Kontestasi Moderatisme Islam di Indonesia

0
12

Berbicara mengenai kelompok-kelompok Islam di Indonesia serasa tidak ada ujungnya, mulai dari kelompok yang disebut tradisionalisme, fundamentalisme, liberalisme dan isme-isme lainnya. Namun dari semua kelompok tersebut, jika dilihat dari segi pemikirannya, secara umum dapat dikelompokkan menjadi dua model: tekstualis dan kontekstualis. Pemikiran tekstualis adalah tipe pemikiran yang dianut oleh kelompok Islam fundamental. Sedangkan kontekstualis adalah tipe pemikiran yang dianut oleh kelompok Islam liberal. Dua kelompok pemikiran tersebut, sejak kemunculannya hingga hari ini terus memicu perdebatan sengit yang tak pernah kunjung selesai.

Secara historis istilah fundamentalis sendiri muncul pertama kali di lingkungan agama Nasrani khususnya di Amerika serikat. Istilah fundamentalis menunjuk kepada bentuk-bentuk konservatif protestanisme yang pada umumnya mereka anti pemikiran modernis. Selain itu, istilah fundamentalis identik dengan interpretasi yang cenderung literal dan terbatas hanya pada teks-teks injil yang menekankan etika tradisional Kristen (tesktual).[1]

Setelah istilah fundamentalis lumrah digunakan dalam agama mereka, selanjutnya istilah fundamentalisme mulai masuk ke dalam agama-agama lain, termasuk Islam. Masuknya istilah ini ke dalam Islam masih dengan karakter yang sama yakni literal (tekstual). Analloginya, jika pada awalnya di lingkungan Nasrani hanya terbatas pada teks-teks injil sebagaimana dijelaskan di atas, maka ketika ia masuk dalam lingkungan agama Islam, jelas juga terbatas pada teks-teks al-Qur’an itu sendiri.

Fundamentalisme dengan pemikirannya yang tekstualis, pada gilirannya akan melahirkan gerakan ektremis  sebagai turunan dari fundamentalisme itu sendiri. Dan–sudah jamak diketahui masyarakat umum–gerakan ekstremis memang dan selalu identik dengan kekerasan.

Baca Juga:  Politisasi Masjid: Awal Kejayaan Atau Kehancuran?

Sebenarnya, baik gerakan ektremisme, maupun ektremis yang bernuansa agama, keduanya bukan hanya sebatas sebagai gerakan protes dalam menuntut keadilan di tengah kondisi sosial sebuah bangsa, akan tetapi ia juga merupakan hasil (produk) pemikiran, atau dengan kata lain ektremisme dalam konteks ini sebenarnya, juga merupakan reaksi dan wacana tanding (counter discourse) atas merebaknya pemikiran liberalisme. Artinya bahwa, kelompok ektremis berpandangan bahwa kelompok liberal beserta seluruh produk pemikirannya merupakan musuh yang harus diberantas dan diperangi. Hal ini dikarenakan kelompok liberal menurut kelompok ektremis merupakan anak kandung modernitas yang, menurutnya dapat membahayakan tidak saja eksistensi mereka namun juga eksistensi agama beserta ajaran-ajarannya.[2]

Sc : Harakatuna.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here