Memahami Cadar : antara Tuntunan dan Tontonan

0
12

Wanita seringkali diasumsikan biang dari fitnah dunia, nyaris setara dengan fitnah yang ditebar oleh harta. Oleh karena itu, agama berkepentingan untuk meminimalisir berbiaknya fitnah ini. Maka, menutup aurat dipilih sebagai syari’atnya.

Cadar atau yang akrab dengan istilah hijab syar’iy diklaim sebagai penutup aurat orisinil ajaran Islam, kendatipun banyak wanita tak mengindahkannya. Alasannya beragam, belum mendapat hidayahlah, tidak cocoklah, bahkan, karena bukan santri, hingga mereka tak berhijab. Lalu bagaimana sesungguhnya hukum memakai hijab syar’iy? Apakah hijab syar’iy diwajibkan kepada semua wanita dari semua kalangan?

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِّأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ

Secara tekstual ayat ini menunjukkan bahwa berhijab syar’iy merupakan kewajiban bagi semua kalangan wanita (wanita muslimah, wanita merdeka dan wanita yang baligh)

Konsekwensi logisnya, hijab syar’iy tidak diwajibkan kepada wanita non muslimah (wanita kafir). Alasannya, karena mereka tidak dibebani untuk melaksanakan ajaran Islam, karena hijab syar’iy merupakan salah satu bentuk ibadah, melaksanakan perintah Allah di dalam al-Qur’an.

Perintah berhijab syar’iy  tak ubahnya seperti perintah shalat bagi wanita muslimah. Barang siapa yang tidak berhijab syar’iy karena mengingkari kewajibannya, maka statusnya sama dengan wanita murtad (wanita kafir). Dan barang siapa yang tidak berhijab syar’iy, hanya semata tidak cocok dengan busana Islami ini, sementara masih menyakini kewajiban berhijab syar’iy, maka, wanita ini dianggap wanita yang telah melakukan kemaksiatan yang bisa ditebus dosanya dengan bertaubat, karena menyalahi perintah Allah dan ajaran al-Qur’an.

Bagaimana dengan wanita non muslimah? Sekalipun mereka tidak diwajibkan mengenakan hijab syar’iy bukan berarti mereka diperkenankan mempertontonkan aurat mereka di muka publik. Hal ini demi menjaga nilai nilai etika social yang sesungguhnya dikandung oleh perintah berhijab syar’iy.

Bagaimana dengan wanita sahaya (wanita yang secara sosial-ekonomi tertindas)? Menurut Abu Hayyan, perintah berhijab syar’iy terlebih lagi menutup aurat, merupakan perintah umum bagi semua kalangan wanita; baik wanita merdeka ataupun wanita sahaya, karena sesuai dengan spirit syari’at untuk menciptakan nilai-nilai etika sosial yang tidak gaduh dan berkonflik.

Ali al-Shabuni memberikan saran, diharapkan kepada seorang ayah muslim, untuk membiasakan putri putrinya (sudah baligh maupun belum baligh) untuk berhijab syar’iy, kendatipun mereka tidak dibebankan hukum wajib berhijab syar’iy namun hal ini sebagai tindakan preventif, hal ini dianalogikan kepada perintah shalat sebagaimana sabda Nabi

مروا أولادكم بالصلاة وهم أبناء سبع, واضربوهم عليها وهم أبنا عشر وفرقوا بينهم في المضاجع

“Perintahkan anak anakmu yang sudah berusia tujuh tahun untuk melakukan shalat, dan pukullah mereka diusia sepuluh tahun dengan pukulan mendidik karena meninggalkan shalat, dan sekaligus pisahkan ranjang mereka” Sunan Abu Dawud, No Hadits 423

Cara Berhijab Menurut Islam

Lalu bagaimana cara berhijab/berjilbab yang benar menurut agama?

Allah memerintahkan kepada wanita wanita beriman untuk berhijab dengan mengenakan jilbab untuk melindungi dan menjaga mereka dari pandangan mata nakal laki laki. Namun terjadi perselisihan dikalangan ahli ta’wil dan tafsir soal bagaimana cara berhijab. Pertama, Ibn Jarir al-Thabari mengeluarkan fatwa dari Ibn Sirin. Ibn Sirin Berkata: Aku pernah bertanya kepada Ubaidah al-Salmani tentang ayat

يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَابِيبِهِنَّ

 Lalu Ubaidah al-Salmani melepas gamis yang ia kenakan kemudian gamis tersebut ditutupkan ke wajahnya dengan model cadar ala ninja namun bedanya yang terlihat hanya mata kirinya. (Tafsir al-Dar al-Mantsur, al-Suyuthi, 11/108)

 Kedua, Abu Hayyan meriwayatkan pendapat Ibn Abbas. Ibn Abbas berkata: bahwa jilbab itu melingkar mulai dahi sampai hidung dan yang tampak hanyalah kedua matanya tetapi jilbab itu menutupi benjolan dadanya. Model atasnya persis ninja namun menjuntai hingga menutupi dada. (al-bahrul Muhid, Abu Hayyan, 7/250

Ketiga, diriwayatkan dari Al-Sidi, model jilbab seperti cadar ninja namun yang tampak hanyalah salah satu matanya saja. Abu hayyan berkata: jilbab seperti ini adalah kebiasaan wanita wanita Andalusia mengenakan jilbab. (al-bahrul Muhid, Abu Hayyan, 7/250)

Keempat, Abd Razzaq dan sejumlah Ulama’ mengeluarkan fatwa dari Ummu alamah: beliau berkata: ketika ayat

يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَابِيبِهِنَّ

Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka

Diturunkan oleh Allah swt. Maka sontak wanita wanita Anshar saat keluar dari rumah rumah mereka bisa terlihat jelas di atas kepala mereka seakan akan bertengger burung ghirban (burung yang memiliki bulu berwarna hitam pekat. (Ahkam al-Qur’an, al-Jashshash, 3/372)

Kriteria Hijab

Kreteria  atau syarat penutup disebut hijab syar’iy.

Syarat Pertama, hijab itu harus menutupi sekujur tubuh wanita karena Firman Allah

يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَابِيبِهِنَّ

Jalabib kata jama’ dari Jilbab. Jilbab adalah baju longgar wanita yang menutupi sekujur tubuh wanita. Sementara kata kata mengulurkan itu yang dimaksud adalah menjuntai lepas kebawah. Maka bia disimpulkan bahwa hijab syar’iy itu adalah menutupi sekujur tubuh.

Baca juga : Tidak Sembarangan Menjadi Hakim, Ini Kriterianya Menurut Islam

Syarat kedua, hijab itu harus berkain tebal yang bisa menyembunyikan warna kulit dan lekuk tubuh. Karena tujuan dari hijab itu adalah menutup. Jikalau ada baju aatau jilbab tidak menyembunyikan warna kulit dan lekuk tubuh maka tidak bisa dianggap hijab syar’iy.

Syarat Ketiga, hijab harus sepi dari hiasan hiasan menarik dan memikat serta mempesona yang mampu mengalihkan pandangan laki laki. Artinya hijab itu harus didesain sesederhana mungkin.

Syarat keempat, hijab itu harus longgar tidak boleh ketat hingga memperlihatkan leku lekuk aurat tubuh wanita.

Syarat kelima, hijab tidak boleh disemproti atau diolesi minyak wangi yang aromanya sangat menggoda.

Syarat keenam, hijab wanita tidak boleh menyerupai pakaian laki laki. (Rawai’ al-Bayan, Ali al-Shabuni, 2/383-386).

PENULIS

ABDUL WALID

Alumni Ma’had Aly Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo

Dan Dewan Asatidz di Pondok Pesantren Nurut Taqwa Cemoro Banyuwangi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here