Muslim Kaffah tak Suka Meneror Orang Lain


0
38

Saat ini, Islam dibenturkan dari dalam. Umat Islam berperang dengan sesama muslim demi memperjuangkan ambisi masing-masing. Hal ini berawal dari cara pandang yang berbeda dalam memahami teks suci baik al-Qur’an maupun Hadits Nabi atau berbeda kepentingan.

Belajar dari kejadian penusukan Menkopolhukam, Wiranto yang terjadi pada 10 Oktober 2019 menjadi catatan tersendiri bagi semua kalangan terutama teror kepada sesama manusia sungguh dilarang oleh agama dan dapat mengancam kestabilan Negara.

Dalam sebuah Hadits, Nabi pernah menjelaskan bahwa orang muslim yang baik adalah mampu memberi kedamaian orang lain sehingga terwujud rasa aman pada semua kalangan.

عن عبد الله بن عمرو يقول: قال النبي صلىالله عليه وسلم: المسلم من سلم المسلمونمن لسانه ويده، والمهاجر من هجر ما نهى اللهعنه. رواه البخاري


Artinya: Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr berkata: Nabi bersabda: “Seorang muslim yang baik adalah orang muslim yang lainnya selamat, terhindar dari kejahatan lisan dan tangannya. Orang yang hijrah yaitu orang yang menjauhi segala larangan-larangan Allah. (HR. Bukhari).

Menurut Imam al-Munawi dalam Faidhul Qadirmenjelaskan bahwa hadits diatas menyakiti seorang muslim sangat terlarang bahkan akan menjatuhkan Islam tersendiri. Ada dua kategori menyakiti seorang muslim.

Baca juga : Menjadi Muslim Kaffah Harus Taat Konstitusi 

Pertama, secara terang-terangan berupa fisik seperti mencuri barang milik orang lain memukul, menusuk orang yang tak bersalah.

Kedua, menyakiti orang lain secara  sembunyi seperti dengki akan kesuksesan orang lain atau merasa paling baik dalam kehidupan.

Hijrah yang hakiki adalah orang yang berusaha tak mengikuti hawa nafsunya serta mengikuti ajaran-ajaran Nabi Muhammad SAW serta menjaga ucapan dan perbuatan sesuai aturan. Sedangkan menurut As-Safarini dalam Ghida’Albab mengkisahkan  Imam Ahmad pernah ditanya tentang akhlak yang baik. Lantas ia menjawab:”Akhlak yang baik yaitu tak mudah marah dan dengki kepada orang lain,”

Dari sini cermin kebaikan seseorang dapat dilihat dari prilaku kesehariannya yaitu mampu menyeimbangkan urusan dunia dan akhirat, ia berusaha menunaikan kewajiban yang berkaitan dengan Allah dan serta mampu bersikap baik kepada sesama manusia walau kepada orang yang berbeda keyakinan, berbeda warna kulit, bahasa maupun suku. Semuanya sama rata kedudukannya dihadapan Allah. Yang membedakan adalah ketakwaan dan ketundukannya kepada aturan-aturan yang Ia berikan kepada hamba-hambanya.

Sultan al Ulama Izzudin bin Abdissalam dalam Qowaid Al Sugra menjelaskan bahwa Allah mengutus para rasul serta diturunkan kitab suci bertujuan untuk menciptakan adanya keharmonisan atau kebaikan di dunia maupun akhirat serta menjauhkan segala macam bentuk kejahatan baik berupa sesuatu yang menyakitkan atau segala bentuk penyebabnya. Dari keterangan ini, pelaku teror yang menggunakan bom maupun lainnya sangat dicela oleh Agama, karena agama menganjurkan ketaatan dan ketundukan terhadap ajarannya.  

Dari penjelasan diatas dapat dipahami bahwa orang yang meneror orang lain baik secara fisik maupun dengan cara yang takkasat mata sangat dilarang oleh agama dan bertolak belakang dengan Sunnah Nabi sehingga prilaku tersebut akan mendatangkan kecaman dari semua kalangan.

 

Oleh: Moh Afif Sholeh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here