Ancaman Paham Radikalisme di Kalangan Intelektual

0
71

Penyebaran paham radikal di kalangan terdidik kini sudah di tahap mengkhawatirkan. Para mahasiswa, dosen, atau kalangan akademisi yang diharapkan menjadi penggerak di masyarakat menuju kehidupan yang rukun dan damai, justru menjadi sasaran dan tempat merebaknya paham-paham intoleran yang mengancam kerukunan dan persatuan bangsa.

Lingkungan kampus yang mestinya menjadi tempat berseminya bibit-bibit intelektual pendorong keharmonisan sosial, justru disusupi paham-paham radikal yang tak ramah perbedaan dan menciptakan keresahan. Berbagai hasil penelitian dan survei menunjukkan bagaimana radikalisme sudah merambah ke kalangan terdidik.

Badan Intelijen Negara (BIN) menyebutkan sekitar 39 persen mahasiswa di Tanah Air telah terpapar paham radikal. Hasil pengamatan dari BIN juga menyebutkan bahwa sejumlah kampus di 15 provinsi ditengarai menjadi tempat pembasisan calon-calon pelaku teror baru dari kalangan mahasiswa (Sindonews.com, 28/4/2018). Selain itu, akhir tahun lalu Kemenristek Dikti juga menemukan sejumlah dosen dari beberapa universitas di kota besar diduga kuat terpapar paham radikal (cnnindonesia.com, 22/11/2018).

Kenyataan tersebut membuat kita semakin tersadar betapa paham radikal sudah begitu menyebar di lingkungan kampus atau para akademisi. Oleh karena itu, para intelektual di perguruan tinggi mesti memiliki bekal sebagai benteng yang melindungi diri mereka dari paparan paham radikal.

Apalagi, kalangan intelektual yang masih muda serta belum memiliki kearifan, kematangan sikap, dan keluasan pengetahuan. Gairah yang tinggi untuk mengetahui dan mengkaji berbagai hal jangan sampai justru menjerumuskan kalangan intelektual muda ke dalam kubangan paham radikal, intoleran, bahkan terorisme. Seorang akademisi atau intelektual mesti memiliki kepekaan dalam mengamati apa-apa yang berkembang di lingkungan sekitar, terutama di lingkungan kampus.

Gejala Radikal

 Paham radikal menyebar di lingkungan akademisi melalui berbagai tempat dan berbagai cara. Bisa dari mahasiswa ke mahasiswa melalui perkumpulan atau kegiatan-kegiatan kampus, bahkan bisa juga dari dosen ke mahasiswa.

 Gejala terpapar paham radikal mulai terendus ketika mahasiswa atau dosen mulai mudah menyalahkan, mudah mengkafirkan orang atau kelompok lain, hingga anti terhadap kebhinekaan dan prinsip-prinsip kebangsaan. Oleh karena itu, setiap individu di lingkungan kampus mesti memiliki kewaspadaan. Di sinilah, kalangan intelektual atau mereka yang ada di dunia akademisi mesti bisa mendeteksi sejak dini ketika melihat perilaku, sikap, atau gelagat dari lingkungan sekitar yang menunjukkan gejala-gejala menuju radikalisme.

Intelektual milenial mesti memahami dan mendeteksi proses demi proses yang bisa mengantarkan orang pada paham radikal-terorisme. Hamli, Direktur Pencegahan BNPT (Republika.co, 9/7/2019); pernah menyebutkan tiga tahap perubahan yang dialami seseorang hingga menjadi teroris, terutama di Perguruan Tinggi. Pertama, intoleransi, yakni ketika seseorang mulai menolak hak-hak politik dan sosial dari kelompok yang ia tidak sepaham.

Kedua, jelas Hamli, adalah radikalisme, yaitu suatu ideologi dan paham yang ingin melakukan perubahan pada sistem dan politik dengan menggunakan cara-cara kekerasan atau ekstrem. Di tahap ini, orang semakin intoleran, biasanya anti Pancasila dan gemar menyebarkan paham takfiri.

Ketiga, terorisme. Tahap paling berbahaya ketika seseorang sudah menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan yang menimbulkan suasana teror atau rasa takut secara meluas. Lebih jauh lagi adalah yang dapat menimbulkan korban dengan motif politik, ideologi, atau gangguan keamanan.

Tugas Para Intelektual

Setiap gejala atau indikasi radikal di tiap tahap tersebut mesti dipahami betul oleh para intelektual atau akademisi. Dengan memahami setiap gejala tersebut, kalangan intelektual diharapkan semakin waspada dan bisa melakukan berbagai cara untuk bisa menghindari, menolak; dan bahkan memberantas penyebaran paham radikal tersebut.  

Terkait upaya mengatasi penyebaran paham radikal di kalangan akademisi, Azyumardi Azra pernah mengungkapkan beberapa cara atau langkah yang mesti ditempuh. Pertama, pimpinan universitas harus mengontrol fasilitas kampus, masjid, musala, ruang-ruang pertemuan, dan semua fasilitas. Jangan sampai tempat-tempat tersebut menjadi kegiatan-kegiatan radikal. Kedua, perlu penguatan kembali mata kuliah yang punya kaitan dengan penguatan kebangsaan. Seperti misalnya Pancasila, kewarganegaraan, sejarah, ilmu sosial harus diperkuat dalam konteks kebangsaan (Tirto.id, 20/7/2018).

Narasi kebangsaan yang menyuarakan nilai-nilai Pancasila serta segala hal yang bisa memperkuat kebhinekaan tersebut adalah topik-topik yang mesti disuarakan kalangan intelektual atau akademisi. Ini penting sebagai kontra narasi atas penyebaran paham-paham radikal, takfiri, hingga terorisme. Paham-paham intoleran yang sudah memakan banyak korban tersebut mesti ditolak dengan terus menggemakan paham perdamaian dan prinsip-prinsip kebangsaan.

Kalangan intelektual memang tak hanya cukup membangun benteng bagi dirinya sendiri secara individu. Namun juga secara moral memiliki tugas dan kewajiban untuk membangun diskusi, gerakan, dan kajian-kajian yang strategis. Tujuannya adalah untuk bisa menanggulangi dan mangatasi penyebaran paham radikal, baik melalui ruang-ruang intelektual di lingkungan akademisi maupun di masyarakat secara luas.

Sebagai kalangan terdidik, kalangan intelektual atau akademisi mesti bisa menjadi pionir dalam menyebarkan gagasan, wacana, dan narasi untuk menanggulangi penyebaran paham radikalisme. Lewat penelitian dan kajian-kajian yang dilakukan, kalangan intelektual mesti bisa berdiri di barisan paling depan dalam memproduksi wacana-wacana anti radikalisme.

Sumber : Harakatuna

#muslimsejati

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here