Mengapa Para Pemeluk Agama Sering Bertengkar?

0
43

Kita lantas bertanya, bagaimana kok ya agama malah membuat orang saling bertengkar?

Konflik, pertikaian, baku pukul, atau bahkan perang yang hampir pasti tidak pernah terjadi pada mamalia lain dan hanya terjadi pada umat manusia adalah yang berbasis pada agama. Manusia bisa membunuh manusia lain karena agama. Mengapa bisa begitu?  Ada banyak sekali penjelasannya, sebanyak orang yang menjelaskannya.

Saya sendiri selalu teringat pada satu cerita yang menggelitik yang patut direnungkan ketika ada pertanyaan seperti itu.  Ceritanya begini:

Tersebutlah tiga orang  pencari kebenaran. Mereka bertiga berusaha keras mencari jalan sejati itu. Satu orang bertapa sampai kepalanya hitam, satu lagi mengucapkan wirid tiada henti siang dan malam, sementara orang ketiga membaca buku hingga hidungnya berdarah.

Cara-cara itu tidak membuahkan hasil. Sadar upayanya sia-sia, mereka memutuskan untuk menempuh cara lain. Mereka bertiga memutuskan untuk bersunyi di dalam gua. Berhari-hari mereka duduk diam di situ, mengerahkan energi doa secara bersama-sama. Tiba-tiba datang seorang laki-laki tua di depan mereka. “Engkaukah itu Khidir yang agung itu?” ujar orang pertama. “Sepertinya bukan. Dia mungkin Penghulu segala wali” ujar orang kedua. “Aku yakin dia adalah orang terpilih dari nubuat-nubuat kuno itu,” ucap orang ketiga.

“Kalian semua salah.” Orang tua itu tiba-tiba menyahut. “Aku adalah apapun yang kalian inginkan tentangku. Aku tau apa yang kalian inginkan.” Dia kemudian melanjutkan seperti menjawab apa yang dipikirkan ketiga orang itu tanpa perlu mendengar dari mulut mreka. “Ada banyak jalan menuju kebenaran. Kamu pergilah ke negeri orang dungu, sedangkan kamu harus menemukan cermin ajaib, sementara kamu harus meminta tolong kepada Jin penunggu mata air. Sekarang pergilah!”

Ia mengatakan perintah itu sambil tangannya menunjuk ke masing-masing orang satu demi satu sesuai kepada siapa perintah ditujukan. Setelah mengatakan itu, sosok misterius itu tiba-tiba lenyap.

Ketiga pencari kebenaran mengalami kebingungan. Mereka mulai berdebat tentang cara mana yang paling tepat. Pada akhirnya mereka mengikuti belaka kata orang tua tadi.

Orang pertama, namannya Baba, segera pergi ke negeri orang dungu tanpa tahu di mana letak negeri orang-orang dungu itu. Setelah sekian lama mencari. Bertanya ke sana dan ke sini, akhirnya ia sampai ke negeri aneh itu. Baba menjumpai sekolompok orang di sebuah ladang. Orang-orang itu tengah ketakutan. Di depan mereka terongggok sebuah semangka matang.

“Raksasa ini sungguh menakutkan. Ia pasti akan segera tumbuh besar dan akan mamakan kita semua,” ujar salah satu dari mereka kepada Baba.

Tanpa banyak bicara Baba segara mengeluarkan pisau dan membelah semangka itu kemudian memakannya dengan lahap. Orang-orang itu kaget alang bukan kepalang. Mereka berteriak-teriak ketakutan. Ada yang berlari dan melompat-lompat hingga jatuh. Ada pula yang kemudian memberinya uang supaya dia cepat segera pergi dari desa itu.

Kejadian ini membuatnya sadar bahwa di desa itu ia harus bicara dan berpikir sebagaimana orang-orang dungu. Tidak bisa tidak. Berbekal kesadaran itu Baba hidup di desa itu dan secara perlahan mengubah cara berpikir beberepa orang dungu. Kesabaran dan keuletan Baba membawanya pada Pengetahuan Sejati. Ia menjadi orang suci di negeri itu. Banyak orang kemudian menjadi pengikutnya. Hingga wafat. Puluhan tahun kemudian orang-orang di negeri itu mengenangnya sebagai Si Pembunuh dan Peminum Darah Raksasa. Banyak orang pula yang meniru jalannya. Melakukan cara serupa dia untuk mendapatkan Pengetahuan Sejati dengan membelah semangka. Namun tak satu pun yang mencapai apa yang dicapai Baba.

Sementara itu, orang kedua, Agha, terus  mencari Cermin Ajaib seperti yang dititahkan orang sakti itu. Ia bertanya kepada orang-orang yang dianggap suci, ke kuil-kuil, ke perpustakaan-perpustakaan, tak ada jawaban yang memberinya jalan terang. Sampai suatu ketika ia mendengar bahwa Cermin Ajaib itu ada tergantung sebuah sumur tua. Dengan segara ia mendatangi sumur ajaib itu di sebuah tempat yang tak banyak diketahui orang. Di sana ia melihat cermin itu tergantung di sumur dengan tali yang tipis. Cermin itu dijaga oleh seorang raksasa yang menakutkan.

Agha, sebagai orang yang terlatih dengan berbagai kesaktian kuno, tentu saja bisa mengalahkannya dengan mudah. Agha mengambil cermin itu kemudian menatapnya lekat-lekat. Doa dan mantra yang selama ini dihafalkannya ia ucapkan dengan mantap di depan cermin itu. Tubuhnya bergetar dan segera saja Pengetahuan Sejati ia dapatkan.

Dengan Cermin Ajaib dan Pengetahuan Sejati itu Agha tinggal di sebuah kuil dan menjadi seorang guru selama puluhan tahun lamanya. Muridnya banyak sekali. Selepas Agha meninggal, Cermin Ajaib itu lenyap. Murid-muridnya terus mengembangkan metode berdoa di depan cermin— sambil membayangkannya sebagai Cermin Ajaib— untuk menggapai Pengetahuan Sejati. Cara seperti itu terus dilakukan secara turun temurun sampai berabad-abad kemudian. Oleh banyak murid. Setiap murid punya pengikut yang banyak pula. Namun tak pernah ada yang bisa mencapai tingkat seperti Agha.

Orang ketiga, namanya Kalandar, pergi ke berbagai negeri demi mencari Jin penunggu mata air. Selama bertahun-tahun Kalandar tidak juga bisa menemui Jin itu. Hingga pada suatu waktu ketika nyaris putus harapan, ia sampai ke sebuah negeri. Di tempat itu Kalandar memantapkan diri untuk berhenti dan menetap. Sebenarnya ia tidak terlalu yakin dan nyaris putus asa. Dia hanya berharap saja Jin itu muncul begitu saja. Kebetulan Jin yang dicarinya itu tengah melewati tempat itu.

Jin itu kemudian berseru, “Aku datang padamu. Nah, apa yang kau cari?” “Aku ingin mempunyai Pengetahuan Sejati, beritahukan padaku bagaimana cara mendapatkannya?” “Mudah saja,” jawab Jin itu. “Kau cukup melakukan sejumlah tindakan yang kuajarkan, ucapkan doa yang kuajarkan, nyanyikan lagu yang kudendangkan, dengan begitu engkau akan mencapai Pengetahuan Sejati.”

Kalandar senang sekali. Ia lalu memulai latihannya. Selama bertahun-tahun ia melakukan ibadat, wirid, dan nyanyian puja-puji yang diajarkan Jin itu. Keuletan dan ketabahannya melakukan segala yang diajarkan itu membuatnya mencapai kebenaran hidup. Orang-orang datang, menyaksikannya, dan kemudian meniru-nirunya,agar bisa saleh seperti dirinya. Kalandar mencapai Pengetahuan Sejati. Namun murid-murid dan orang-orang yang mengikutinya tidak pernah bisa mencapai apa yang dicapai Kalandar sebab mereka hanya mengikuti Kalandar di akhir tahapan yang dijalani Kalandar. Demikianlah, cara yang ditempuh Kalandar kemudian diikuti banyak orang.

Berabad-abad kemudian apabila murid-murid Baba, Agha, dan Kalandar berjumpa mereka akan berdebat tentang cara mencapai Pengetahuan Sejati. Salah satu di antara mereka akan mengatakan, “Aku memiliki cermin ajaib, tataplah, dan kau akan mencapai Pengetahuan Sejati.”

Satu orang akan menyahut, “Korbankan semangka, ia akan menolongmu mendapatkan kebenaran seperti yang pernah terjadi pada Baba.” Sementara orang ketiga akan berseru, ”Itu semua tidak mungkin! Satu-satunya cara mencapai Pengetahuan Sejati adalah dengan tabah dan taat menjalani tindakan, doa, dan nyanyian seperti dilakukan Agha.”

Biasanya, murid-murid yang tampak patuh dan taat pada apa yang diturunkan pada mereka itu kemudian akan baku pukul. Tidak jarang terjadi pula baku bunuh. Saudara-saudara mereka yang tak mengerti ujung pangkal juga akan ikut-ikutan saling membenci. Kebencian itu ditularkan turun-temurun hingga anak cucu mereka saling membenci.

Sampai berabad-abad lagi. Begitu seterusnya.

Demikianlah, sebagian orang menilai kisah tiga orang pencari kebenaran di atas sebagai kritik terhadap sikap para pemeluk agama yang merasa telah mencapai kebenaran hanya dengan mengikuti belaka apa yang diajarkan atau ditularkan pada mereka secara turun-temurun.

Versi yang lain dari cerita di atas dimuat di buku Tales of the Dervishes: Teaching-Stories of the Sufi Masters over the Past Thousand Years karya Idries Shah. Menurut buku ini cerita tersebut adalah ringkasan dari kisah panjang yang berjudul “What Befell The Three.” Kisah ini konon ditulis oleh seorang guru Sufi, Murad Shami, yang meninggal tahun 1719.

Kisah ini juga digunakan untuk menyentuh sisi emosional agar orang memahami bahwa jalan spiritual jauh lebih rumit dari sekadar meniru.

wallahualam.

credit : islami.co

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here