alam” menjadi bukti bahwa nab-nabi terdahulu pun dalam berdakwah adalah mengajak tanpa memaksakan, walaupun dia nyakini kebenarannya. Dan sebaik-baik pelajaran yang kita ambil adalah teladan penyebaran yang dilakukan oleh para nabi-nabi terdahulu: mengenalkan dan menyebarkan ajaran Islam tanpa memaksa.

Muhammad Makmun Rasyid

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here