Bedah Buku di UIN Jakarta, Prof Azra: Mereka yang Radikal adalah Neo-Khawarij

0
46

Jakarta – Bekerjasama dengan Milenia Pustaka Jakarta, Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) menggelar bedah buku “Hijrah dari Radikal kepada Moderat” karya Haris Amir Falah di gedung Auditorium Harus Nasution, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, pada Senin, 23/12/2019.

Acara yang secara khidmat mulai pada jam 08.30 WIB dan dihadiri oleh 500 peserta, itu menghadirkan Rektor UIN Jakarta Prof Amany Lubis, eks Rektor & dan Guru Besar UIN Jakarta sekaligus cendekiawan Muslim Prof Azyumardi Azra. Turut hadir, Haris Amir Falah selaku penulis buku.

Salman Rivandi dalam sambutannya menuturkan, ia berterimakasih kepada panitia penyelenggara, sekaligud sangat bersyukur dengan digelarnya acara itu. Baginya, merupakan langkah progresif utamanya bagi DEMA karena secara kontinu menyelenggarakan kegiatan deradikalisasi.

“Ini adalah program oleh DEMA yang function (konsen, red.) kita untuk menggelar acara ini. Setelah keluar nanti teman-teman dapat pencerahan dari narasumber di tengah-tengah kita,” ujarnya, disambut tepuk tangan hadirin.

Sementara Rektor UIN Jakarta Prof Amany Lubis menegaskan, secara harfiah, hijrah adalah pindah ke pemikiran yang benar. Sementara prinsip moderasi adalah musyawarah, toleransi, saling tolong-menolong, keadilan, bahkan kewarganegaraan (citizenship).

“Radikal itu adalah dinamika, sementara hijrah  merupakan kunci, yakni kesempatan untuk memperbaiki diri dan meningkatkatkan kualitas di masyarakat,” terangnya.

Setelah Haris mempresentasikan karyanya, Prof Azra sebagai pembanding mengomentari buku tersebut. Menurutnya, presiden adalah pemimpin umat Islam. “Karena ia adalah waliyul amri, bagi kalangan NU, dan bagi Muhammadiyah adalah Darul Ahdi was Syahadah,” tuturnya.

Cendekiawan yang menulis buku “Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII” juga menambahkan, kaum takfiri, jihadis, dan yang garis keras meski tidak sampai radikal dapat dikategorikan sebagai khawarij di zaman modern. Sebab, menurutnya, hijrah ala Khawarij adalah berpindah dari nilai-nilai yang tidak Islami kepada Islam garis keras.

“Takfiri bersumber dari khawarij atau neo-khawarij. Yang penting ialah dakwah bil hikmah bukan dakwah dengan kekerasan. Karena itu cara yang merubah masa depan bangsa lebih baik,” pungkasnya. (Khairi)

 

Sc : Harakatuna.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here