Pemuda yang Sesat Memaknai Jihad dengan Jahat

0
88

Entah apa yang ada dalam pemikiran mereka tentang makna jihad. Mereka seperti mati akal sehatnya sehingga berani dengan memaknai jihad dalam bentuk kekerasan. Korbannya bisa beragam dari wisatawan asing, aparat pemerintah hingga masyarakat yang tak berdosa. Terorisme menjadi istilah yang dilekatkan bagi mereka yang melakukan ancaman dan aksi kekerasan brutal.

Tidak sedikit orang mengatakan dengan teori tanpa bukti bahwa terorisme adalah konspirasi dan rekayasa. Entah dari mana rumus ini dikemukakan. Saya tidak ingin berdebat panjang dalam arus teori yang melelahkan. Tetapi fakta ada kalangan generasi bangsa ini, khususnya generasi muda, yang terpedaya dengan doktrin dan paham kekerasan ini. Hanya sekedar berkomunikasi via online mereka menjadi kalap.

Belajar dari Aksi Teror Pemuda

Saat umat Islam sedang khusu’ berjihad di bulan Ramadan ingin meraih ampunan di 10 akhir Ramadan ledakan tak terduga terjadi. Seorang remaja, RA (23) meledakkan diri di pos Polisi Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah (3/6/2019). Siapa sangka, ia sudah berbai’at ke Pimpinan ISIS, Abu Bakar al Baghdadi sejak tahun 2018 silam. Sejak saat iu ia aktif berkomunikasi melalui medsos dan internet dengan kelompok ISIS yang saat ini telah luluhlantah di Irak dan Suriah.

Konon, si RA sempat mengajak orang tua dan kakaknya untuk bergabung dalam keyakinan yang ia pegang, tetapi ditolak. Pemahaman sesat tentang jihad itu ia praktekkan dengan mempersiapkan keperluan “perang”. Ia belajar membuat bahan peledak dengan diawali membuat petasan dan diledakkan di belakang rumahnya dekat sawah.

Baca juga : Evolusi Makna Jihad

RA pada akhirnya berhasil untuk membuat bom untuk keperluan aksi yang dalam pandangannya sebagai jihad. Ia yang diledakkan di Pos Polisi dengan sasaran Polisi sudah mempersiapkan lama sejak tahun 2018 dengan mengumpulkan bahan-bahan merakit bom dicicil dengan meminta uang kepada orang tuanya. Bom yang ia rakit pun tidak sempurna. “Jihad”nya gagal dan melukai diri sendiri.

Cerita RA bukan kali pertama. Pada tahun 2016, masyarakat Medan dikejutkan dengan aksi serupa yang dilakukan remaja (18). Bedanya di Medan aksi dilakukan di salah satu gereja dengan sasaran umat Kristiani yang sedang melaksanakan ibadah Misa. Dialah IAH yang kala itu baru lulus dari sekolah menengah atas yang dengan keyakinan jihadnya ingin meledakkan diri di gereja Katolik Stasu Santo Yosep Medan, Sumatera Utara (28/8/2016).

Dalam melaksanakan aksinya, IAH menggunakan tas ransel berisi bom rakitannya dan sebuah pisau. Ia merangsek menuju mimbar untuk menyerang sang Pastor, pemimpin ibadah Misa. Aksinya gagal karena bom yang belum sempurna meledak dan dapat diringkus para jemaat.

Hampir sama dengan RA, IAH mengalami radikalisasi dan belajar doktrin hanya dengan berselancar di dunia maya. Ia mendapatkan akses internet dari warung internet (warnet) kakaknya. Dari situlah, Ia banyak berkomunikasi dengan kelompok ISIS, konon Bahrun Naim, pentolan ISIS Asia Tenggara. Dari situlah ia banyak belajar merakit bom yang dicoba di kamarnya yang berada di lantai dua. IAH sempat mengunggah video bai’at online yang menyatakan kesediaan kepada Pimpinan ISIS.

Waspada Didikan Pengajian Radikal Online

Baik RA maupun IAH adalah lulusan terbaik dari doktrin online yang dilakukan kelompok radikal. Tidak bertemu langsung, tetapi keduanya menyatakan kesediaan dan kesetiaan untuk bergabung dengan kelompok radikal. Mereka tidak terikat dengan jaringan yang ada, tetapi tumbuh sebagai pejuang tunggal dalam melancarkan aksinya (lone wolf).

Baca Juga : Mencegah Kriminalitas Atas Nama Jihad

Fenomena ini menjadi sangat mengkhawatirkan. Anak muda yang banyak meluangkan waktu interkasi dan komunikasi dikhawatirkan akan berjumpa di tengah perselancaran tanpa batas di dunia maya dengan kelompok radikal dengan kedok pengajian dan ceramah keagamaan. Ketika keyakinannya sudah berubah dan tumbuh pemahaman aksi jihad yang sesat ia disiapkan dengan perangkat pelatihan pembuatan bom dan penyiapan aksi lainnya.

Tanpa kontrol yang efektif terdapat ribuan akun dan website yang sebenarnya mendidik dan mendoktrin ajaran keagamaan yang radikal. Doktrin yang mengajarkan mereka yang berbeda sebagai musuh. Doktrin yang mengajarkan melawan pemerintahan yang sah karena dipandang thogut. Doktrin yang menghalalkan darah mereka yang berbeda agama, bahkan berbeda pandangan dan keyakinan.

Jihad yang luas kemudian diterjemahkan dalam bentuk yang sempit. Tujuan jihad untuk menegakkan keamanan dan perdamaian dengan sungguh-sungguh dilaksanakan dengan tindakan jahat dengan gigih. Jihad yang semestinya dilakukan generasi muda untuk memperdalam Ilmu justru dilakukan dengan pendangkalan akidah dan Syariah.

Miris sekali. Contoh dua remaja hanya fenomena gunung es yang akan meleleh luas pada waktunya jika tanpa ada kewaspadaan bersama. Banyak sekali remaja yang mulai tertarik dengan doktrin-doktrin keagamaan yang emosional, heroisme, dan sok berani membela agama dengan perang di tengah kondisi damai. Mereka mulai menyatakan diri berbeda dengan yang lain dengan luapan kebencian.

Inilah tipologi radikalisasi baru yang dijalankan secara cerdas oleh kelompok radikal. Target generasi muda yang gairah belajar agama meluap tetapi minim dengan pengetahuan yang memadai. Pendangkalan ajaran agama justru jatuh pada proses self radicalization (swa-radikalisasi). Proses radikalisasi memang tidak instan dimulai benci dengan yang berbeda, benci kepada pemerintahan sah, tergugah melakukan perlawanan, dan memilih aksi kekerasan sebagai jalan perubahan.

Tengoklah di medsos anda. Berapa banyak mereka yang komentar santun ketika berbicara agama, dibandingkan dengan komentar meledak-ledak seolah sedang membela agama. Pemuda dengan karakter yang sudah keras sulit ditembus pengetahuan. Mereka akan mudah merasa benar dengan ketidaksantunannya sebagai bentuk pembelaan ajara.

Generasi muda harus diselematkan. Ajaran dan doktrin radikal sebenarnya mudah ditebak. Katakanlah Islam rahmatan lil alamin yang mempunyai visi memperbaiki akhlak mulia sebagai penangkal. Jika ada doktrin dan ajaran yang bertentangan dengan visi Islam seperti itu segera orang tua membentengi anak-anaknya.

Islam akan menghadapi fitnah besar yang dimulai dengan tindakan kerusakan yang dilakukan secara “bodoh” oleh para generasi berikutnya. Generasi yang merasa membela Islam, tetapi justru menurunkan harkat martabat ajaran keislaman. Selamatkan generasi muda kita dari doktrin dan ajaran yang menyesatkan yang menjadi pemicu fitnah terhadap agama Islam.

Wallahu a’lam

 

 

sc Islamkaffah.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here