Melongok kehidupan beragama di negara komunis

0
95

ORANG awam mungkin mengira tidak ada kehidupan beragama di negara komunis seperti Tiongkok. Padahal ideo­logi negara tidak bisa langsung menia­d­a­kan agama dalam kehi­dupan sosial bang­sanya. Meski da­lam praktiknya, tentu saja war­ga tidak se-leluasa menjalankan peri­badatan seperti halnya di negara de­mokrasi.

Namun setidaknya kebera­daan masjid, gereja dan vihara di negeri Tembok Besar itu, cu­kuplah menjadi bukti bahwa masih ada tanda-tanda kehidupan beragama di negara komunis tersebut.

Konstitusi Republik Rakyat Tiongkok menyatakan bahwa rakyatnya menikmati kebebasan beragama dan melarang diskri­minasi berdasarkan keagamaan serta me­larang organ negara, organisasi publik atau individu mengharuskan atau mela­rang orang-orang untuk menganut agama tertentu.

“Konstitusi menjamin kebe­basan war­ganya untuk memeluk agama dan ke­per­cayaannya, termasuk kebebasan tidak be­ra­gama,” demikian ditegaskan wakil pre­siden Asosiasi Islam Tiongkok di Beijing Abdul Amin Jin Rubin saat menerima kun­jungan delegasi ASEAN Elites China Tour 2019, pada Febuari.

Penegasan yang sama juga disam­pai­kan Wakil Menteri Departemen Publisitas Pu­sat Tiongkok Jiang Jianguo.

Pemerintah Tiongkok mem­bebaskan masyarakat dengan beragam agama hidup berdam­pingan, mereka bebas menjalan­kan agama atau aliran keper­cayaan.

Hal senada terlontar dari pernyataan Pre­siden Xinjiang Islamic Institute Ab­durikif Tumu­nyaz. Bahkan para imam di se­jumlah masjid di kawasan Xinjiang mem­berikan keterang­an yang seragam mengenai bagaimana Pemerintah Tiong­kok menjamin kehidupan beragama bagi warganya.

Di Beijing, terdapat 71 masjid dengan jumlah Muslim sekitar 260 ribu orang dari total 23 juta Muslim di Tiongkok yang ter­sebar di berbagai daerah dengan konsentrasi terbesar di Xinjiang, Ningxia, Gansu dan Qinghai. Sedangkan jumlah imam di Beijing ada 150 orang.

Serumpun dengan bang­sa Turki

Masjid Dongsi, salah satu masjid tertua khas dinasti Ming yang berumur 800 ta­hun.Nama Dongsi diambil dari lokasi ke­­beradaannya di Distrik Dong­cheng, masjid yang juga menjadi tempat lahirnya Akademi Islam Tiongkok pertama itu.

Berada di atas lahan 10.000 meter per­segi, Masjid Dongsi juga dilengkapi ruang perpustakaan yang menyimpan berbagai ma­nus­krip kuno. Ada Alquran tulis tangan yang dibuat sejak Dinasti Ming (1368-1644). Di perpusta­kaan Fuad itu terdapat juga buku Guide of The Islamic warisan Di­nasti Qing (1644-1911), Tafsir Bai­do­wi, buku-buku fiqih serta pahatan ayat Alquran di atas batu.

Xinjiang, merupakan provinsi terunik di wilayah kekuasaan Republik Rakyat Tiongkok. Se­cara kasat mata saja, paras pen­duduknya paling berbeda dari rakyat Tiongkok pada umumnya. Warga Xin­jiang rata-rata berparas perpaduan antara Eropa dan Timur Tengah.

Kenyataan itu bisa dipahami, karena 45,84% penghuni wilayah otonomi Xin­jiang adalah etnis Uighur yang serumpun dengan bangsa Turki dan bermigrasi dari Barat Laut Mongolia.

Begitu menjejakkan kaki di tanah Xin­jiang, akan tertangkap suasana ke arab-araban. Papan petunjuk jalan mengguna­kan aksara Uighur berpadu dengan Hanzi yang abjadnya mirip huruf Arab.

Sebagian besar bangunan mulai dari kantor pemerintahan, apartemen, hotel, sekolah dan rumah makan bergaya Timur Tengah. Meski logo palu arit sebagai lam­bang Partai Komunis Tiongkok juga ber­tebaran, ber­baur dengan ornamen kubah warna hijau dan kuning emas yang melambangkan budaya Islam. Perpaduan yang unik. Nuansa Islami di wilayah negara komunis.

Di Xinjiang ada 24.200 masjid dari 24.400 tempat ibadah yang berada di ka­wasan otonomi setingkat provinsi itu.

credit : http://harian.analisadaily.com/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here