Islam, Toleransi dan Budaya Lokal

0
28

Persoalan interaksi Islam dan budaya lokal selalu melibatkan pertarungan atau ketegangan antara agama sebagai doktrin yang bersifat absolut yang berasal dari Tuhan dengan nilai- nilai budaya yang bersifat empiris. Dalam hal ini, agama memberikan sejumlah konsepsi kepada manusia mengenai konstruk realitas yang didasarkan bukan pada pengetahuan dan pengalaman empiris kemanusiaan itu sendiri, melainkan dari otoritas ketuhanan.

Tetapi konstruk realitas yang bersifat transenden tidak bisa sepenuhnya dipahami manusia untuk diwujudkan. Manusia melalui kemampuan nalar yang mengahasilkan pengetahuan dari pengalaman empirisnya, membangun konstruksi realita sendiri yang mungkin khas dan berbeda agama. Konstruksi  realitas yang bersifat kemanusiaan inilah yang kemudian kita kenal sebagai tradisi adat atau budaya.

Landasan Toleransi

Istilah toleran berasal dari bahasa latin, “toleran” yang berarti sabar terhadap sesuatu. Jadi toleransi merupakan suatu sikap atau perilaku manusia yang mengikuti aturan, dimana seseorang dapat menghargai, menghormati terhadap perilaku orang lain.

Dalam kehidupan beragama, perilaku toleran merupakan satu prasyarat yang utama bagi individu yang menginginkan satu bentuk kehidupan bersama yang aman dan saling menghormati. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa toleransi adalah perilaku yang mengarah kepada sikap terbuka dan mau meyakini adanya berbagai perbedaan, baik dari sisi suku bangsa, bahasa, warna kulit, adat istiadat, budaya, serta agama (Adeng Muchtar Ghazal, 2016: 27).

Adapun yang menjadi landasan toleransi dalam Islam adalah hadis nabi yang menegaskan prinsip yang menyatakan bahwa Islam adalah agama yang lurus serta toleran. Kemudian Allah dalam firmannya juga memberikan patokan toleransi sebagaimana ayat berikut :

لَا يَنْهٰىكُمُ اللّٰهُ عَنِ الَّذِيْنَ لَمْ يُقَاتِلُوْكُمْ فِى الدِّيْنِ وَلَمْ يُخْرِجُوْكُمْ مِّنْ دِيَارِكُمْ اَنْ تَبَرُّوْهُمْ وَتُقْسِطُوْٓا اِلَيْهِمْۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِيْنَ()

اِنَّمَا يَنْهٰىكُمُ اللّٰهُ عَنِ الَّذِيْنَ قَاتَلُوْكُمْ فِى الدِّيْنِ وَاَخْرَجُوْكُمْ مِّنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوْا عَلٰٓى اِخْرَاجِكُمْ اَنْ تَوَلَّوْهُمْۚ وَمَنْ يَّتَوَلَّهُمْ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْن()َ

Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan mereka sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu dalam urusan agama dan mengusir kamu dari kampung halamanmu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, mereka itulah orang-orang yang zalim.(Q.S  Al- Mumtahanah : 28).

Baca Juga:  Bahaya Laten Terorisme

Ayat tersebut menginformasikan kepada semua umat beragama, bahwa Islam tidak melarang untuk membantu dan berhubungan baik dengan pemeluk agama lain dalam bentuk apapun, selama tidak berkaitan dengan masalah akidah dan ibadah Mahdhah  (ibadah wajib), seperti shalat, puasa, haji dan sebagainya (Abu Bakar, 2015: 126-127).

Islam dan Budaya

Setiap pemeluk agama pasti memiliki tradisi kebudayaan yang diwarisi dan dikembangkan secara turun temurun. Dalam Perkembangan itu selalu terjadi perkawinan antara keyakinan keagamaan dan budaya sebagai praktek kreativitas manusia.  Islam pun juga demikian, berkembang  melintasi batas dengan terlebih dahulu berinteraksi dengan unsur- unsur budaya lokal.

Jika dilihat dari kaitan Islam dengan budaya, paling tidak ada dua hal yang perlu diperjelas. Pertama, Islam sebagai konsepsi sosial budaya dan Islam sebagai realitas budaya. Kedua, Islam sebagai konsepsi budaya ini oleh para ahli sering disebut dengan great tradition (tradisi besar). Sedangkan Islam sebagai realitas budaya disebut dengan little tradition (tadisi kecil) atau local tradition (tradisi lokal) atau juga Islamicate, bidang- bidang yang Islamic yang dipegaruhi Islam.

Adapun praktek toleransi keagamaan Islam dalam budaya lokal antara lain, acara slametan (3,7,40,100, dan 1000 hari) di kalangan suku jawa. Tingkeban (tujuh hari). Dalam bidang seni, juga dijumpai proses akulturasi seperti dalam kesenian wayang Jawa.

Wayang merupakan kesenian tardisinonal suku/etnis Jawa yang berasal dari Agama Hindu India. Pada sisi lain, secara fisik akulturasi budaya yang bersifat material dapat dilihat. Misalnya, bentuk masjid Agung Banten yang beratap tumpang, berbatu tebal, bertiang saka, dan sebagainya. Ini benar- benar menunjukkan ciri- ciri arsitektur lokal. Demikian juga dua jenis pintu gerbang Bentar dan Paduraksa sebagai ambang masuk masjid di keraton Kaibon (Laode Monto Bauto, 2014: 5).

Baca Juga:  Parasit dan “Nasionalisme Masturbasif”

Toleransi dalam Islam

Dengan demikian, toleransi dalam Islam adalah otentik. Artinya tidak asing lagi dan bahkan mengeksistensi sejak Islam itu ada. Karena sifatnya yang organik, maka toleransi di dalam Islam hanyalah persoalan implementasi dan komitmen untuk mempraktekkannya secara konsisten. Namun, toleransi beragama menurut Islam bukanlah untuk saling melebur dalam keyakinan. Bukan pula untuk saling bertukar keyakinan di antara kelompok-kelompok agama yang berbeda itu.

Toleransi di sini adalah dalam pengertian mu’amalah (interaksi sosial). Jadi, ada batas-batas bersama yang boleh dan tak boleh dilanggar. Inilah esensi toleransi di mana masing-masing pihak untuk mengendalikan diri dan menyediakan ruang untuk saling menghormati keunikannya masing-masing tanpa merasa terancam keyakinan maupun hak-haknya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here