Hubungan Etika dan Agama

0
7

Dalam kehidupan manusia haruslah memiliki panduan dalam berperilaku. Manusia makhluk sosial yang meniscayakan interaksi dengan yang lain. Untuk mengatur interaksi tersebut panduan dan pandangan dalam perilaku menjadi sangat penting. Cara pandang untuk menentukan mana yang baik dan benar dalam perilaku secara sederhana disebut etika

Etika merupakan pandangan filosofis dalam melihat perilaku manusia. Banyaknya interaksi antara manusia lain akan menciptakan suatu pandangan baik atau buruknya perilaku serta sifat. Selain itu, etika dalam jangankauan yang lebih besar sangat penting dalam berbangsa agar tidak mudah terpecah belah. Etika sangatlah penting untuk dijadikan pegangan hidup dalam kehidupan berbangsa

Etika menjurus pada prinsip-prinsip dasar baik buruknya perilaku manusia. Etika mengajari kita tentang pentingnya menghormati dan menghargai orang lain. Etika juga mampu untuk memperkokoh keimanan manusia kepada Tuhannya tanpa menutup diri dengan perkembangan zaman saat ini.

Etika dan agama merupakan dua hal yang saling menguatkan. Agama membutuhkan etika supaya manusia melihat tindakan moral yang mungkin tidak rasional. Dan etika membutuhkan agama supaya manusia tidak mengabaikan rasa dan dimensi spiritual yang ada pada dirinya.

Agama sumber Etika

Sejatinya, agama merupakan sumber etis yang memuat cara pandangan dan berilaku hambanya. Namun, lambat laun agama hanya dipahami sebagai kumpulan cara ibadah kepada Tuhan, tanpa melihat sisi etis dan moral dari agama.

Dalam Islam, etika memiliki posisi yang sangat penting. Nabi menegaskan Artinya: “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan keshalihan akhlak.” (HR. Al-Baihaqi). Apa makna dari penegasan ini?

Ketika Nabi menegaskan misinya tentang akhlak atau etika, sesungguhnya misi ini yang menjadi tujuan utama. Akhlak sebagai misi terkandung dalam keimanan, ajaran, dan ibadah Islam. Ketika terjadi keimanan, ajaran dan ibadah yang tidak mampu membentuk bagaimana orang memandang dan berperilaku, sejatinya kita umat Islam hanya menjalankan formalitas berislam, tetapi tidak berupaya mesukseskan misi kerasulan.

Etika dan agama memiliki hubungan yang mampu mengatur keseimbangan. Agama mampu membantu etika untuk tidak bertindak tanpa melupakan kepekaan rasa dalam diri manusia, dan etika dapat membantu agama untuk melihat secara kritis dan rasional tindakan –tindakan moral yang ada pada manusia.

Etika dapat di katakan sebagai jembatan yang menghubungkan antar agama-agama. Tidak dapat dibayangkan bagaimana kehidupan manusia yang berbeda agama tanpa etika di dalamnya. Kebenaran mungkin justru akan menjadi sangat relatif, karena kebenaran moral hanya akan diukur dalam pandangan agama kita. Di luar agama kita maka tidak ada kebenaran.

Pernyataan di atas lantas mendasari pentingnya landasan etika beragama sejak kecil, supaya kelak dunia tidak semakin rusak dengan generasi tanpa etika. Adapun cara mengajarkan anak agar memiliki etika yang baik adalah dengan melakukan hal baik dan tidak melakukan hal buruk didepan anak. Karena anak cenderung meniru apa yang dilakukan orang di sekitarnya, sehingga kita harus bisa menjadi teladan yang baik bagi anak.

Selain itu kita perlu menumbuhkan kasih sayang dan kelembutan pada anak. Menasehati dan memberitahu tentang sikap sopan santun pada anak, salah satunya dengan mengajarkan cara menghormati orang lain meski orang tersebut memiliki pandangan agama yang berbeda dari kita. Dengan cara tersebut diharap anak mampu memiliki sikap, watak dan kepribadian yang baik di kemudian hari.

Dari semua penjelasan diatas, maka dapat kita simpulkan bahwa hubungan etika dan agama merupakan hubungan timbal balik yang sama-sama saling membutuhkan. Etika tidak akan mampu berjalan sendiri dengan seluruh sikapnya yang rasional, agamapun tidak dapat berjalan sendiri dengan doktrin agamanya yang paling benar.

 Baca juga : Memahami Cadar : antara Tuntunan dan Tontonan (Bagian II)

Etika yang baik adalah etika yang memberi ruang terhadap kepekaan rasa dan tidak hanya mengandalkan rasio dalam bertindak. Hal ini hanya akan mendatangkan sebuah kebenaran yang subjektif yang tidak bernilai dan cenderung melupakan hakikat manusia sebagai mahluk religius. Kepekaan rasa itu terdapat dalam agama. Sebaliknya agama pun harus mengakui pentingnya etika dalam kehidupan bersama.

Tanpa adanya etika, agama akan sulit untuk mencari nilai bersama. Agama hanya jatuh dalam kegersangan formalitas yang berkutat dalam hal ritual semata. Etika menjadi landasan penting agar menjadi lebih implementatif. Dan pada prinsipnya, agama adalah sumber etis yang mengatur kehidupan manusia.

Effa Novavita

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here