Tobat dari Takfiri, Mantan Napiter Tulis Buku ‘Hijrah dari Radikal kepada Moderat’

0
43

“Dulu, setiap berkumpul dengan keluarga untuk makan bersama, kalimat yang pertama kali saya sampaikan d i depan mereka adalah kalian kafir. Jangankan cuma orang tua atau saudara kandung, semua orang yang tidak sekelompok dengan saya, saya kafirkan,” itulah sepenggal kisah yang diungkapkan oleh ustaz Haris Amir Falah dalam diskusi bedah buku karya beliau yang berjudul “Hijrah dari Radikal kepada Moderat” di kawasan Condet, Jakarta Timur, Rabu lalu.

Haris Amir Falah (56) yang merupakan mantan narapidana kasus teroris ini menyatakan bahwa latar belakang dirinya menulis buku “Hijrah dari Radikal kepada Moderat” sebagai bagian dari pertobatannya setelah sekian lama memiliki pemahaman yang menyimpang, takfiri dan ekstrim.

“Buku Hijrah dari Radikal kepada Moderat” ini, menceritakan tentang perjalanan hidup saya sepanjang mempelajari tentang Islam kemudian berinteraksi dengan berbagai organisasi gerakan yang ada di Indonesia,” kata Haris.

Namun diakui oleh Haris, upaya pertobatannya dengan menulis buku tersebut, juga menuai kontroversi. Dari tuduhan antek BNPT, binaan BNPT bahkan tuduhan-tuduhan sadis lainnya yang seharusnya tidak diucapkan oleh seorang Muslim ke Muslim lainnya.

Bahkan untuk pemberian judul saja dengan menggunakan istilah “radikal” dan “moderat” juga telah memancing kontroversi.

seorang jurnalis senior Herry Muhammad termasuk yang mengkritisi pemberian judul buku Haris yang menggunakan istilah Radikal.

“Beragama itu juga harus secara mendasar, dari akar-akarnya. Kalau cuma ranting-rantingnya ya nggak kuat,” ujar Herry yang menjadi pembanding dalam acara bedah buku karya Haris tersebut.

Menurut Herry, untuk menggambarkan sikap yang berlebihan dalam beragama, sebenarnya lebih tepat menggunakan istilah ekstrem (ghuluw). Istilah radikal, kata Herry, hingga saat ini masih terus menjadi perdebatan.

Menanggapi kritikan Herry, Haris menjelaskan bahwa kata “Radikal” selama ini definisinya terus diperdebatkan. Secara filosofis, radikal bermakna secara mendasar. Namun kata ini belakangan digunakan dengan stigma politik untuk paham atau aliran yang menginginkan perubahan politik dengan cara kekerasan. Sementara kata ‘moderat’ di kalangan aktivis pergerakan Islam selama ini sudah terstigma sebagai liberal.

Namun Haris mengakui, istilah yang paling tepat sebenarnya adalah ekstrem (ghuluw).

“Kalau zaman orde baru, istilah yang dipakai ekstrimis. Tapi sekarang yang dipakai radikal. Bagaimanapun juga buku ini kan dijual juga” kata Haris berseloroh.

Terkait istilah moderat, Haris mendefinisikan sebagai sikap teguh memegang Islam, dan saat yang bersamaan menghormati segala perbedaan, serta akhirnya melahirkan sikap yang santun.

Jadi menempatkan diri menjadi seorang moderat itu, tidak sama dirinya menggeser diri dari radikal kepada liberal. Moderat yang dimaksud antara antara radikal dan liberal.

“Seorang yang moderat itu, bukan berarti saya mengatakan semua agama itu, sama atau semua agama itu, benar. Saya punya prinsip bahwa yang benar itu, adalah Islam, tetapi membangun toleransi memberikan hak hidup kepada agama yang lain, sesuai dengan keyakinan masing-masing,” katanya.

Haris Amir Falah yang sekarang menjadi pembina Lembaga Da’wah Thoriquna sejak 2017 hingga sekarang, sebelumnya pernah aktif di Majelis Mujahidin dan menjabat sebagai Ketua Lajnah Perwakilan Jakarta pada 2001-2008, kemudian ia menjadi Amir Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) Jakarta pada 2008-2010, dan Amir Jamaah Ansharut Syariah (JAS) Jakarta pada 2013-2016.

Putra Betawi ini merupakan mantan napiter yang pernah menjalani hukuman penjara 4,5 tahun. Ia ditangkap aparat keamanan dalam kasus pendanaan latihan militer (i’dad) di Jantho, Aceh pada 2010. Kasus ini juga menyeret Ustaz Abu Bakar Baasyir (ABB).

credit : https://chanelmuslim.com/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here