Menjadikan Keluarga Sebagai Benteng Radikalisme

0
30

Semarang – WakilMenteri Agama H Zainut Tauhid mengatakan, keluarga dan majelis taklim yang berkembang di tengah masyarakat menjadi benteng radikalisme agama. Penguatan paham kebangsaan serta kesadaran sifat nasionalis menjadi salah satu alat untuk membentuk benteng radikalisme sejak dalam keluarga.

”Karena itu, ibu-ibu jamaah pengajian majelis taklim harus terus aktif ikut menyuarakan Islam yang moderat. Islam yang santun dan Islam yang damai, memberikan rahmat bagi seluruh alam. Keluarga, rumah tangga dan majelis taklim akan menjadi penangkal yang kuat munculnya radikalisme agama,” tegasnya.

Dia mengatakan hal itu ketika memberikan pengarahan di depan ribuan jamaah pengajian Majelis Taklim Mar’ah Sholihah Jawa Tengah, di ruang utama Masjid Raya Baiturrahman, Jalan Pandanaran 126,Simpanglima Semarang, kemarin.

Ribuan jamaah Majelis Taklim yang berseragam serba putih membuat lautan putih di masjid tersebut. Tampak hadir di tengah mereka Plt Kepala Kanwil Kementerian Agama Jateng Drs H Moh Ahyani MSi,. Juga Ketua Umum Yayasan Pusat Kajian dan Pengembangan Islam (YPKPI) Masjid Raya Baiturahman Dr KH Ahmad Daroji MSi. Hadir juga Ketua Takmir Masjid Raya Baiturrahman, Dr H Multazam MAg dan pendiri Mar’ah Shoihah Nyai Hj Azizah Masruchan.

BACA JUGA  Bedah Buku Daulah Islamiyah di INC

Ketua Majelis Taklim Mar’ah Sholihah Jawa Tengah, Nyai Hj Munawaroh Nurhadi dalam sambutanya mengatakan, pengajian dengan tema “Menata Hati, Menebarkan Kedamaian”, merupakan salah satu upaya mewujudkan perdamaian, dimana damai diperoleh dari hati yang tertata, jiwa yang tenang akan memancarkan nilai-nilai perdamaian. Munawaroh mengharapkan, Majelis Taklim Mar’ah Sholihah tidak sekedar sholihah dalam kepribadian dan ubudiyahnya tetapi juga shalihah dalam kehidupan sosial di lingkungannya.

Ketua YPKI Masjid Raya Baiturrahman Dr KH Ahmad Daroji menyampaikan rasa senangnya karena Masjid Raya Baiturrahman Semarang digunakanmasjid sebagai tempat pengajian.

Menguatkan Kebangsaan Melalui Majelis Taklim

Wamenag menyampaikan pada kesempatan itu agar Majelis Taklim Mar’ah Sholihah dapat menjadi penagkal aliran-aliran yang menyesatkan dan radikal yang saat ini banyak bermunculan. Besar harapan kita terhadap majelis ini, melalui perempuan-perempuan muslim Indonesia yang Sholehah melahirkan kader-kader bangsa yang berkualitas cerdas spiritual dan cerdas dalam hal pengetahuan umum sehingga mampu mencegah radikalisme dan mampu menjaga perdamaian mulai dari lingkup keluarga, membentuk perdamaian masyarakat, negara dan perdamaian umat di dunia”.

BACA JUGA  Densus 88 Tangkap Satu Terduga Teroris di Sleman

Munawaroh menjelaskan, pengajian rutin Majelis Taklim Mar’ah Sholihah yang sering disebut oleh anggotanya dengan “Marsha” berdiri pata tahun 2010 beranggotakan para ibu nyai dan perempuan muslimah sholihah dari berbagai penjuru daerah di Jawa Tengah.

Pengajian Marsha ini dilaksanakan setiap tiga bulan sekali dengan berbeda-beda tempat pelaksanaannya. Bergiliran dari satu daerah ke daerah yang lain melalui kesepakatan bersama. Amalan yang dibaca jama’ah setiap pengajian adalah bacaan Asma’ul Husna, qashidah Sa’duna, Yasin Fadhilah, Tahlil dan Manaqib.

”Marsha saat ini sedang berbenah untuk menata manajemen administrasinya dengan mendaftarkan diri ke Kantor Kementerian Agama. Hal ini dalam rangka melaksanakan ketentuan Peraturan Menteri Agama (PMA) nomor 29 tahun 2019 tentang Majlis Taklim. Dalam Bab II pasal 6 Majlis Taklim harus terdaftar pada kantor Kementerian Agama dibuktikan dengan diterbitkannya Surat Keterangan Terdaftar (SKT) Majlis Taklim tersebut,” katanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here