Mengapa WNI Eks Kombatan ISIS Perlu Ditolak?

0
11

Jika mengingat kebiadaban demi kebiadaban yang dilakukan oleh ISIS, wajar saja jika suara penolakan untuk mengembalikan eks simpatisan, kombatan atau apalah namanya begitu nyaring. Malahan, Presiden Jokowi sendiri sejak awal tegas menyatakan sikap menolak pemulangan WNI eks ISIS, kendati hal ini juga belum sepenuhnya bulat sampai ada bahasan di level Ratas.

Meski begitu, wacana untuk memulangkan kembali mereka ke pangkuan Ibu Pertiwi dengan alasan kemanusiaan—seperti yang dicuapkan oleh Menag Fachrul Razi tapi tampaknya belakangan gagasan itu direvisi sendiri—sebetulnya juga boleh-boleh atau sah-sah saja secara moral. Tapi semudah itukah?

Jawabannya tentu saja sangatlah terang benderang: tidak!!

Mari kita perjelas sedikit. Anda tahu Wildlings? Ya, kaum beyond the wall itu dalam serial Game of Thrones terkenal sebagai bar-bar yang setiap kedatangannya pasti bikin brutal dan membuat semua orang menjadi gempar.

Maka, ketika satu waktu Jon Snow, The King in The North, bermaksud membuka gerbangnya untuk mengajak aliansi para Wildlings, terang saja ia dihujani penolakan luar biasa oleh rakyatnya. Padahal, alasan Jon Snow sangatlah masuk akal dan mendesak.

Bagaimana tidak, ia dan masyarakat Utara kala itu jelas-jelas butuh aliansi sebanyak mungkin dari manusia untuk melawan musuh bersama, yakni: the white walkers alias pasukan mayat hidup. Sementara, Wildlings adalah juga manusia. Hanya saja nasib mereka kurang beruntung untuk lahir di luar tembok pembatas akibat relasi kuasa yang timpang dan/atau kejahatan struktural yang dipelihara.

Terus terang, saya tidak bermaksud menyamakan kasus Wildlings dengan ex-kombatan ISIS. Akan tetapi, pada keduanya memiliki kemiripan. Dan, letak kemiripan itu adalah apalagi kalau bukan penolakan itu sendiri.

Bedanya tidak ada open recruitment untuk Wildlings, sementara pada kasus ISIS ada pelantikan atau semacam mekanisme pendaftaran sukarelawan. Pendeknya, menjadi Wildlings adalah “nasib”, sementara menjadi volunteer ISIS itu merupakan keputusan sadar.

Jadi, kalau kepada Wildlings yang “terpaksa” menjadi bar-bar saja penolakan untuk bergabung kembali ke kehidupan normal begitu keras, apalagi kepada mereka yang secara sukarela membar-barkan diri?

Baiklah. Mungkin seorang bijaksana bisa berpikir bilamana mereka ada baiknya untuk diterima kembali atau dipulangkan lagi sehingga bisa diberdayakan untuk, misalnya, menjadi agen-agen penanggulangan ekstremisme dan sejenisnya.

Tapi, membayangkan memang pekerjaan mudah. Yang sulit adalah fakta lapangan seringkali jauh dari ekspektasi. Tidak hanya realitas sosial kita yang terlampau rumit, tetapi pemerintah yang kadang tidak serius menangani perkara radikalisme juga merupakan pekerjaan rumah tersendiri.

Ringkasnya, tanpa hitungan yang akurat, menerima atau mendatangkan mereka kembali sama saja dengan menyimpan bom waktu. Mereka boleh saja mengaku telah bertobat secara nasionalisme. Mereka bahkan bisa saja mendaku kalau telah terjerembab dalam lingkaran setan bernama ekstremisme.

Namun, siapa yang bisa menjamin hasrat ekstrem mereka telah betul-betul non-aktif dan tidak akan meledak secara tiba-tiba sewaktu mendengar mimbar khotbah menyeru narasi setamsil “umat Islam ditindas”, “ulama dikriminalisasi”, atau panggilan solidaritas keumatan lainnya yang sangat ramashok itu?

Di titik inilah pertaubatan mereka pun tak ubahnya seperti apa yang disebut Toshihiko Izutsu sebagai “tobat jahiliyah”. Jadi, pada masa Arab pra-Islam, masyarakat kala itu bukannya tak mengenal eksistensi Allah. Sebaliknya, mereka sangat tahu betul itu.

Hanya saja, masyarakat jahiliyah itu biasanya mengenal Allah di saat-saat krisis saja. Sewaktu terkena badai, misalnya, mereka akan bersimpuh, termehek-mehek, dan merengek-rengek pada Allah. Tapi, begitu krisis telah lewat mereka akan kembali pada nalar materialisme jahilinya. Mereka akan kembali pada berhala-berhalanya. Allah pun mereka lupakan seketika itu, dan seterusnya.

Seorang eks kombatan ISIS boleh saja mengaku dari balik jeruji di belahan bumi lain bahwa dirinya kangen pada kampung halamannya, pada rumahnya, atau pada Indonesia. Pemerintah pun juga sah dan wenang jika menerima kepulangannya.

Namun satu hal yang pasti adalah apakah mereka siap mensyukuri hidup di Indonesia dengan segala keragamannya, dengan segala Ormasnya, dan tentu saja dengan segala ketimpangan sosial yang terjadi di mana-mana. Kalau hal-hal prinsipil ini saja tidak bisa digaransi, maka jangan heran kalau suatu saat nalar radikal mereka akan kambuh ketika panggilan untuk “jihad bela Islam!!” mulai menggelitiki atau merangsek ke telinga dan lalu menghujam sanubari untuk kedua kali.

Dan ketika itu terjadi, apakah kita akan terus berkata: “teroris bukan Islam!!”; atau, “Mari sama-sama mengutuk laku teror!!!” Haloo??

credit : islami.co

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here