Medsos di jadikan sarana penyebaran paham Radikalisme

0
85

Harakatuna.com. Jakarta-Juru Bicara Badan Intelijen Negara (BIN) Wawan Purwanto mengakui media sosial menjadi faktor dari semakin meluasnya pelaku teror di Indonesia. Wawan menyebutkan peta penyebaran radikalisme banyak didominasi oleh media sosial.

“Karena di medsos ini borderless, jadi ajakan bukan hanya dari daerah berbeda tetapi bahkan bisa dari Suriah langsung,” kata Wawan di Sapa Indonesia Pagi, Kompas Tv, Selasa (15/10/2019).

Bahkan kata Wawan sudah bukan rahasia lagi para teroris bisa dibaiat dan diajarkan membuat teror lewat media sosial. “Sehingga jika menyebar ke seluruh provinsi tidak mengejutkan,” kata Wawan.

Pakar Psikologi Politik UI Hamdi Muluk membenarkan bahwa media sosial bisa menjadi alat efektif bagi para terorisme untuk merekrut anggota. Hamdi mengatakan jaringan teroris saat ini menjaga ideologi tentang global jihad. Dimana mereka merawat wacana mendirikan negara kesatuan Islam global yang disebut khilafah.

Dengan begitu kata Hamdi, peta penyebaran radikalisme selain disampaikan secara langsung mereka juga menyebarkan wacana-wacana untuk mendelegitimasi NKRI. “Untuk capai itu format-format yang dipakai ialah mendeligitimasi NKRI dengan perjuangan-perjuangan yang bisa membuat negara lemah,” kata Hamdi.

Media sosial kata Hamdi memudahkan mereka merekrut para-para pejuang untuk melemahkan negara. Karena setidaknya ada 4 tahap seseorang akhirnya bersedia untuk menjadi teroris. Keempat tahap itu disebut dengan praradikalisasi.

“Pertama mereka akan diperkenalkan dengan narasi-narasi radikal itu, seperti mendeskreditkan pemerintah tidak adil, zalim dan sebagainya,” kata Hamdi.

Tahap kedua ialah identifikasi diri. Dimana para pengikut yang sudah setuju dengan ide pertama diperkenalkan dengan ide-ide perjuangan. “Tahap selanjutnya indoktrinisasi lebih keras, dimana para pengikut diajak untuk melakukan amaliah,” kata Hamdi.

Tahap terakhir barulah para pengikut diajak untuk melakukan jihad dengan berbagai macam bentuk. Misalnya saja seperti yang Abu Rara lakukan. Sehingga kata Hamdi, sekarang jaringan teroris mempersilakan siapa saja untuk berjihad tanpa jaringan struktur yang pasti.

Hal ini tentu berbeda dengan jaringan terdahulu yang memiliki rekrutmen ketat agar seseorang bisa melakukan amaliyah. “Sekarang doktrinnya siapapun boleh jihad dengan cara apapun dan dengan alat apapun karena pergerakan individual-individual,” kata Hamdi.

Diketahui usai penusukan Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Wiranto, densus 88 tidak henti-hentinya menangkap terduga teroris. Hanya dalam waktu 5 hari sudah 22 terduga teroris berhasil diamankan densus 88. Dikutip kompas.com semua yang ditangkap polisi diduga terkait kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD). Dan mereka melakukan penyebaran radikalisme melalui media sosial dan bait secara langsung.

Puluhan orang itu juga diduga telah berbaiat kepada pemimpin organisasi teroris ISIS, Abu Bakar al-Baghdadi. Dua orang dari total 22 terduga teroris merupakan pelaku penusukan Wiranto di Banten, yaitu SA alias AR dan FA.

“Sampai dengan sore hari ini sudah ada 22 tersangka terorisme yang berhasil dilakukan preventive strike oleh aparat Densus 88,” ucap Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Gedung Humas Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin (14/10/2019).

Penangkapan dilakukan sejak kejadian penusukan Wiranto, pada 10 Oktober 2019, hingga hari ini, di sejumlah daerah. Pada Kamis (10/10/2019), aparat mengamankan terduga teroris RA di Banten serta WBN alias Budi di Bandung.

Masih pada hari yang sama, tim Densus mengamankan ayah dan anak berinisial AT dan ZAI di Bali. Keesokkan harinya, Jumat (11/10/2019), Densus 88 menciduk S alias Jack Sparrow di Sulawesi Utara.

Di hari yang sama, R alias Putra ditangkap di Jambi. Dedi menyampaikan, R merupakan otak daripada kelompok tersebut. “Untuk mastermind daripada kelompok ini adalah R alias Putra,” ujar Dedi. Penangkapan terakhir di hari Jumat adalah terduga teroris berinisial TH, yang ditangkap di Cengkareng Timur, Jakarta Barat.

Baca Juga:  Polri Miliki Bukti Soal Ideologi HTI Yang Bertentangan Dengan NKRI

Lalu, di hari Minggu (13/10/2019), terduga teroris berinisial NAS menyerahkan diri di Lampung. Kemudian, tim Densus 88 menangkap terduga teroris A di Sulawesi Tengah, RF di Indramayu, YF dan BA di Cirebon, Jawa Barat.

Untuk Senin hari ini, Densus 88 mengamankan delapan terduga teroris. Rinciannya, APS alias Aris Hidayat dan TH ditangkap di Bandar Lampung. Lalu, Y alias Yudistira, MRM alias Rifki, dan UD ditangkap di Lampung. Terakhir, N, JJ, dan AAS ditangkap di Bandung.

Sumber : Harakatuna

#muslimsejati

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here