Khilafah, Khalifah dan Pemimpin (Ro’in)

0
75

Isu tentang khilafah beberapa tahun ini sangat santer diperdebatkan. Pro dan kontra menjadi suatu hal yang tak dapat dihindari. Khilafah menjadi perbincangan yang hangat media massa, baik di media online maupun cetak.

Khilafah sendiri merupakan sebuah sistem pemerintahan Islam yang ditawarkan oleh kalangan kaum muslim tertentu. Dalam sistem khilafah terdapat harapan yang cukup utopis. Berangan-angan ingin mengembalikan kejayaan Islam di masa lampau.

kalau kita mengingat kondisi geopolitik, sosial dan ekonomi global sudah ada perubahan yang cukup drastis. Bahkan, barangkali mengimplementasikan sistem khilafah dalam tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara sebuah hal yang cukup utopis.

Khilafah Vs Khalifah

Penulis sama sekali tidak menjelek-jelekan sistem khilafah atau menolak secara frontal. Diakui atau tidak sistem khilafah pada zamannya pernah membawa Islam pada masa kejayaan. Masa keemasan. Mulai dari zaman kekhilafahan khulafaurrosyidin, bani Umayyah, bani Abbasiyah, bani Fatimiyah, hingga imperium Turki Ottoman.

Kini, mungkin konteks dan kondisinya berbeda. Sistem ke-khilafah-an sudah berganti menjadi nation state. Dulu pemimpin sebuah imperium kekhilafahan dinamakan khalifah, sekarang karena berganti menjdai nation state (negara kebangsaan). Dan sebutan untuk penguasa negara disebut presiden atau perdana menteri.

BACA JUGA  Refleksi Tahun Baru, Toleransi dan Persaudaraan

Dalam konteks kepemimpinan, derajat khalifah dengan presiden sejajar. Mereka sama-sama pemimpin tertinggi dalam sebuah negara atau dinasti. Sama-sama menjadi otak dan inisiator dalam andil kekuasaan makro geografis dan demografi suatu negara. Tentu dengan aturan dan prosedur yang jelas berbeda. Sehingga menjadikan tatanan peradaban yang berbeda juga.

Setiap Khalifah itu Pemimpin

Setidaknya kita bisa menarik sebuah analisis bila khalifah adalah pemimpin yang sangat berpengaruh untuk menciptakan tatanan peradaban dan kemakmuran rakyat. Nah, tatanan peradaban ini di dalamnya terdapat manusia-manusia yang tentu beragam. Mulai beragam dari karakter, status sosial, keturunan, profesi, ras, suku etnis, dan yang terakhir yang paling sensitif yakni agama.

Manusia-manusia unik yang turut andil dalam menciptakan peradaban ini tentu bisa kita sebut sebagai khalifah atau pemimpin juga. Sebab setiap kita adalah pemimpin. Cuma saja ruang lingkupnya yang mikro bahkan hanya melingkupi diri sendiri. Khalifah untuk dirinya sendiri. Khalifah untuk keluarga. Khalifah di sebuah Rukun Tetangga (RT), khalifah di tingkat Rukun Warga (RW), begitupun seterusnya naik. Belum lagi dalam situasi dan waktu tertentu semisal di sekolahan, di ruang kantor, di pasar, di jalan raya, di tribun supporter, di terminal dan seterusnya.

BACA JUGA  Ancaman Paham Radikal di Kalangan Intelektual

Kita memimpin minimal diri kita. Membawa diri kita untuk senantiasa berbuat sesuai apa yang kita pikirkan dan yakini. Dalam hadis sudah jelas secara gmablang bils setiap dari diri kita merupakan pemimpin. Kita harus mengendalikan dan membawa diri kita untuk mencapai tujuan tertentu. Kita sebagai orang Islam tentu saja selalu ingin mendekat kepada Allah SWT dengan melaksanankan perintah dan mejauhi larangan-Nya.

Peradaban yang Harmonis

Pada lingkup yang lebih besar, setelah berhasil memimpin diri sendiri baru kemudian memimpin keluarga. Kita sebagai orang tua entah bapak ataukah ibu pastinya akan otomatis mempunyai tanggung jawab untuk memimpin keluarga kita terutama anak-anak kita. Setiap apa yang kita pimpin merupakan sebuah keniscayaan yang akan mendapat balasan setimpal. Bahasa kerennya akan di-LPJ gusti Allah.

Tidak ada alasan untuk kita menyepelekan atau tak bersungguh-sungguh dalam mengemban tugas sebagai pemimpin. Tentu, dengan kita bersungguh-sungguh dalam menjalani tugas sebagai pemimpin terhadap diri sendiri dan keluaga kita, akan tercipta peradaban yang unggul.

Konsepnya sangat sederhana sekali, tidak perlu muluk-muluk menjadikan atau merubah sistem negara yang sudah mapan dan jelas-jelas yang telah dirumuskan dengan pertimbangan yang amat detail dan matang oleh the founding father. Cukup mulai menjadi pemimpin terhadap diri sendiri dan keluarga kita, bisa jadi akan tercipta suatu peradaban yang hebat dan harmonis.

BACA JUGA  Peran Guru dalam Pengembangan Literasi Generasi Muda

Semuanya butuh proses. Termasuk memimpin diri sendiri dan keluarga. Dibutuhkan ilmu khususnya ilmu agama yang mendalam dan matang. Harus gigih dan ulet dalam menjalani tugas sebagai pemimpin tersenut. Bila tiap-tiap individu dan keluarga bertanggung jawab terhadap apa yang sedang diemban atau menjadi tanggung jawabnya tentu akan tercipta peradaban yang hebat.

Karena sebuah negara terdiri dari jutaan keluarga yang di dalamnya terdapat berkali-kali lipat juta individu. Sehingga bilasaja setiap individu dan keluarga tersebut punya tanggung jawab dan karakter yang baik kemungkinan akan tercipta peradaban yang indah dan damai.

 

Sc : Harakatuna.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here