Kenapa Demonstrasi 212 Selalu Hari Jum’at?

0
40

Masih segarkah ingatan kita, ketika tahun demi tahun berlalu, 212 menjadi simbol menjijikkan yang mengais-ngais angka kalender demi kepentingan politik? 212 sendiri bisa menempati dua giliran tanggal, yaitu tanggal 2-12, atau 2 Desember, atau 21-2, alias 21 Februari. Mereka yang tergabung PA 212 sangat girang jika tanggal-tanggal politis itu tiba. Alasannya remeh temeh: mau demonstrasi.

Hari ini, aksi demonstrasi yang tak bermutu itu kembali kita saksikan. Konon dihadiri oleh 10.000 orang. Kita saksikan saja. Tentu tak perlu lagi dihitung dan ribut jumlah, seperti tahun-tahun sebelumnya. Lagi pula, jika pikiran seseorang masih jernih, simbol 212 adalah simbol super basi.

Simbol yang dipakai untuk memenjarakan Ahok itu basi karena, sekarang, Ahok sudah bebas dari penjara, bahkan jadi komisaris utama Pertamina. Bahkan, dilansir dari Tempo, Ahok sendiri mengaku sudah berteman dengan orang yang dulu mendemo dirinya. Gatot Nurmantyo, misalnya.

Membicarakan 212 juga sebenarnya adalah mengulang apa yang sudah pernah dibicarakan pada aksi-aksi sebelumnya. Tidak ada yang baruAktornya pun sekomplotan. Narasi yang dibangun juga rigid sekali. Tempatnya mungkin berubah. Tetapi juga tak jauh-jauh. Kalau bukan Monas, senayan, maka istana negara. Itu saja.

Ada yang mengkritisi, bahwa kenapa baru sekarang mereka peduli dengan korupsi. Kalau mau jujur, sebenarnya yang penting bagian mana: materi demonstrasi, atau tanggal demonstrasinya? Ini akan menguak agenda terselubung di setiap aksi-aksi demonstrasi yang digelar.

Lalu apa lagi yang menarik kembali dibicarakan? Mungkin, harinya. Bukankah setiap aksi 212 selalu dilakukan hari Jum’at? Saya pikir ini menarik dikaji. Hari Jum’at bukan hari sembarangan. Bagi umat Islam, ia adalah hari paling utama (afdhal al-ayyam). Apa kaitan afdal al-ayyam itu dengan aksi 212?

Tulisan ini berusaha menguraikan alasan-alasan logis dan politis, kenapa aksi-aksi 212 selalu dilakukan di hari Jum’at. Jelas ini bukan kebetulan. Toh kalau pun tanggalnya bukan 2-12, atau bukan 21-2 seperti sekarang, bukankah mereka senantiasa melakukan demonstrasi di hari (bada) Jum’at?

Sakralitas Jum’at dan Momentum Aksi

Pada hari Jum’at, orang-orang Islam akan berkumpul. Itulah kenapa harinya bernama Jum’at, serapan kata Jamaayajmaujaman, yang artinya berkumpul. Ketika salat Jum’at digelar, umat Islam akan menyimak seksama setiap apa yang khatib sampaikan. Momentum bagus, bukan?

Terutama bagi masyarakat urban, keistimewaan hari Jum’at sangat terasa. Di hari-hari kerja, Jum’at adalah satu ritual istimewa. Mereka merasa ada waktu jeda sejenak, untuk Rabb-nya. Hal ini bisa kita buktikan misalnya, dengan, kenapa kotak amal di masjid kota, setiap Jum’at, kebanyakan penuh. Begitulah, Jum’at sangat istimewa untuk amal-amal kebaikan. Juga momentum bagus, bukan?

Momentum yang potensial ini disadari betul oleh mereka yang punya berbagai kepentingan. Apa yang disampaikan khatib Jum’at saat aksi demonstrasi 212 bisa kita lihat kontrasnya dengan khotbah di Jum’at yang tak punya kepentingan aksi.

Lagi pula jika alasan aksi adalah untuk mendesak pengusutan korupsi, kenapa harus dilakukan di hari 21-2? Alasan logis apa yang bisa dipakai, misal disoal secara kritis: ke mana mereka saat kasus korupsi kemarin sedang ramai-ramainya dibahas? Apa karena karena kalendernya belum pas dengan simbol 212?

Hari Jum’at sudah dimanipulasi untuk kepentingan identitas tertentu. Parahnya, identitas tersebut juga bersebelahan dengan kepentingan politik. Memang, niat mengkritik DPR atas kasus korupsi merupakan niat mulia. Dan sebagai warga negara, kita memang wajib mengawal kinerja mereka. Yang jadi masalah, kenapa harus hari Jum’at? Kenapa harus 21-2? Sebenarnya ada apa?

Hubungan antara sakralitas Jum’at dengan momentum aksi diibaratkan hubungan kausalitas. Jum’at adalah hari berkumpulnya massa, dan simbol 212 adalah memancing spirit pergerakan tahun lalu, ketika aksi umat Islam mampu memenjarakan Ahok. Tak hanya demo,  kekuatan politik 212 memang semakin kuat.

Seharusnya sakralitas Jum’at memang dibiarkan dalam kesakralannya. Tidak ada ruang untuk mempolitisir, apalagi sekadar untuk menunjukkan jumlah kuantitas umat Islam. Demonstrasi dengan niat ideal apapun, kalau masih berutopia dengan semangat lama, itu menjadi tidak bermutu.  Apalagi semangat lama tersebut kentara dengan taktik politik masa lalu.

212 dan Taktik Politik Lama

Pertama, ada pikiran untuk menunjukkan kekuatan umat. Kedua, berusaha memanas-manasi pemerintah, yang jika pemerintah bertindak tegas, akan dicap tidak bersahabat dengan umat Islam. Ketiga, ingin membungkam musuh dengan aksi-aksi fisik, tanpa narasi baik atau birokrasi legalistik.

Itu trik-trik lama yang sudah usang, bukan?

Ironi umat Islam hari ini, terutama bagi mereka yang memimpikan kejayaan seperti di masa lalu, adalah ahistorisitas. Artinya, mereka yang ingin Islam berjaya justru tak menyumbang apapun dari upaya memajukan Islam itu sendiri. Perjuangan menuju Islam berjaya pun menjadi absurd, pejoratif, bahkan justru mencederainya.

Misalnya, dalam hal merespon wacana. Apakah umat Islam hari ini hanya punya kekuatan fisik saja, hanya bisa menyelesaikan segela urusan melalui demonstrasi? Seberapa besar efektivitas demontrasi, apa saja sumbangsihnya terhadap kebijakan-kebijakan yang dituntut? Apakah hanya fomalitas simbol-simbol?

Kalau tujuan ujungnya adalah untuk mengkritik petahana, atau siapa pun yang tidak sehaluan politik, maka 212 adalah taktik kadaluarsa. Semestinya umat Islam memperbaiki narasi mereka sendiri, tidak dengan menggelantung di romantisme masa lalu. Selain, memang, demonstrasi politis itu sangatlah tidak penting, tidak berguna.

Kita bisa apa? Kita bisa mengubah narasi using tersebut. Simbol 212 mungkin sudah menyelinap menjadi kepentingan politik. Tidak jelas kapan akan berakhir. Yang jelas, jika keberadaannya tidak memberikan sumbangsih terhadap progresivitas bangsa, dan hanya permainan simbol politis belaka, buat apa kita mempertahankannya?

Sekali lagi, iktikad memberantas korupsi sangatlah penting. Sebagai tugas bersama, kita tak perlu menyelaraskan dengan simbol apa pun untuk menyuarakannya. Apakah lantaran bukan 2-12, atau 21-2, lalu menyuarakan pemberantasan korupsi jadi tidak penting? Ironi.

Bermain-main dalam sakralitas hari Jum’at juga kurang elok. Apalagi bila tersirat kepentingan pengerahan massa. Umat Islam memang banyak, secara kuantitas kuat. Tetapi selama wawasan kebangsaannya masih sempit, maka melakukan aksi demonstrasi apapun, mereka akan tidak bisa unggul secara kualitas.

Hari Jum’at. Simbol 212Demonstrasi. Mari berefleksi, sebesar apa ia memberikan sumbangsihnya terhadap bangsa?

Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

credit : Harakatuna.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here