Membendung Radikalisme menuju Islam yang moderat

0
43

1.Hindari Paham Intoleran

*Intoleransi beragama adalah suatu kondisi jika suatu kelompok (misalnya masyarakat, kelompok agama, atau kelompok non-agama) secara spesifik menolak untuk menoleransi praktik-praktik, para penganut, atau kepercayaan yang berlandaskan agama. Namun, pernyataan bahwa kepercayaan atau praktik agamanya adalah benar sementara agama atau kepercayaan lain adalah salah bukan termasuk intoleransi beragama, melainkan intoleransi ideologi.

CIRI UMUM PAHAM INTOLERAN

KOMUNITAS EKSLUSIF (TERTUTUP)

KAMPANYE KEBENCIAN TERUTAMA THDP NEG DAN PEMERINTAH

MENGANGGAP DIRINYA PALING BENAR

TIDAK TOLERAN TERHADAP FAHAM ORANG LAIN

MENGAJAK LAKUKAN KEKERASAN

JARGONNYA: BID’AH, HARAM DAN KAFIR

MEMBERI KETERAMPILAN MEMBUAT BOM

MENYATUKAN ANTARA AJARAN AGAMA DGN PEMAHAMAN AGAMA, SEHINGGA JIKA ADA YANG  BERBEDA DIANGGAP TELAH MELANGGAR AGAMA

RELA MENGORBANKAN APAPUN UNTUK TUJUAN IDEOLOGINYA

MEMAKSAKAN PAHAM PRIBADI KEPADA ORANG LAIN

  1. Hindari paham Radikal yang ingin memecah belah Bangsa

* Menurut Kepala Biro Hubungan Masyarakat, Data, dan Informasi Sekretariat Jenderal Kementerian Agama RI Mastuki Hs, istilah radikal berasal dari kata raddict yang berarti mendalam atau mengakar.  Pada makna tersebut, menurut dia, memiliki citra positif. Namun, ketika kata itu dikaitkan dengan agama, memiliki makna yang positif dan negatif.    Beragama secara raddict atau radikal yang berarti mengakar, mendalam, menjiwai, lanjutnya, itu sangat baik dalam beragama. Bahkan sangat dianjurkan.  “Orang yang radikal dalam menghafal hadits, memahami agama secara mendalam itu bagus sekali,” katanya pada Pelatihan In-dept Reporting Media Online yang digelar Bimas Islam, Jakarta Pusat, Kamis (15/3).  Sikap radikal dalam beragama seperti itu tak boleh dicegah oleh siapa pun karena penganutnya menjalankan agama berdasarkan keyakinan yang benar, haknya dijamin dalam konstitusi.  Di sisi lain, kata radikal itu juga memilik makna negatif. Misalnya Islam radikal yang mengacu kepada kelompok yang mengatasnamakan agama untuk melakukan terror

Islam radikal berpandangan agama secara ekstrem, fanatik, fundamental, dan revolusioner,” katanya.   Menurut dia, Islam radikal seperti masih tak masalah jika sekadar cara pandang dan penganutnya terbuka ruang dialog dengan pihak lain. Namun, ketika cara pandang tersebut diwujudkan dalam tindak kekerasan, pemaksaan kehendak, melakukan teror, itu sudah membahayakan.  “Itu harus dicegah!” katanya.     Dalam konteks kemajemukan Indonesia cara Islam radikal dalam pengertian kedua sangat bermasalah dan membahayakan. (Abdullah Alawi)

  1. Teror

* Terorisme adalah perbuatan yang menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan yang menimbulkan suasana teror atau rasa takut secara meluas, yang dapat menimbulkan korban yang bersifat massal dan/atau menimbulkan kerusakan atau kehancuran terhadap objek-objek vital yang strategis, lingkungan hidup, fasilitas publik atau fasilitas internasional dengan motif politik, ideologi, atau gangguan keamanan.

  1. Terminologi yg diusung

– Bid’ah

– Haram

– kafir

– Halal darahnya

  1. Narasi Kaum Teroris

– MEMBELOKKAN KONFLIK POLITIK KE KONFLIKM AGAMA

– GUNAKAN AYAT DAN HADITs UNTUK KLAIM PERANG AGAMA

– PROPAGANDA JIHAD PERANG

– PROPANGANDA KHILAFAH DENGAN MENGHUJAT PANCASILA

– SELALU PROPANGANDA BAHWA UMMAT ISLAM TERTINDAS

– MENGKAFIRKAN SEMASA MUSLIM

 

PAHAMI 4 HAL INI AGAR TERHINDAR DARI PAHAM INTOLERAN & RADIKAL:

  1. TAWASSUTH

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطاً لِّتَكُونُواْ شُهَدَاء عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيداً

SEBUAH SIKAP TENGAH ATAU MODERAT YANG TIDAK CENDERUNG KE KANAN ATAU KE KIRI

Dalam konteks berbangsa dan bernegara dan dalam bidang lain, pemikiran moderat ini sangat urgen menjadi semangat dalam mengakomodir beragam kepentingan dan perselisihan, lalu berikhtiar mencari solusi yang paling ashlah (terbaik).

Sikap moderasi Ahlussunnah wal Jama’ah tercermin pada metode pengambilan hukum (istinbâth) yang tidak semata-mata menggunakan nash, namun juga memperhatikan posisi akal. Begitu pula dalam berfikir selalu menjembatani antara wahyu dengan rasio (al-ra’y). Metode (manhaj) seperti inilah yang diimplementasikan oleh imam mazhab empat serta generasi lapis berikutnya dalam menelorkan hukum-hukum

Moderasi adalah menegahi antara dua pikiran yang ekstrem; antara Qadariyah (free-willism) dan Jabariyah (fatalism), ortodoks salaf dan rasionalisme Mu’tazilah, dan antara sufisme falsafi dan sufisme salafi.

Penerapan sikap dasar tawassuth dalam usaha pemahaman al-Qur’an dan al-Hadits sebagai sumber ajaran Islam, dilakukan dalam rangka :

(1)  Memahami ajaran Islam melalui teks mushhaf al-Qur’an dan kitab al-Hadits sebagai dokumen tertulis;

(2) Memahami ajaran Islam melalui interpretasi para ahli yang harus sepantasnya diperhitungkan, mulai dari sahabat, tabi’in sampai para imam dan ulama mu’tabar;

(3) Mempersilahkan mereka yang memiliki persyaratan cukup untuk mengambil Kesimpulan pendapat sendiri langsung dari al-Qur’an dan al-Hadits.

  1. AT-TAWAZUN

TAWAZUN MENURUT BAHASA BERARTI KESEIMBANGAN ATAU SEIMBANG SEDANGKAN MENURUT ISTILAH TAWAZUN MERUPAKAN SUATU SIKAP SESEORANG UNTUK MEMILIH TITIK YANG SEIMBANG ATAU ADIL DALAM MENGHADAPI SUATU PERSOALAN

لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ
Sunguh kami telah mengutus rasul-rasul kami dengan membawa bukti kebenaran yang nyata dan telah kami turunkan bersama mereka al-kitab dan neraca (penimbang keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. (QS al-Hadid: 25)

Menjaga keseimbangan dan keselarasan, sehingga terpelihara secara seimbang antara kepentingan dunia dan akherat, kepentingan pribadi dan masyarakat, dan kepentingan  masa kini dan masa datang. Pola ini dibangun lebih banyak untuk persoalan-persoalan yang berdimensi sosial politik. Dalam bahasa lain, melalui pola ini Ahlussunnah wal Jama’ah ingin menciptakan integritas dan solidaritas sosial umat.

Dalam politik. Ahlussunnah wal Jama’ah tidak selalu membenarkan kelompok garis keras (ekstrim). Akan tetapi, jika berhadapan dengan penguasa yang lalim, mereka tidak segan-segan mengambil jarak dan mengadakan aliansi. Jadi, suatu saat mereka bisa akomodatif, suatu saat bisa lebih dari itu meskipun masih dalam batas tawâzun

  1. I’TIDAL

SIKAP TENGAH YANG BERINTIKAN KPD PRINSIP HIDUP YANG MENJUNJUNG TINGGI KEHARUSAN BERLAKU ADIL DAN LURUS DI TENGAH-TENGAH KEHIDUPAN BERSAMA.

BERSIKAP & BERTINDAK LURUS DAN SELALU MBANGUN UTK HINDARI SEGALA BENTUK PENDEKATAN YANG  BERSIFAT TATHARRUF (EKSTREM).

TEREFLEKSIKAN PADA KIPRAH MEREKA DALAM KEHIDUPAN SOSIAL, CARA MEREKA BERGAUL SERTA KONDISI SOSIAL PERGAULAN DENGAN SESAMA MUSLIM YANG TIDAK MENGKAFIRKAN AHLUL QIBLAT SERTA SENANTIASA BERTASAMAUH TERHADAP SESAMA MUSLIM MAUPUN UMAT MANUSIA PADA UMUMNYA.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُونُواْ قَوَّامِينَ لِلّهِ شُهَدَاء بِالْقِسْطِ وَلاَ يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلاَّ تَعْدِلُواْ اعْدِلُواْ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُواْ اللّهَ إِنَّ اللّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

WAHAI ORANG-ORANG YANG BERIMAN HENDAKLAH KAMU SEKALIAN MENJADI ORANG-ORANG YANG TEGAK MEMBELA (KEBENARAN) KARENA ALLAH MENJADI SAKSI (PENGUKUR KEBENARAN) YANG ADIL. DAN JANGANLAH KEBENCIAN KAMU PADA SUATU KAUM MENJADIKAN KAMU BERLAKU TIDAK ADIL. BERBUAT ADILLAH KARENA KEADILAN ITU LEBIH MENDEKATKAN PADA TAQWA. DAN BERTAQWALAH KEPADA ALLAH, KARENA SESUNGGUHNYA ALLAH MAHA MELIHAT APA YANG KAMU KERJAKAN. (QS AL-MAIDAH: 8)

  1. TASAMUH

HARGAI PERBEDAAN SERTA HORMATI ORANG YANG MEMILIKI PRINSIP HIDUP YG BERBEDA

TETAP TIDAK MENGAKUI ATAU MEMBENARKAN KEYAKINAN YANG BERBEDA TERSEBUT DALAM MENEGUHKAN APA YANG DIYAKINI

فَقُولَا لَهُ قَوْلاً لَّيِّناً لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى

Q.S TOHA :44

WUJUD IMPLEMENTASI TOLERANSI DAPAT DILIHAT DARI TRADISI YANG BERKEMBANG DI KALANGAN ISLAM TRADISIONAL NUSANTARA. PELESTARIAN TRADISI MANAKIB, RATIBAN, TAHLILAN, MAULIDURRASUL, KHAUL DAN SEMACAMNYA ADALAH SALAH SATU BENTUK IMPLEMENTASI TOLERANSI.

PENERAPAN TASAMMUH;

Bersikap toleran terhadap perbedaan pandangan, terutama dalam hal-hal yang bersifat furu’iyah , sehingga tidak terjadi perasaan saling terganggu, saling memusuhi, dan sebaliknya akan tercipta persaudaraan yang islami (ukhuwwah islâmiyyah).

Berbagai pemikiran yang tumbuh dalam masyarakat Muslim mendapatkan pengakuan yang apresiatif. Keterbukaan yang demikian lebar untuk menerima berbagai pendapat menjadikan Ahlussunnah wal Jama’ah memiliki kemampuan untuk meredam berbagai konflik internal umat. Corak ini sangat tampak dalam wacana pemikiran hukum Islam yang paling realistik dan paling banyak menyentuh aspek relasi sosial.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here