Resensi Buku: Hijrah itu Beragama dengan Ramah dan Gembira

0
47

Gelombang gerakan hijrah begitu populer di banyak kalangan, termasuk kalangan selebriti. Sebagian selebriti memutuskan berhijrah dan meninggalkan dunia hiburan. Mereka biasanya menampilkan banyak perubahan dalam hidupnya. Seperti kian rajin memperdalam agama hingga perubahan dalam hal berpakaian atau berpenampilan. Hijrah adalah hal yang positif bagi perjalanan orang dalam menjalankan perintah agama. Berhijrah berarti berpindah menuju keadaan yang semakin baik, semakin dalam, dan lurus dalam beragama.

Akan tetapi, tak jarang orang berhijrah hanya berhenti di penampilan dan ibadah saja. Sedangkan dalam hubungan dengan sesama, justru menjadi eksklusif. Bahkan, setelah berhijrah, ada juga yang menjadi berpikiran keras dan tak bisa menerima perbedaan. Atas nama jihad, kadang mereka mudah menyalahkan orang lain, bersikap intoleran, bahkan melakukan kekerasan. Hijrah yang seperti ini melahirkan fenomena beragama yang begitu eksklusif dan bahkan menyeramkan.

Hal tersebutlah yang digelisahkan Kalis Mardiasih lewat buku terbarunya ini. Sikap intoleran dan bahkan kekerasan dalam beragama, biasanya dipengaruhi narasi-narasi besar tentang jihad dan perang yang didapat dari guru atau ustad, maupun dari sumber-sumber di internet. Narasi tersebut membuat beragama menjadi dipenuhi kecurigaan, kebencian, amarah, dan hasrat penaklukan kepada yang berbeda.

Di awal, Kalis bercerita pernah mendapatkan broadcast di sosial media tentang video-video dengan visualisasi kuat yang mengisahkan Zaid, Ja’far, dan Ibnu Rowahah yang tangannya terpotong dan rela terbunuh demi mengibarkan bendera Ar-Royah dalam peperangan. Mendapatkan video tersebut, Kalis sedih. Ia khawatir orang-orang yang sedang belajar agama justru mendapatkan narasi seperti itu. Mereka yang seharusnya mendapatkan ketenangan dalam agama justru menjadi sumpek dan dipenuhi amarah.

Kalis memandang, dulu para sahabat membawa bendera dalam perang sebagai bentuk eksistensi di awal dakwah. Seperti juga dilakukan para kiai di zaman kolonial yang tak mau memakai celana karena tak mau disamakan dengan penjajah. Namun, mereka juga memperjuangkan keadilan dan mengembangkan pendidikan, tak sekadar menonjolkan simbol belaka. Sekarang, kondisinya berbeda. Kita sudah merdeka dan hidup di sistem sosial yang inklusif dalam sebuah negara Pancasila. Maka, tantangan umat Islam jelas berbeda.

Bagi Kalis, simbol-simbol eksistensi belaka tak akan sanggup menuntaskan berbagai tantangan besar kita hari ini. Seperti kesenjangan sosial, ekonomi, teknologi, penegakan hukum, dan sebagainya. Kata Kalis, kita butuh muslim yang berpikir, bukan muslim yang gagah pamer simbol, tapi tumpul di kedalaman.

Oleh karena itu, setiap kali ada artis hijrah yang menggebu-gebu menampilkan sikap politik terbarunya di media sosial, Kalis selalu merasa khawatir. Ketika postingan tersebut kemudian memancing kontroversi, biasanya si artis lalu melakukan klarifikasi didampingi ustad mereka dan meminta kepada publik untuk dimaklumi, karena baru berhijrah dan masih belajar. Dengan gemas, Kalis berujar, “Ya, kalau sadar dan merasa masih belajar, tolong, besok-besok jangan bikin kontroversi dulu, Bambwaaang!” (hlm xi).

Di tengah kondisi tersebut, Kalis mencoba lebih menekankan pada keberagamaan yang menyenangkan dan dipenuhi kedamaian. Lewat berbagai pengalaman beragama keseharian di masa kecil di kampung yang penuh kejujuran, kesederhanaan, dan kedamaian, Kalis mengajak kita belajar tentang beragama dengan menyenangkan dan lebih menekankan pada kebaikan pada sesama.

Misalnya, Kalis berkisah pengalaman masa kecil saat usia sekolah dasar. Saat itu, ia bersama teman-temannya selalu datang ke masjid kampung paling awal, bermain pemainan tradisional di halaman masjid, hingga biasa jajan di warung seorang janda Kristen yang ramah dan suka memberi bonus kerupuk. Di hari raya, anak beragama lain ikut berbaur dalam kegembiraan mengumpulkan angpau. Agama tumbuh bersama kegembiraan masa kanak-kanak, tanpa kecurigaan, apalagi kebencian. “Islam adalah tradisi pergaulan sehari-hari yang sangat halus sifatnya. Ia membaur tanpa perlu simbol-simbol,” tulis Kalis (hlm 3).

Kalis menghadirkan pengalaman tersebut sebagai refleksi dalam menyikapi fenomena Islam akhir-akhir ini yang bagi sebagain kalangan harus berupa imperium yang harus menakhlukkan orang lain melalui proses indoktrinasi, bahkan pemaksaan, demi “kemenangan Islam” atau “kejayaan Islam”. Kalis mengaku, Islam seperti itu bukan Islam dalam imajinasinya. Baginya, penakhlukan adalah narasi zaman purba. “Narasi masa kini adalah hidup berdampingan dan mengupayakan kebaikan-kebaikan untuk generasi berikutnya,” tulisnya (hlm 94).

Kalis juga mengungkapkan pentingnya Isam Indonesia untuk tampil. Kita tahu, sejak peristiwa 9/11 di Amerika Serikat dan peristiwa Charlie Hebdo di Prancis, serta viralnya video pemenggalan kepala yang dilakukan kelompok ekstremis ISIS, citra Islam menjadi seram di mata dunia. Di sinilah, Islam Indonesia yang ramah, damai, toleran, harus tampil. Islam yang menjadi mayoritas di Indonesia, terbukti mampu menjadi pengayom dan bisa hidup berdampingan dengan rukun bersama umat agama lain. Kalis menekankan, dunia harus tahu bahwa Islam tidak hanya diwakili oleh negara-negara yang sedang berkonflik.

Membaca buku ini semakin menyadarkan kita akan pentingnya sikap beragama yang ramah, moderat, dan berfokus pada bagaimana menyebarkan kebaikan kepada sesama manusia. Bukan beragama yang dipenuhi kebencian, amarah, dan kekerasan. Terlebih, kita hidup di bumi Indonesia dengan masyarakat majemuk, terdiri dari berbagai macam umat beragama. Maka, sikap yang lebih dibutuhkan adalah sikap saling menghormati. Hanya dengan saling menghormati dan menjaga persaudaraan, kita akan bisa bersama-sama mengatasi berbagai persoalan yang ada.

credit : islami.co

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here