Musim Gugur Radikalisme (?)

0
8

pakah radikalisme tengah memasuki musim gugur, seiring tewasnya al-Baghdadi? Itu bukan sesuatu yang mesti dipersoalkan. Yang jelas, faktanya, musim gugur itu pergi, tetapi akan datang kembali. Jangan sampai radikalisme juga demikian.

Oktober 2012, ketika Trias Kuncahyono, eks Wakil Pemimpin Redaksi Harian Kompas, menulis sebuah buku, Musim Semi di Suriah, mungkin ia tidak pernah berpikir bahwa Negara pimpinan Assad itu akan bernasib setragis sekarang. Bahkan, barangkali, ia tidak menyangka bahwa Islamic State of Iraq-Suria (ISIS) akan menghancurkan harapan yang ia sebut sebagai ‘Musim Semi’.

Musim Semi, kata yang kedengaran indah, padahal di dalamnya adalah chaos, kekacauan; bentrokan aspirasi perebutan kekuasaan. Revolusi Suriah tidak semulus penumbangan Husni Mubarak di Mesir, tidak semulus pelengseran Ben Ali di Tunisia, juga tidak semudah ketika rakyat Libya mendesak mundur Muamar Khadafi bahkan membunuhnya.

Suriah justru bertambah pelik, dan harapan revolusi semakin kabur. Yang terjadi, ketika ISIS lahir, ialah perang sipil. Bukan lagi rakyat melawan Assad, tapi rakyat membantai rakyat untuk menguasai Assad. Kedengarannya memang naif, dan membingungkan. Tetapi faktanya, tidak sampai satu dekade, ISIS, dengan utopia Negara Islam, membuat Suriah seperti Negara tak layak huni.

ISIS Sang Teroris; Sebuah Kilas Balik

Dunia mengecam ISIS. Sang pemimpin, Abu Bakar al-Baghdadi, bahkan ditetapkan sebagai teroris yang kepalanya dihargai sebesar US$ 10 juta, atau sekitar Rp 140 triliun, oleh Amerika Serikat pada tahun 2011, bagi siapa saja yang bisa menyuguhkan informasi keberadaan, penangkapan, atau kematiannya, sebagaimana dilansir dari BBC.

Pria kelahiran Samarra, sebelah utara Baghdad, tahun 1971 itu memiliki nama asli Ibrahim Awad al-Badri. Ia dikenal melalui upaya merger Al-Qaeda dengan Front al-Nusra di Suriah, 2010 lalu. Reputasi al-Baghdadi sebagai taktisi medan perang yang bengis dan terorganisir, disinyalir sebagai buah radikalisasi selama empat tahun ia ditahan di Camp Bucca, Irak—penjara para pemimpin Al-Qaeda.

Yang menarik ialah, ISIS, sang teroris itu, bukanlah spesies baru gerakan Islam radikal. Jauh sebelum al-Baghdadi terkenal, pada tahun 2004, Abu Mus’ab al-Zarqawi mengubah Jama’ah Tauhid wa al-Jihad menjadi Al-Qaeda Iraq (AQI). Setelah al-Zarqawi wafat, ia digantikan Abu Ayyub al-Misri. Pada Oktober 2006, di samping AQI, al-Misri juga mendeklarasikan Islamic State of Iraq (ISI).

Baca Juga:  Masih Saktikah Pancasila Hari Ini?

Setelah al-Misri wafat, pada 2010, al-Baghdadi mengambilalih komando. Ia tak hanya memperluas teritori ISI menjadi Islamic State of Iraq and Levant/Sham/Suriah (ISIL). Melalui serangkaian intrik politik, ia bahkan berani mengumumkan pembentukan kekhalifahan di Mosul, Irak, pada Juni-Juli 2014 lalu. Persebaran ISIS pun menyasar seluruh dunia, termasuk juga, Indonesia.

Namun, hari-hari ini kita dikejutkan dengan berita kematian al-Baghdadi, setelah Amerika Serikat mengerahkan 100 tentara elite dan 8 helikopter, pada Sabtu (26/10) malam. Presiden Amerika Serikat, Donal Trump kemudian melakukan konferensi pers sehari sesudahnya, Minggu (27/10). Al-Baghdadi bunuh diri setelah merasa tidak ada kesempatan lari dari operasi militer AS.

Sebuah terowongan bawah tanah di Provinsi Idlib menjadi saksi meninggalnya pemimpin teroris terbesar. Jenazah al-Baghdadi, seperti dilansir Detik, dibuang ke laut, setelah dilakukan prosesi pemakaman. Hassan al-Muhajir, juru bicara ISIS, sekaligus tangan kanan al-Baghdadi, juga tewas operasi pasukan khusus AS dan milisi Kurdi, namun dalam serangan terpisah dari al-Baghdadi.

ISIS; Suksesi atau Transformasi?

Menarik untuk dicermati, konfirmasi pertama kali tentang tewasnya al-Baghdadi, satu-satunya sumber, ialah Trump. Karena itu, seperti dilansir Tempo, pengamat terorisme, Harits Abu Ulya meragukan. Itu dianggap, tidak lebih, disebabkan kondisi politik AS yang sedang tidak aman. “Butuh opini media untuk mengkonfirmasi,” ungkapnya.

Tetapi, terlepas dari keraguan yang tak seberapa itu, kematian al-Baghdadi merupakan pukulan telak. Selama ini, al-Baghdadi adalah kekuatan moral bagi ISIS. Meski kita tidak boleh terburu-buru mengatakan, ISIS akan tiarap, seperti Al-Qaeda pasca Osama bin Laden meninggal, namun yang jelas kekuatan ISIS tidak akan lagi sama, dengan masa al-Baghdadi.

Hanya ada dua kemungkinan, yang menjadi jalan terang ISIS; suksesi atau transformasi. Beberapa petinggi ISIS dikabarkan siap mengambilalih komando, itu jalur suksesi. Atau, akankah ISIS berubah wujud, sebagaimana Al-Qaeda pada ISIS. Ketika Osama tewas, al-Baghdadi tampil ke permukaan, meski melalui organisasi lain. Sepeninggalnya, adakah orang lain yang juga bersedia unjuk muka?

Baca Juga:  Menerima Eks ISIS Pulang ke Indonesia; Setuju atau Tidak?

Tersiar kabar bahwa al-Baghdadi sudah menunjuk penerusnya sebulan lalu, yakni Abdullah Qardash. Namun, Hisham al-Hashemi, pakar ISIS dar Irak meragukan validitas kabar tersebut. Lalu ia menyuguhkan dua kandidat lain; Abu Othman al-Tunsi, kepala Majelis Syura ISIS, dan Abu Shaleh al-Juzrawi, Badan Eksekutif ISIS. Sayangnya, keduanya tidak berasal dari Irak maupun Suriah.

Oleh karena jalur suksesi tampak bukan sesuatu yang mudah, Mengingat ISIS kini memiliki daerah teritori yang relatif besar, maka kemungkinan terbesar yang ditempuh ISIS ialah transformasi. Memang tidak ada yang menjamin hal ini. Tetapi yang jelas, sekalipun suksesi ditempuh, AS tidak akan diam, sebagaimana mereka juga membunuh Hamza bin Laden.

Bagaimanapun jalur suksesi ditempuh, sang penerus tidak akan sekuat al-Baghdadi, dan lebih mudah pula bagi AS untuk meredam segala sepak terjangnya. Tetapi jika yang ditempuh ialah transformasi, maka kita mesti waspada dengan lahirnya hantu baru. Yang jelas, ISIS juga terlanjur sakit sekaligus marah. Kepada AS, pasti mereka tidak akan menaruh ampunan.

Hantu itu Bernama Radikalisme

Sebenarnya, benang kusut antara Al-Qaeda, ISIS, dan kemungkinan terburuk lahirnya organisasi sejenis ke depan, ialah tentang radikalisme. Segala yang kuat akan tiba di masa puncak, lalu musnah, dan lahirlah yang baru. Siklus yang menakutkan tersebut tak ubahnya hantu, dan hantu itu bernama radikalisme.

Radikal sebagai sebuah ideologi tidak akan sirna, kendati segala kulit luar (casing) dikoyak sedemikian rupa. AS boleh bangga, menganggap tewasnya al-Baghdadi sebagai pencapaian terbesar kedua, setelah sebelumnya berhasil menyergap-tewas Osama bin Laden. Ini juga bisa kita lihat, bagaimana ideologi HTI justru semakin masif, kendati ormasnya dihanguskan.

Osama baru, al-Baghdadi baru, tidak menutup kemungkinan juga akan segera lahir. Tidak ada yang tahu waktunya, tidak ada yang tahu pula pakaian(baca: nama organisasi)-nya. Kita pun hanya bisa mendeteksi mereka melalui linearitas ideologi. Juga dapat menghabiskan mereka melalui pemusnahan ideologi itu sendiri.

Baca Juga:  The Santri: Message of Tolerance, Peace and Anti-Radicalisme

Sebagaimana yang sudah-sudah, tentu ini menjadi PR bersama, bahwa radikalisme harus dimusnahkan hingga ke akar-akarnya. ISIS boleh saja sudah dilemahkan, kalau tidak mau bilang dilenyapkan, kekuatannya. Tetapi waspada tetaplah keharusan, karena: bukankah hantu yang diusik di satu tempat akan pindah ke tempat lain dengan pakaian/rupa berbeda?

Agenda Kita

Bahwa Indonesia tetap harus waspada, seperti diungkapkan oleh Menko Polhukam Mahfud MD, adalah sesuatu yang benar adanya. Di Negara kita, ISIS adalah ideologi paten bagi pengikutnya. Tidak ada urusan mau al-Baghdadi hidup atau tewas, yang menganut paham radikal akan senantiasa merongrong eksistensi NKRI.

Agenda bersama kita ialah meredam sekuat mungkin merebaknya radikalisme, seperti apa pun ia menjelma. Salah satu warning kelompok radikalis bahwa mereka tidak bisa diremehkaan keberaniannya, ialah tragedi nahas penusukan eks-Menko Polhukam Wiranto, beberapa waktu yang lalu, oleh salah seorang anggota Jama’ah Anshar al-Daulah (JAD).

Pemberantasan radikalisme memerlukan saling pangku tangan semua elemen masyarakat, dari ormas apa pun, di dalam atau di luar pemerintahan. Perlu juga memberantasnya dari semua sisi; ideologi serta sepak terjangnya. Langkah taktis kelompok radikalis barangkali bisa diserahkan kepada militer, tetapi pemberantasan ideologi mereka menjadi tugas pemangku keagamaan dan ormas.

Apakah revolusi yang dimimpikan rakyat Suriah segera terwujud, apakah radikalisme global tengah memasuki musim gugur, seiring tewasnya al-Baghdadi? Itu bukan sesuatu yang mesti dipersoalkan. Yang jelas, faktanya, musim gugur itu pergi, tetapi akan datang kembali. Jangan sampai radikalisme juga demikian; berhasil dibuat tiarap sementara, lalu kembali datang dengan kekuatan ekstra (!)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here