Pancasila dan Moderasi Islam Bukti Bangsa Indonesia tak Alergi Kebebasan Beragama

0
58

Pancasila dengan nilai-nilai luhurnya dan moderasi Islam yang mengakomodasi budaya menjadi bukti bangsa Indonesia tidak alergi dengan kebebasan beragama. Dan kebebasan beragama sudah berlangsung lama di Indonesia sejak Pancasila menjadi kesepakatan bersama dalam berbangsa.

Hal itu diungkapkan Ketum Pimpinan Pusat Fatayat Nahdlatul Ulama (PP Fatayat NU) Anggia Ermarini dalam Konferensi Internasional Islam dan Kebebasan ke-7 di Hotel Double Tree, Cikini, Jakarta, kemarin. Konferensi ini mengusung tema “The Islamic Case for Religious Freedom”. Konferensi itu digelar atas kerja sama PP Fatayat NU dengan The International Institute of Advanced Islamic Studies (IAIS) Malaysia dan The Religious Freedom Institute (RFI) Amerika Serikat.

“Fatayat NU dalam usianya hampir 70 tahun telah mendorong kebebasan beragama melalui isu-isu perempuan. Kami bekerja sama sangat erat dengan perempuan lintas agama dan juga dengan minoritas, Ahmadiyah dan Syiah dalam isu kesehatan, keadilan gender, dan isu sosial lainnya,” ujar Anggia dikutip dari laman Sindonews.com.

Baca Juga: Berselancar di Tengah Arus Moderasi Islam

Anggota DPR dari Fraksi PKB ini mendukung isu kebebasan beragama. Menurut dia, kebebasan beragama dan berekspresi dalam beragama sudah diatur dalam UUD 1945 juga dalam Al Quran dan dalam nilai-nilai ke-NU-an, tasamuh (toleran), tawazun (seimbang), ta’adul (berkeadilan).

“Gus Dur pernah berkata, yang terpenting dari politik adalah kemanusiaan. Dan Fatayat NU meyakini, kemanusiaanlah yang mendasari setiap gerakan Fatayat NU, termasuk dalam isu kebebasan beragama. Kita boleh berbeda pandangan dan bahkan bertentangan ideologi, tapi bukan berarti mengurangi rasa hormat sebagai manusia yang diciptakan oleh sang Maha Pencipta,” ungkapnya.

Forum yang dihadiri tidak hanya para akademisi, juga praktisi dari seluruh dunia ini akan membahas isu-isu kebebasan beragama dari berbagai negara.  Ia berharap, para peserta bisa maksimal berdiskusi, belajar dari pengalaman para pakar dan praktisi terkait praktik kebebasan beragama.

Baca Juga: Ini 4 Aliran Radikal Yang Masuk ke Indonesia Menurut Ketum PBNU

Sementara itu, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH. Said Aqil Siradj mengatakan, tidak istilah ‘umat Islam’ dalam Alquran.

“Yang ada adalah ummatan wasathon. Nabi SAW membangun Madinah juga bukan atas dasar agama ataupun etnis. Karena itu, sangat berbahaya orang yang membela Islam dengan cara yang salah. Bahkan lebih berbahaya daripada orang yang memusuhi Islam,” kata Kiai Said.

 

 

sc  Islamkaffah.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here