Membela Tuhan dengan Amarah

0
23

Terkadang dengan dalih membela agama dan Tuhan seorang bisa mudah tersulut amarah. Cacian pun terkadang mudah terlontar saat kita merasa sedang membela agama. Pertanyaannya, amarahmu itu karena Allah atau karena dirimu?

Ada kisah menarik dari Sahabat Ali tentang bagaimana sejatinya membela Allah tanpa amarah. Cerita ini terjadi pada waktu perang Khandaq. Umat Islam mendapatkan tantangan dari seorang dedengkot kafir Quraisy yang bernama Amr bin Abdul Wad. Tantangan ini berupa duel satu lawan satu.

Amr bin Abdul Wad ini dikenal sebagai preman yang memiliki tubuh yang kekar, sehingga ketika mendapatkan tantangan ini pasukan Islam ciut nyalinya. Terbukti, ketika Rasulullah Saw., menawarkan kepada para sahabat, siapa yang mau melayani tantangan dari Amr bin Abdul Wad, tidak ada satu pun sahabat yang mengangkat tangan kecuali Ali bin Abi Thalib.

Karena waktu itu Ali masih terlalu muda, maka Rasulullah mengulang tawarannya untuk kedua kali kepada para sahabat. Dan diulang sampai tiga kali, ternyata yang mengangkat tangan tetap Ali bin Abi Thalib. Maka tantangan dari Amr bin Abdul Wad diterima oleh Ali bin Abi Thalib yang masih muda.

Terjadilah duel yang luar biasa antara sahabat Ali dengan Amr. Ternyata, walaupun Ali masih sangat muda mampu mengimbangi keperkasaan Amr bin Abdul Wad, sehingga duel itu berlangsung seimbang. Pada satu kesempatan, sahabat Ali berhasil menyabetkan pedangnya ke paha Amr bin Abdul Wad. Sampai akhirnya Amr pun tumbang. Walaupun sudah tumbang, Amr tetap berontak.

Sebenarnya mudah saja bagi sahabat Ali untuk menumpasnya, tapi sahabat Ali pelan-pelan mendekati Amr. Ketika semakin dekat tiba-tiba Amr meludahi wajah sahabat Ali sehingga terkena pipinya. Setelah diludahi, justru sahabat Ali mundur pelan-pelan menjauh dari Amr. Sehingga para sahabat yang lain menjadi heran.

Baca Juga:  Ternyata Salah Satu Waktu Mustajab Ketika Turun Hujan, Begini Doanya

Maka ditanyalah Ali, “Wahai Ali, kenapa tidak engkau bunuh saja Amr bin Abdul Wad. Kenapa justru engkau berbalik?” Mendapat pertanyaan demikian, maka Ali pun menjawab, “Ketika dia meludahiku dan ludahnya terkenan pipiku, aku marah hebat, aku emosi luar biasa, tetapi aku tidak mau membunuh dia karena emosiku. Aku akan membunuhnya karena Allah Swt., maka aku tunggu sampai amarahku mereda”.

Dari kisah di atas, dapatlah dimengerti, bahwa menahan amarah, meski mudah diucapkan, sungguh sulit diamalkan. Itulah sebabnya, Rasulullah Saw. bersabda, “Bukanlah orang yang kuat itu yang pandai bergulat, akan tetapi orang yang kuat adalah yang mampu menahan jiwanya ketika marah” (HR. Bukhari dan Muslim).

Terkadang pembelaan kita bukan karena Allah, tetapi ego dan kemarahan diri. Sehingga terkadang pembelaan yang sejatinya untuk agama menjadi ternoda karena kemarahan. Karena itulah, mengontrol amarah dalam Islam menjadi salah satu akhlak penting.

Lihatlah janji Allah terhadap para pemaaf dan pengontrol amarah. “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya) di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya, serta memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”. (Q. S Ali Imaron: 133-134).

Wallahu a’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here