Pemuda Adalah Harapan Bangsa

0
32

Kini kita tiba menyaksikan kembali agenda nasional pada 28 Oktober 2019, tepatnya pada momentum sumpah pemuda. Di mana refleksi sumpah mengumpulkan pemuda-pemuda terbaik bangsa berhasil menyatukan komitmen dan jiwa patriotnya hanya untuk merebut kemerdekaan Indonesia dari tangan penjajah.

Komitmen pemuda untuk bersatu dalam tumpah darah, bersatu dalam berbangsa, dan bersumpah atas nama Indonesia demi terciptanya simbol satu-kesatuan negara dalam tatanan konsep negara Indonesia yang merdeka dari arus deras radikalisme, dan menghindar dari potensi-potensi api perpecahan bangsa dan negara.

Pelbagai problem kebangsaan terus-menerus silih berganti menguji eksistensi kita sebagai bagian dari generasi atau pemuda harapan bangsa. Kompleksitas problem kebangsaan tersebut rentan dan berpotensi mengancam integrasi dan keutuhan bangsa dan negara akibat dampak masifnya faham radikalisme.

Negeri ini seolah-olah menjadi pusat perhatian kelompok Islam radikal dalam menyebarkan faham radikalisme di kalangan pemuda. Bahkan, hampir nyaris perguruan tinggi negeri di Indonesia sekalipun yang banyak pemudanya telah menjadi konsentrasi penyabaran faham agama dengan cara-cara kekerasan (ekstrem).

Dalam konteks Indonesia, radikalisme sebagai produk ideologi Islam transnasional sangat mengkhawatirkan pemuda kita, bahkan Indonesia saat ini termasuk negara darurat radikalisme karena infiltrasi radikalisme dan penyebaran ideologi takfiri sebagai produk ideologi Islam transnasional terus berkembang dan eksis seperti HTI dan ISIS.

Bahaya Laten Radikalisme

Kelompok Islam radikal ini memang mulai menyasar pemuda-pemuda di perguruan tinggi negeri, model penyebarannya lewat dakwah-dakwah keagamaan di masjid, komunitas, dan bahkan menjadi lembaga dakwah kampus (LDK) sebagai sarana untuk menyebarkan faham radikal. Hal ini perlu kita waspadai karena sangat berbahaya.

Pemuda yang seharusnya memiliki faham yang menjunjung tinggi prinsip nasionalisme dan agama kerap kali disusupi dengan faham-faham ekstrem. Pada kenyataannya, pemuda masa kini telah banyak yang terjaring gerakan al-Qaeda, Islamic State of Iraq and Syria (ISIS), terutama Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang hari ini mulai bertumbuh di lembaga pendidikan tinggi.

Faham radikalisme yang telah merasuki psikologi pemuda, banyak dari sebagian pemuda yang terbukti melakukan dakwah keagamaan yang dikembangkan dengan model yang ekstrem. Hampir nyaris pemuda-pemuda kita yang menggunakan jihad takfiri dalam dakwah keagamaannya, sehingga tafsir pembenaran sepihak kerap muncul.

Di tengah krisis pemuda yang memiliki jiwa nasionalisme dan agama yang tinggi, radikalisme dapat kita pastikan bertumbuh dan berkembang selama belum mampu merubah suatu sistem atau pola gerakan keagamaan. Agama yang mengajarkan kita untuk berprilaku ramah, sopan, dan santun malah dicap kali sebagai produk kekerasan.

Tantangan dan Komitmen

Padahal, Islam sejatinya tidak mengajarkan pemuda untuk bersikap kasar dan keras dalam menyampaikan dakwah-dakwah keagamaan, sehingga relevansi agama, terutama Islam tidak kehilangan kehormatannya akibat prilaku buruk yang dilakukan oleh kelompok Islam radikal yang tidak bisa bertanggung jawab dan tidak mendidik pemuda kita dengan baik.

Tak heran jika setiap pemuda harus memiliki tujuan yang kuat dan baik dalam upaya membangun bangsa dan negara tanpa harus kita mengganggu pluralitas agama dan toleransi perbedaan sebagai fondasi awal terciptanya bangunan harmoni kebangsaan, sebab pemuda hari ini adalah pemuda penentu perubahan dan arah masa depan bangsa yang tidak terbelenggu dengan faham radikalisme.

Lantas wajar jika Nabi Muhammad SAW, menegaskan dalam sebuah hadits, “syu’banu al yaumu ridjalu al-whad”. Artinya, memandang pemuda sebagai harapan masa depan dan hari esok. Oleh karena itu, potensi dan energi besar pemuda sangatlah berarti bagi sebuah bangsa, khususnya dalam memerangi dan melawan virus-virus kelompok Islam radikal.

Terlepas dari persoalan ini, pemuda yang memiliki idealisme, kreativitas, dan inovasi yang tinggi setidaknya mampu memerangi paham radikalisme yang beredar hingga kini, sehingga kita sebagai pemuda tidak lagi sia-sia menjadi sebuah predikat dan lokomotif perubahan bangsa yang bebas dari doktrin-doktrin keagamaan yang ekstrem.

Paling tidak, harapan terakhir untuk mempersatukan komitmen pemuda adalah melalui banum-banum atau organisasi pemuda Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Seperti halnya, peran Gerakan Pemuda Ansor, Banser, IPNU, dan Forum Pemuda Muhammadiyah. Dari semua gerakan pemuda tersebut setidaknya kehidupan bangsa dan negara tetap terjaga utuh, dan tidak ada lagi faham radikalisme atau kelompok Islam radikal di negeri ini.

Semangat kebangsaan pemuda mencerminkan pemuda adalah pahlawan bangsa, sebab bangsa yang besar karena janji setia pemuda bersumpah, bersatu untuk Indonesia melindungi agama dan negara Pancasila. Wallahu ‘alam Bis Shawab.

Sumber : Harakatuna

#muslimsejati

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here